Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Trailer K-Drama Moving dan Minat Menonton K-Drama di Disney+ Hotstar Rahmadani, Ririn; Abidin, Zainal; Utamidewi, Wahyu
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 11 No 1.A (2025): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The K-Drama "Moving" which is broadcast in August 2023, has received a lot of attention from K-Drama fans and has achieved extraordinary popularity. The purpose of this research is to investigates the influence of the k-drama Moving’s trailer on viewer’s interest in watching the entire series on Disney+ Hotstar. The theory used in this research is uses and gratifications theory, which assume that audiences actively select media to fulfill their needs. This research employs a quantitative explanatory research method to explain the relationship and impact between the variables. The findings reveal that the Intensity variable does not influence on the interest in watching the k-drama on Disney+ Hotstar with an influence value of -1.55%. In contrast, the Message Content and Attraction variables demonstrate a significant influence on viewers' interest in watching the k-drama on Disney+ Hotstar with influence values ​​for each variable of 9.59% and 31.82%.
Edukasi Penggunaan dan Penyalahgunaan Obat dengan Metode DAGUSIBU Dirgantara, Arya; Ridwan, Resky; Azizah, Nur; F, Kadek Karina; Rahayu, Ismi Sry; Rahmadani, Ririn; Sulastri, Mamiek; Fauziah, Nurul Ummi; Egi, Made; Nurkhalisa, Nurkhalisa; Arisandi, Irwan; Pratama, Eksal; Puspaningtyas, Retno; Hidayat, Arman; Masgode, Muhammad Buttomi; Purnama, Haerul; La Ode, Al Tafakur
Empowerment Vol. 7 No. 02 (2024): Empowerment
Publisher : Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/empowerment.v7i02.10704

Abstract

Penyalahgunaan obat dan penggunaan obat yang tidak tepat masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang signifikan di berbagai wilayah. Edukasi terkait penggunaan obat yang benar serta bahaya penyalahgunaan obat sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tentang DAGUSIBU (DApatkan, GUnakan, SImpan, dan BUang) bertujuan untuk memberikan edukasi kepada siswa sekolah tentang penggunaan obat yang aman dan bahaya penyalahgunaan obat. Metode yang digunakan dalam edukasi ini adalah melalui pembagian brosur, presentasi, dan diskusi interaktif. Sasaran kegiatan ini adalah siswa di SMA Negeri 1 Wolo Kecamatan Wolo Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman kepada siswa tentang penggunaan obat yang aman dan juga berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya penyalahgunaan obat. Kata kunci : Edukasi, obat, DAGUSIBU
ANALISIS MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF DALAM PANTUN PENOBATAN GELAR DATUK DI KUANTANSINGINGI: KAJIAN SEMANTIK Rahayu, Sri; Aulia, Selsi; Rahmadani, Ririn; Ramayani, Dani Arli; Ramadandika, Alfa; Syahira, Tasya Ayuni; Fino, Dhea Altha; Ramadhani, Suci
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 2 No. 2 (2026): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v2i2.1839

Abstract

Language is the primary means of communication and the transmission of local wisdom, especially in Malay society, which is rich in oral literary traditions such as pantun. The problem of this research is how the denotative and connotative meanings in the pantun for the coronation of the Datuk title in Kuantan Singingi. This study aims to describe and analyze both types of meanings. The method used is descriptive qualitative with data sources in the form of pantun texts resulting from interviews with native Kuantan Singingi residents who understand the traditional procession. Data collection techniques were carried out through interviews, listening, and taking notes, while data analysis used Abdul Chaer's semantic theory which focuses on the relationship between language forms and denotative and connotative meanings. The results of the study show that there are 16 data in eight pantun stanzas consisting of 8 denotative meanings and 8 connotative meanings. This is because each stanza is composed of a sampiran and a fixed pattern of content, where the sampiran describes concrete things that have denotative meanings and the content contains traditional messages that have connotative meanings. This balance occurs because, in the Malay tradition, pantun serves as both a medium for conveying messages and a linguistic aesthetic that demands harmony between form and meaning. This uniqueness lies in the balance between literal and symbolic meaning in each verse of the pantun conferring the title of Datuk in Kuantan Singingi.   Bahasa merupakan sarana utama komunikasi dan pewarisan kearifan lokal, terutama dalam masyarakat Melayu yang kaya akan tradisi sastra lisan seperti pantun. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana makna denotatif dan konotatif dalam pantun penobatan gelar Datuk di Kuantan Singingi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kedua jenis makna tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa teks pantun hasil wawancara dengan masyarakat asli Kuantan Singingi yang memahami prosesi adat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, simak, dan catat, sedangkan analisis data menggunakan teori semantik Abdul Chaer yang berfokus pada hubungan bentuk bahasa dengan makna denotatif dan konotatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 data dalam delapan bait pantun yang terdiri atas 8 makna denotatif dan 8 makna konotatif. Hal ini karena setiap bait tersusun atas sampiran dan isi yang berpola tetap, di mana sampiran menggambarkan hal konkret yang bermakna denotatif dan isi memuat pesan adat yang bermakna konotatif. Keseimbangan ini terjadi karena dalam tradisi Melayu pantun berfungsi sebagai media penyampaian pesan sekaligus estetika bahasa yang menuntut keselarasan bentuk dan makna. Inilah keunikannya, yaitu adanya keseimbangan antara makna literal dan simbolik dalam setiap bait pantun penobatan gelar Datuk di Kuantan Singingi.