Niken Wardani
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

AKULTURASI TRADISI PANCEN DAN SIKAP KEAGAMAAN UMAT BUDDHA DALAM MENDUKUNG TUMBUHNYA KARAKTER BANGSA Niken Wardani
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 5 No. 1 (2019): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7423.667 KB) | DOI: 10.53565/pssa.v5i1.44

Abstract

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah Untuk mengetahui bagaimana pengaruh tradisi pancen terhadap sikap keagamaan umat Buddha di Vihara Purwa Manggala, dan untuk untuk mengeutahui bagaimana tradisi pancen mendukung tumbuhnya karakter bangsa yang religious di Vihara Purwa Manggala, Dukuh Plukisan, Desa Sumbung, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan case studies (studi kasus). Penelitian kasus adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi secara mendalam, mendetail, intensif, holistik, dan sistematis tentang orang, kejadian, social setting (latar sosial), atau kelompok dengan menggunakan berbagai metode dan teknik serta banyak sumber informasi untuk memahami secara efektif bagaimana orang, kejadian, latar alami (social setting) itu beroperasi atau berfungsi sesuai dengan konteksnya. Pengaruh tradisi pancen terhadap sikap keagamaan umat Buddha dukuh Plukisan adalah bahwa tradisi pancen telah menjadi jatidiri dari masyarakat umat Buddha dukuh Plukisan. Tradisi yang sudah berjalan secara turun temurun tersebut mempengaruhi sikap keagamaan masyarakat umat Buddha dukuh Plukisan sebagai suatu tatanan yang teraplikasi melalui tingkah laku, sikap dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang ada dalam ajaran agama Buddha, karena tradisi pancen tersebut berjalan dan sejalan dengan ajaran agama Buddha yang dianut oleh umat Buddha dukuh Plukisan. Tradisi pancen mendukung tumbuhnya karakter bangsa yang religius masyarakat umat Buddah dukuh Plukisan adalah bahwa dalam melaksanakan tradisi pancen ini hal yang utama adalah adanya kepercayaan atas apa yang dilakukan. Masyarakat memilik rasa percaya bahwa melaksanakan tradisi pancen ini adalah suatu hal yang baik dan benar sesuai dengan naluri/warisan leluhur, dan juga sejalan dengan ajaran dalam agama Buddha, atau tidak bertentangan dengan ajaran agama Buddha. Selanjutnya sikap percaya tersebut didulung oleh sikap jujur dan ikhlas dalam melaksanakannya, selalu menepati janji dengan selali niteni/titen terhadap hari geblak para leluhur, dan kesetiaan terhadap eksistensi atau keberadaan para leluhur tersebut.
STRATEGI TOKOH AGAMA BUDDHA DALAM MENYIKAPI PASCA KONFLIK ROHINGYA (STUDI KASUS DI KECAMATAN JUMO KABUPATEN TEMANGGUNG) Susiyanti; Tri Yatno; Niken Wardani
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 4 No. 2 (2018): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.228 KB) | DOI: 10.53565/pssa.v4i2.98

Abstract

Konflik krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar membawa dampak di negara tetangga termasuk Indonesia. Muncul rasa tidak nyaman dan kurangnya pemahaman terhadap konflik Rohingya. Hal ini yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis sikap umat Buddha menanggapi penilaian masyarakat sekitar, dan strategi tokoh agama Buddha dalam memberikan penyuluhan dan pembinaan menyikapi pasca konflik Rohingya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dengan metode kualitatif pendekatan studi kasus yang dilakukan di Kecamatan Jumo Kabupaten Temanggung pada bulan Maret-Mei 2018. Tehnik penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah sikap umat berperilaku baik dan menjaga tutur kata, saling menghargai sesama manusia, tidak membeda-bedakan dalam bermasyarakat, menjaga solidaritas, diskusi bertukar pemahaman agama, taat pada aturan pemerintah serata menjaga kesetabilan di masyarakat dan temuan lain tentang strategi yang digunakan oleh tokoh agama Buddha dalam menyikapi pasca konflik Rohingya yaitu dengan cara smotthing (penghalusan) yang dilakukan dengan strategi dari tokoh agama Buddha yaitu sikap pertisipasi, sosialisai, berfikir positif, motivasi dan edukasi.
PERAN ALIANSI MASYARAKAT ADAT NUSANTARA (AMAN) DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI ADAT KOMUNITAS PEMARU (Studi Kasus di Dusun Baru Murmas, Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara) Murtini; Lery Prasetyo; Niken Wardani
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 4 No. 2 (2018): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.087 KB) | DOI: 10.53565/pssa.v4i2.100

Abstract

Terancamnya eksistensi adat komunitas pemaru menjadi alasan peneliti untuk melakukan penelitian tentang peran Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan peran Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dalam mempertahankan eksistensi adat Komunitas Pemaru di Dusun Baru Murmas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pendekatan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Ferbuari sampai Juli. Tempat penelitian dilakukan di Dusun Baru Murmas Desa Bentek Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara. Data dalam penelitian kualitatif ini dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan trianggulasi. Teknik analisis data mengacu pada konsep Milles & Huberman. Hasil penelitian ini menunjukan deskripsi peran AMAN dalam mempertahankan eksistensi adat komunitas Pemaru yaitu sebagai berikut: (1) Peran AMAN dalam kemartabatan dalam budaya seperti: terawatnya situs-situs adat, terjaga tata krama adat, kepercayaan diri melalui alat musik tradisional, termasuk nilai-nilai dan norma adat. (2) Peran AMAN dalam kemandirian ekonomi yaitu masyarakat adat komunitas Pemaru dapat berproduksi untuk memenuhi kebutuhan pribadi tidak bergantung pada orang lain dalam menjalankan persoalan ekonomi melalui koprasi dan organisasi gemuh daya dalam mengelola dan mempertahankan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di adat komunitas Pemaru. (3) Peran AMAN dalam kedaulatanberpolitik yaitu pemerintah tidak mengklaim bahwa hutan adat yang ada di adat komunitas Pemaru bukan atas milik negera melainkan hak paten adat komunitas Pemaru.
PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL DAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP MORAL REMAJA BUDDHIS DI KECAMATAN PONGGOK KABUPATEN BLITAR Hana Prastila Raxsa; Tri Yatno; Niken Wardani
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 4 No. 2 (2018): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.807 KB) | DOI: 10.53565/pssa.v4i2.101

Abstract

Moral decline in teenagers can be seen from the number of delinquency cases committed byjuveniles. The cause of the decline of moral teens can be influenced by the environmental community andparenting parents. Community environmental impacts on teenagers because teenagers do every dayinteraction with the surrounding environment. While parents are a major factor in giving moral education inthe family environment. Based on the observation of social and environmental researchers parenting parentshave an influence on the moral formation of adolescents. It is what lies behind the researcher to conductresearch in order to determine how much influence the social environment and upbringing of parents toadolescent moral Buddhist. This study used quantitative research methods to a survey conducted in theDistrict Ponggok Blitar June-September 2016. Subjects in this study were young Buddhist in DistrictPonggok. Instruments and techniques of data collection is done by using a questionnaire. Data wereanalyzed using SPSS versoin 15. Based on the research and analysis of the data showed that the influence ofsocial environment on adolescent moral Buddhists in Sub Ponggok amounted to 0,293. The influence ofparenting parents on adolescent moral Buddhist in Sub Ponggok at 0,170. While the influence of the socialenvironment and upbringing of parents to adolescent moral Buddhists in Sub Ponggok of 0,626.
Filsafat Tinjauan Filsafat Moral Immanuel Kant Terhadap Perzinaan Dalam Pancasila Buddhis: Tinjauan Filsafat Moral Immanuel Kant Terhadap Perzinaan Dalam Pancasila Buddhis Niken Wardani Niken
Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/abip.v3i2.217

Abstract

Perzinahan dipandang dari aspek religious merupakan perbuatan yang melanggar sila ke-3 dari Pancasila Buddhis yaitu: “Aku bertekad untuk melatih diri menghindari perbuatan perzinahan”. Syarat suatu perbuatan disebut sebagai perzinahan adalah: 1) ada objek pelanggaran (perbuatannya); 2) si pelanggar (pelaku); 3) sarana fisik yang siap sebagai kondisi untuk pemuasan nafsu itu (pasangan dalam melakukan perbuatan itu); dan 4) tindakan itu) terpenuhi atau terlaksana. Perbuatan perzinahan disebabkan oleh adanya keterikatan pada objek (lobha) dan kebodohan batin (moha), dan dipengaruhi oleh bentuk pikiran buruk (Akusala-cetasika) yaitu Ahirika (tidak malu berbuat jahat), dan Anottappa (tidak takut akan akibat berbuat jahat). Sehingga akibat dari perbuatan perzinaahn adalah memiliki musuh, tidak disukai semua orang, adanya rasa takut, adanya kecenderungan untuk jenis kelamin perempuan atau jenis kelamin netral pada kehidupan berikutnya. Dan secara sebagian besar perbuatan perzinahan dapat mendorong seseorang terlahir di alam setan (Peta) dan raksana (Asurakaya) apabila dengan kekuatan Lobha yang memimpin, dan terlahir di alam binatang (Tiracchanayoni) dengan kekuatan Moha yang mendominasi. Capaian filsafat moral Immanuel Kant, bahwa perbuatan perzinahan adalah perbuatan yang tidak bermoral karena perbuatan itu tidak membuat manusia menjadi baik tetapi sebaliknya membuat hidup manusia menjadi tidak baik. Sehingga hal itu harus diperangi dengan menjalankan aturan moralitas yang apriori atau wajib dilaksankan supaya kehidupan manusia menjadi baik. Pelaksanaan sila yang didasari oleh kehendak yang kuat yaitu tekad untuk kebaikan diri manusia itu sendiri (an sich). Sila dilaksanakan sebagai kewajiban dengan tanpa syarat dan tanpa pamrih, murni dan a priori, murni untuk kewajiban itu. Dan hal ini sebagai bentuk penyelarasan manusia dengan Allah, dengan melaksanakan moralitas yang dilandasi oleh tekad yang tanpa syarat sebagai sebuah kewajiban hidup
EKSISTENSI PEMUDA THERAVADA INDONESIA (PATRIA) KABUPATEN TEMANGGUNG DALAM MEMPERTAHANKAN KEYAKINAN REMAJA BUDDHIS Frizcorian Bodhi Pratama; Niken Wardani; Marjianto
NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa Vol. 1 No. 1 (2020): Nivedana : Jurnal Komunikasi & Bahasa
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/nivedana.v1i1.142

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keberadaan Patria Kabupaten Temanggung dalam mempertahankan keyakinan remaja Buddhis. Kurangnya keyakinan remaja Buddhis di wilayah Temanggung menjadi alasan peneliti untuk melakukan penelitian tentang Eksistensi Pemuda Theravada (Patria) Kabupaten Temanggung dalam Mempertahankan Keyakinan Remaja Buddhis.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik untuk memeriksa keabsahan data, yaitu dengan menggunakan teknik triangulasi.Hasil penelitian menunjukkan Eksistensi Pemuda Theravada Indonesia (Patria) Kabupaten Temanggung dalam Mempertahankan Keyakinan Remaja Buddhis belum maksimal, faktanya banyak remaja Buddhis yang malas pergi ke vihara, mengikuti kegiatan agama dan Patria. Sedangakan faktor yang mempengaruhi yaitu, niat (Cettana), semangat (Viriya), dan kesadaran (Sati). Hal ini menyebabkan keyakinan remaja Buddhis pada Tri Ratna rendah, sehingga akan berdampak pada perpindahan agama.