Alhaa, Dewi
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FILOSOFI NILAI – NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM BUDAYA “RUWATAN CUKUR BAJANG” DI DUSUN PAWOTAN, DESA KALIWUNGU, KECAMATAN BRUNO, KABUPATEN PURWOREJO Alhaa, Dewi
Al Ghazali Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : STAINU Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan budaya ruwatan cukur bajang, unsur-unsur pendidikan Islam dan nilai filosofis pendidikan Islam yang terdapat didalam budaya ruwatan cukur bajang di dusun Pawotan, desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. fokus penelitian yang akan dikaji sesuai dengan rumusan masalah yaitu (1) bagaimana pelaksanaan budaya ruwatan cukur bajang di dusun Pawotan, Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo?, (2) bagaimana unsur-unsur pendidikan Islam dalam budaya ruwatan cukur bajang di dusun Pawotan, Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo?, (3) bagaimana nilai filosofis pendidikan Islam dalam budaya ruwatan cukur bajang di dusun Pawotan, Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa didalam pelaksanaan ruwatan cukur bajang terdapat akulturasi budaya yaitu budaya agama Islam dan budaya jawa kemudian didalam unsur-unsur pendidikan Islam dalam budaya ruwatan cukur bajang adalah peserta didik (anak yang di bajang rambutnya), guru (orang tua), tujuan dan materi pendidikan Islam meliputi : Akidah, Ibadah dan akhlak. Kemudian nilai filosofis pendidikan Islam dalam budaya ruwatan cukur bajang adalah budaya sebagai pranata pendidikan, terdapat pendidikan moral lingkungan (hubbul alam) dan juga dari aspek aksiologi pendidikan Islam yang terdapat dalam budaya ruwatan cukur bajang yaitu Hablum min Allah, Hablum Min An-nas dan Hablum min Alam.
Gender Equality In Women's Jurisprudence According To Husein Muhammad And Its Relevance To The Goals Of Islamic Religious Education Fahrub, Abdul Wahab; Alhaa, Dewi; Achadi, Muhammad Wasith
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 8 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.499 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v8i1.1604

Abstract

This research begins with the lack of public understanding of gender and gender equality. These opinions are found in several books by Husein Muhammad, causing gender injustice (marginalization, subordination, stereotypes, double burdens, and violence) which often afflicts women who become victims. This research discusses the concept of gender equality in women's fiqh according to Husein Muhammad and discussing the relevance of the concept of gender equality in women's fiqh to the objectives of Islamic religious education. This study aims to determine the concept of gender equality in women's fiqh according to Husein Muhammad and to determine the relevance of the concept of gender equality in women's fiqh to the goals of Islamic religious education. This research uses a type of research, character thought to study using library research. Data collection techniques in this study are documentation and interviews with figures. The data analysis used is content analysis. The results of this study are first:  the concept of gender equality in women's fiqh according to Husein Muhammad is an idea or idea consisting of some knowledge, namely about gender understanding, gender bias and gender roles which always emphasizes that the need for a women's fiqh decision in a well-social reality, economics, and politics. Women's fiqh consists of women's fiqh in the household, women's fiqh in worship, women's fiqh in marriage, women's fiqh in family health and women's fiqh in politics. The concept of the paradigm of feminism according to Husein Muhammad is to use the idea of ​​tauhid in gender relations, the principles of maqasid syari'ah and the methodology of interpreting a gender perspective. Second: the relevance of the concept of gender equality in women's fiqh according to Husein Muhammad with the aim of Islamic religious education are: (a) a dimension of faith that is relevant to the idea of ​​tauhid of gender  between men and women, (b) a dimension of that is relevant to that women play an active role in the mind intellectually, (c) the dimension of understanding that is relevant to that women be able to understand the meaning of gender and actualize it, (d) the dimensions of practice that are relevant to women be able to play an active role in the domestic and public sphere, and (e) the dimensions of appropriate values with the principles of maqasid syari’ah.   Keywords: Gender Equality, Women's Fiqh, Religious Education
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Tafsir As-Shawi dan Refleksi Hierarki Psikologi Maslow Alhaa, Dewi
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 9, No 2 (2025): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61689/inspirasi.v9i2.932

Abstract

Kisah Israiliiyat memang menarik untuk selalu dibahas dalam kitab Hasyiyatu As-Shawi Kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail pada QS. Assaffat ayat 100-107 mengisahkan kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya yaitu nabi Ismail kemudian kisah ini dapat dianalisis menggunakan hierarki kebutuhan Maslow, yang terdiri dari lima tingkatan: kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Dalam kisah ini, kebutuhan fisiologis Nabi Ismail dipenuhi melalui mukjizat mata air Zamzam, sementara kebutuhan keamanan diuji melalui perintah penyembelihan. Aspek sosial terlihat dalam hubungan erat antara ayah dan anak yang dilandasi keimanan, sedangkan penghargaan tercermin dalam penghormatan umat Islam terhadap ketakwaan mereka. Puncaknya, aktualisasi diri Nabi Ibrahim tercapai melalui kepasrahan total kepada Allah, yang menjadi tujuan tertinggi manusia dalam Islam. Analisis ini menunjukkan bahwa keimanan kepada Allah melampaui hierarki kebutuhan manusia dan membawa kepada ketenangan serta penghargaan sejati.