Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Extrapolasi

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR TURNAROUND TERHADAP PEMBANGUNAN KAPAL BARU DENGAN METODE AHP Studi Kasus pada Turnaround di PT. PAL Indonesia (Persero) Surabaya Moetriono, Hary; Susanti, Nani Ari
EXTRAPOLASI Vol 5 No 02 (2012)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/exp.v5i02.816

Abstract

Salah satu kekhasan proyek yang ruang lingkupnya dinamis adalah proyek tersebut dapat berkurangataupun bertambah, bisa berurutan atau tidak. Sebagai contoh ketika saat pelaksanaan pekerjaan, ternyataunit yang diperiksa masih layak untuk digunakan, maka ditunda dulu pekerjaannya tersebut. Begitu pula bilapada suatu rangkaian unit produksi terdapat perbaikan yang harus didahulukan, walaupun tidak beradapada rangkaian unit yang pertama , maka harus dilakukan perbaikan terlebih dahulu. Tetapi dikarenakandari pihak perusahaan hanya menyediakan waktu yang sedikit, maka pengelolaan proyek pembangunankapal yang ruang lingkupnya dinamis tersebut harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Dalam studi kasusini, penulis menemukan proyek yang mempunyai ruang lingkup dinamis proyek turnaround di sebuahperusahaan galangan kapal. Pada proyek turnaround, kinerja yang paling diutamakan adalah mutu dansafety, baik selama proyek berlangsung, maupun setelah selesai dan digunakan oleh user. Dengan dibantumetode AHP untuk melakukan pembobotan resiko, kemudian melakukan korelasi uji konsistensi, diperoleh10 (sepuluh) faktor yang mempengaruhi pembangunan kapal baru pada proyek turnaround, yaitu: masihterdapat item-item yang belum masuk schedule dan keterlambatan material yang dibeli dari luar negeri.Adapun respon resiko yang diambil untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan adalah dengan mitigateyaitu melibatkan engineer kontraktor pada tahap detil perencanaan dan perancangan, dan transfer yaitumengalihkan kerugian atas keterlambatan material kepada pihak asuransi.Kata kunci: turnaround, dinamis, pihak asuransi
ANALISIS PERPANJANGAN RUNWAY BANDAR UDARA INTERNASIONAL ADI SOEMARMO SOLO JAWA TENGAH Hudhiyantoro, Hudhiyantoro; Moetriono, Hary; Suryani, Any
EXTRAPOLASI Vol 18 No 1 (2021)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/exp.v18i1.5209

Abstract

AbstractSolo City is one of the cities that has the largest airport in Central Java, namely Adi Soemarmo International Airport. Adi Soemarmo Airport has a runway length of 2600 m x 45 m. To make the city of Solo a hub in Java, where major cities outside Java, especially East and West Indonesia can land directly in Solo, Adi Soemarmo Airport requires development. Adi Soemarmo Solo Airport development is planned to add flight routes and international passengers (Source: http://www.dephub.go.id).Based on the results of calculations that refer to the International Civil Aviation Organization (ICAO) standard with Boeing 777-300ER and 747-100 planes, a runway length of 3,700 m is needed. For runway capacity, the annual demand of 31,676 operations per year is smaller than the annual service volume of 210,000 operations per year so that the runway capacity has not been exceeded.To determine runway pavement thickness using planes with the largest single wheel load, namely B747-100 so that B-777-300ER is not used. For pavement thickness using Equivalent Aircraft Method from FAA with CBR Method Flexible Pavement B-747-100 graph calculation. Results:The total pavement thickness is 31 in ? 89 cm, Surface thickness (P-403 HMA) of 5 in ? 13 cm, Base course thickness (P-304 Cement Treat Base) is 6 in ? 15 cm, The thickness of the subbase course (P-154 sub-course) is 24 in ? 61 cm. For the calculation of drainage, the result is a closed channel (pipe) with an inlet dimension of 0.25 m x 0.25 m with a distance between 50 m inlet. AbstrakKota Solo merupakan salah satu kota yang memiliki bandara terbesar di Jawa Tengah yaitu Bandara Internasional Adi Soemarmo. Bandara Adi Soemarmo memiliki panjang landasan pacu 2600 m x 45 m. Untuk menjadikan Kota Solo sebagai hub di Jawa yang kota-kota besar di luar Jawa khususnya Indonesia Timur dan Barat dapat mendarat langsung di Solo, Bandara Adi Soemarmo membutuhkan pembangunan. Pembangunan Bandara Adi Soemarmo Solo direncanakan untuk menambah rute penerbangan dan penumpang internasional (Sumber: http://www.dephub.go.id).Berdasarkan hasil perhitungan yang mengacu pada standar International Civil Aviation Organization (ICAO) dengan pesawat Boeing 777-300ER dan 747-100, dibutuhkan panjang landasan sepanjang 3.700 m. Untuk kapasitas runway, kebutuhan tahunan sebesar 31.676 operasi per tahun lebih kecil dari volume layanan tahunan sebesar 210.000 operasi per tahun sehingga kapasitas runway belum terlampaui.Untuk menentukan ketebalan perkerasan runway menggunakan pesawat dengan beban roda tunggal terbesar yaitu B747 -100 sehingga B-777-300ER tidak digunakan. Untuk ketebalan perkerasan menggunakan Metode Pesawat Udara Ekuivalen dari FAA dengan metode CBR Metode Perkerasan Fleksibel B-747-100 perhitungan grafik. Hasil:Ketebalan total perkerasan jalan adalah 31 inci ? 89 cm, Ketebalan permukaan (P-403 HMA) 5 in ? 13 cm,Ketebalan lapisan dasar (P-304 Cement Treat Base) adalah 6 inci ? 15 cm, Ketebalan dari subbase course (P-154 sub-course) adalah 24 inci ? 61 cm. Untuk perhitungan drainase didapatkan saluran tertutup (pipa) dengan dimensi inlet 0,25 m x 0,25 m dengan jarak inlet antara 50 m.
ANALISIS PERPANJANGAN LANDAS PACU (RUNWAY) DAN KOMPARASI BIAYA TEBAL PERKERASAN (Studi Kasus pada Bandar Udara Abdulrachman Saleh Malang) Moetriono, Hary; ., Suharno
EXTRAPOLASI Vol 5 No 01 (2012)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/exp.v5i01.811

Abstract

Runway merupakan elemen kunci infrastruktur bandar udara. Oleh karena itu perlu dilakukanperencanaan yang matang untuk mempertahankan fungsi dari fasilitas bandara tersebut selama umur rencana. Beberapa metode perencanaan perkerasan struktural yang paling banyak digunakan meliputi metode USCorporation Of Engineer yang lebih dikenal dengan metode CBR, metode FAA (Federal AviationAdministration), metode LCN dari Inggris, metode Asphalt Institute dan metode Canadian Departement OfTransportation. Akan tetapi tidak semua metode yang ada layak digunakan untuk setiap kondisi, karena ituperlu dilakukan analisa dan kajian yang seksama mengenai biaya yang berpengaruh pada keuntungan dankerugian atau akurasi dari masing-masing metode tersebut sesuai dengan kondisi Indonesia. tujuan daripenelitian ini adalah sebagai berikut: 1) mengetahui panjang runway optimal yang dibutuhkan padaperencanaan Bandara Abdulrachman Saleh Malang .2) mengetahui tebal perkerasan perpanjangan runwayyang dibutuhkan dengan menggunakan metode CBR,FAA dan LCN 3) mengetahui biaya yang dibutuhkanuntuk membangun perpanjangan runway. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsianalisis. Dari penelitian ini diperoleh beberapa kesimpulan 1) Panjang runway pesawat kritis Air Bus A319setelah dikoreksi terhadap elevasi, suhu, dan slope berdasarkan Aeroplane Reference Field Length (ARFL)adalah 2528 m, 2) Tebal perkerasan struktural total runway yang dihasilkan dari metode CBR adalah 68 cm,metode FAA adalah 68 cm sedangkan metode LCN adalah 73 cm karena perbedaan dari metode CBR, FAAdan LCN adalah tebal perkerasan yang berbeda karena dari segi parameter yang digunakan dimana metodeCBR, dan LCN hanya berdasarkan pesawat rencana saja sedangkan metode FAA berdasarkan lalu lintaspesawat campuran. 3) Estimasi biaya pembangunan perpanjangan runway dari hasil perhitungan perkerasanlentur dengan metode CBR, FAA dan LCN diperoleh biaya terendah memakai metode perkerasan lenturFAA yaitu Rp. 4.212.004.400 rupiahKata kunci : Runway, Perkerasan, Biaya