p-Index From 2021 - 2026
0.778
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Multikultura
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

REPRESENTASI KEPERCAYAAN JEPANG DI NEGARA VIRTUAL INAZUMA DALAM VIDEO GAME GENSHIN IMPACT Kusuma, Gusti Wisnu Pio; Janti, Ilma Sawindra
Multikultura Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Unsur-unsur budaya dewasa ini sering kali dimasukan ke dalam sebuah video game, hal ini dilakukan dengan beberapa alasan seperti misalnya untuk mempromosikan budaya tersebut, atau menggunakan budaya tersebut sebagai bagian dari konten untuk menambah daya tarik sebuah video game. Genshin Impact merupakan salah satu video game yang memasukan unsur-unsur budaya beberapa negara populer sebagai bagian dari kontennya. Budaya tersebut diwujudkan ke dalam negara-negara fiksi yang ada di dalam Genshin Impact, seperti misalnya Mondstadt yang merepresentasikan Jerman, Liyue yang merepresentasikan Cina, dan Inazuma yang merepresentasikan Jepang. Penelitian ini menganalisis bagaimana unsur-unsur kepercayaan Jepang direpresentasikan di Inazuma di dalam Genshin Impact. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan melakukan observasi pada video game, dan studi kepustakaan untuk melihat budaya Jepang yang ada di dalam Genshin Impact untuk kemudian dianalisis menggunakan teori Representasi Reflektif menurut Stuart Hall (1977). Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya representasi reflektif unsur-unsur kepercayaan Jepang di dalam Genshin Impact, yaitu shinto. Hal tersebut dapat dilihat pada unsur-unsur shinto yang pada pada fitur atau konten di Inazuma, unsur tersebut adalah miko, kuil shinto/ jinja, omamori, dan kitsune. Tanda-tanda yang menunjukan representasi reflektif pada konten atau fitur tersebut ada pada nama, visual, dan peran dari fitur tersebut di dalam game.
CHANOYU DAN PATEHAN TRADISI MINUM TEH DUA NEGARA BERBEDA Billah, Alfitazki Aulia; Dariana, Sabila Bunga; Janti, Ilma Sawindra
Multikultura Vol. 1, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebudayaan merupakan identitas setiap negara. Salah satu kebudayaan yang masih melekat di banyak negara yaitu, tradisi minum teh, termasuk Jepang dan Indonesia. Di Jepang, tradisi minum teh itu dikenal dengan Chanoyu (茶の湯). Sedangkan di Indonesia, khususnya di daerah Keraton Yogyakarta menyebut tradisi minum teh dengan Patehan. Meskipun keduanya merupakan tradisi minum teh, namun ada perbedaan-perbedaan dalam pelaksanaan serta latar belakang pemikirannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu mencari data berupa bahan pustaka lalu mendeskripsikannya, untuk kemudian dianalisis. Hasil dari penelitian ini adalah bagaimana Chanoyu dan Patehan memiliki banyak perbedaan, seperti dalam makna, unsur yang mendominasi, alat yang digunakan serta tujuan, namun kedua tradisi minum teh dari dua negara yang berbeda ini merupakan ritual sakral dengan makna mendalam bagi tiap negara.
FEMININITAS GEISHA DALAM GEISHA, A LIFE KARYA IWASAKI MINEKO Indriani, Kaninda Rizki; Janti, Ilma Sawindra
Multikultura Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geisha, sebagai salah satu pelaku seni yang menjadi ikon kebudayaan Jepang merupakan seseorang yang memiliki kemampuan dan keterampilan dalam bidang keseninan, terutama kesenian tradisional Jepang yang bekerja untuk menghibur orang lain berdasarkan kesenian yang mereka kuasai. Sebagai seorang geisha, femininitas merupakan hal yang harus dimiliki. Menurut Angela McRobbie, femininitas merupakan sebuah bagian dari ideologi dominan yang berperan untuk mendefinisikan kehidupan wanita. Femininitas ini dapat dilihat dari penampilan, cara berbicara, dan cara bertindak seorang geisha. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana femininitas geisha direpresentasikan dalam autobiografi yang berjudul Geisha, a Life karya Iwasaki Mineko dan Rande Brown. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan potongan kalimat hingga paragraf dalam autobigrafi yang dianggap berkaitan dengan penelitian. Potongan kalimat akan diambil dari autobiografi Geisha, a Life karya Iwasaki Mineko dan Rande Brown. Konsep femininitas berdasarkan pengertian dari Angela McRobbie. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa femininitas geisha direpresentasikan oleh Iwasaki Mineko melalui cara berpakaian yaitu dengan memakai pakaian tradisional Jepang, kimono, cara berbicara yaitu dengan menggunakan dialek Gion serta cara bertindaknya yaitu dengan memperhatikan cara berjalan, pembawaan, dan ekspresi yang diperlihatkan.
ANALISIS MONO NO AWARE DALAM FILM ANIMASI KONO SEKAI NOKATASUMI NI KARYA SUNAO KATABUCHI Syahidah, Fathia Aufa; Zaki, Thufail Akhdan; Janti, Ilma Sawindra
Multikultura Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mono no awareness yang terdapat dalam film “Kono Sekai no Katasumi ni” atau “In This Corner of the World” dengan bantuan teori mise en scène. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode analisis deskriptif. Lima adegan dengan empat belas foto terlampir dari film ini digunakan sebagai sampel data untuk analisis. Hasil analisis yang diperoleh menunjukkan bahwa seluruh data yang diambil dari film tersebut mengandung mono no awareness di dalamnya. Mise en scène yang terdapat dalam adegan tersebut sebagian besar memiliki pencahayaan lembut (matahari) yang memberikan kesan lembut dan sedih pada adegan tersebut. Secara setting, seluruh adegan yang dianalisis menggambarkan kondisi Jepang dalam peperangan. Adapun properti yang digunakan, seperti buku gambar dan pensil, oleh karakter Suzu Hojō (Urano) menjadi aspek penting dalam penceritaan film ini. Berbagai jenis mise en scène seperti properti lain, kostum, warna, dan ekspresi, serta dialog atau monolog yang tidak termasuk dalam mise en scène juga memiliki peran yang cukup membantu analisis mono no awareness dalam film. . Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis mise en scène, terdapat sejumlah refleksi konsep mono no awareness yang ditemukan dan dideskripsikan dalam film ini.