Infrastruktur hijau dipandang sebagai pendekatan strategis berbasis alam untuk menjawab tantangan tersebut, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas dan distribusi penutupan vegetasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas penutupan lahan sebagai pondasi pengembangan infrastruktur hijau di Kota Samarinda. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif berbasis studi kasus spasial dengan memanfaatkan citra satelit PlanetScope tahun 2025, penginderaan jauh, dan sistem informasi geografis. Hasil interpretasi penutupan lahan diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama, yaitu hutan, vegetasi ruderal, lahan terkelola, dan matriks non-vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap Kota Samarinda didominasi oleh vegetasi ruderal (56,12%) dan matriks non-vegetasi (24,32%), sementara tutupan hutan hanya tersisa 0,57%, seluruhnya berupa hutan sekunder. Kondisi ini mencerminkan tingginya tingkat degradasi dan tekanan antropogenik akibat pertambangan dan ekspansi permukiman. Analisis terhadap alokasi ruang terbuka hijau (RTH) menunjukkan bahwa sebagian besar RTH berada pada kualitas vegetasi ruderal, sehingga fungsi ekologisnya belum optimal. Temuan ini menegaskan perlunya strategi rehabilitasi lahan, peningkatan tutupan vegetasi berkayu, dan restorasi koridor hijau sebagai dasar penguatan infrastruktur hijau untuk mendukung ketahanan iklim dan keberlanjutan Kota Samarinda.