Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Adaptation of Islamic Law in the Dutch Colonial Era: Fiqh al-aqalliyyāt, Maqasid Al-Shariah, and Its Legacy for Modern Indonesian Islamic Legal Institutions Zaini, Ahmad; Ridho, M. Zainor; Muttaqin, E. Zaenal; Yussof, Hilmy Baihaqy
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 23, No 2 (2025)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v23i2.2758

Abstract

This study examines the dynamics of Islamic jurisprudence (Fiqh al-aqalliyyāt) during the Dutch colonial period in Indonesia, with a focus on the role of Maqasid al-Shariah (Islamic principles) in guiding the adaptation of Islamic law amidst the dominance of colonial law. In a situation where Muslims were in a minority position politically and in power, Islamic law underwent a process of negotiation and adjustment, both through religious court institutions and social-religious practices in society. This study employs a historical-comparative approach to examine the interaction between Islamic law and colonial law, and to investigate its long-term implications for the structure and functioning of contemporary Islamic legal institutions in Indonesia. The results show that the adaptation of Islamic law in the colonial era was driven not only by the need to maintain the identity and continuity of sharia but also by considerations of benefit in line with the principles of Maqasid al-Shariah. This historical legacy has had a profound influence on the modern Islamic legal framework, both in its institutional aspects and in the legal substance that remains applicable to this day.
Relasi Kuasa Presiden dalam Membangun Theocratic Constitusionalism di Indonesia Tabrozi, Dhika; Ridho, M. Zainor
Journal Politique Vol. 6 No. 1 (2026): January
Publisher : Prodi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/politique.2026.6.1.59-78

Abstract

Tulisan ini fokus mengungkap relasi kuasa Presiden dalam membangun konsep theocratic constitusionalism di tengah masyarakat multikultural. Islam sebagai agama terbesar di Indonesia dengan pengikut terbanyak pada persentase 87.08% pada tahun 2024 menurut pelaporan Kemendagri menunjukkan eksistensi masyarakat muslim dalam berkuasa di Indonesia. Dua pertanyaan pokok yang diajukan mengenai peran pemimpin negara beragama Islam dalam melegitimasi hukum Islam ke dalam hukum nasional dalam mewujudkan negara theocratic constitusionalism dan implikasi yang ditimbulkan apabila syariat Islam dijadikan pedoman bernegara. Melalui metode pendekatan kualitatif dengan analisis legal reasoning pada data primer dan sekunder yang telah dikumpulkan untuk menghasilkan argumentasi baru dalam menjawab rumusan masalah yang diajukan. Data primer yang digunakan berupa UUD 1945, Undang-Undang mengenai positivisasi hukum Islam, dan konsep theocratic contitusionalism. Adapun sumber sekunder berupa artikel jurnal, website kredibel, dan pendapat ahli mengenai gagasan theocratic contitusionalism. Hasil penelitian ini menemukan relasi kuasa Presiden dalam memberlakukan syariat Islam pada negara agama dengan upaya legitimasi hukum Islam, tercermin pada masa orde lama, orde baru, reformasi, hingga era kontemporer-kini memiliki potensi dalam mengaktualisasi konsep teokrasi konstitusional. Namun, tidak dinafikan konsolidasi pada elit partai politik agar para perwakilannya yang duduk di lembaga negara bersepakat dalam memasifkan konsep theocratic contitusionalism. Implikasi pemberlakuan negara teokrasi konstitusional di Indonesia menyebabkan eskalasi perpecahan antar umat beragama, sikap apatisme, radikalisme, bahkan disintegrasi bangsa. Maka, pertimbangan disintegrasi bangsa, dependensi negara, dan ekstremisme pemeluk agama menjadi tolak ukur Presiden dalam memformalisasi hukum Islam secara total dalam negara.