Suhadi Suhadi
Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Makna Dilahirkan Kembali Bagi Orang Percaya Masa Kini Suhadi Suhadi; Andreas Sese Sunarko
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.98

Abstract

Being born again or being born again is one of the important teachings (doctrines) of Christianity. Being born again or being born again is the most radical effect of God's work on the sinner's response to accepting God's redemptive work through Jesus Christ. The new birth is something that must be experienced by every person because it has a tremendous impact on his life, namely someone who is born again or is born again has the potential to see and enter the kingdom of God, become a new creation and gain the status of a child of God. But there are people who don't understand this. Through this paper the writer wants to describe using qualitative methods with a literature study approach. So it can be concluded that the contribution of being born again or the experience of being born again or being born again is important and must be experienced by believers because it has an impact on the eternal value of seeing and entering the kingdom of God. Kelahiran baru atau dilahirkan kembali merupakan salah satu pengajaran (doktrin) yang penting dalam kekristenan. Kelahiran baru atau dilahirkan kembali merupakan dampak pekerjaan Allah yang paling radikal atas respons orang berdosa dalam menerima karya penebusan Allah melalui Yesus Kristus. Kelahiran baru merupakan hal yang harus dialami oleh setiap orang karena membawa dampak yang luar biasa dalam hidupnya yaitu seseorang yang dilahirkan baru atau dilahirkan kembali mendapatkan potensi untuk melihat dan masuk dalam kerajaan Allah, menjadi ciptaan baru dan mendapatkan status sebagai anak Allah. Namun ada orang-orang yang belum memahami hal ini. Melalui tulisan ini penulis ingin mendeskripsikan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kontribusi kelahiran baru atau pengalaman dilahirkan kembali merupakan hal penting dan harus dialami oleh orang percaya karena berdampak pada nilai kekekalan yaitu melihat dan masuk dalam kerajaan Allah.
Alkitab di Era Society 5.0: Soft Copy atau Hard Copy Melvin Berlianno Setiawan; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.365

Abstract

AbstractPeople is currently in the era of society 5.0, which makes human life inseparable from digital technology. The influence of digitalization also occurs in the use of the Bible, which makes people less likely to bring physical Bible to church. Even Church’s Preachers also began to preach using gadgets rather than the physical Bible. Although the use of the digital Bible dates back decades, it is still a matter of debate among Christians today. Some people think that the hard copy Bible is holier than the soft copy Bible. This research is a library research of the sanctity of the Bible in relation to the medium of writing the Bible which is seen from a historical perspective. The soft copy Bible is the latest technological development, just as the hard copy Bible is also the development of modern printing technology. The sanctity of the Bible is not judged by the medium used, because both use a different medium from the original Bible which in its writing uses the medium of stone, clay, ostraca, papyrus, parchment and vellum. Rather it is the authority of the Bible that comes from the inspiration of God (theopneustos) that determines the sanctity of the Bible.Keywords: softcopy Bible; hardcopy Bible; Bible’s sanctityAbstrakMasyarakat saat ini sedang berada di era society 5.0, yang membuat kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan teknologi digital. Pengaruh digitalisasi juga terjadi dalam penggunaan Alkitab, yang membuat masyarakat cenderung tidak lagi membawa buku Alkitab ke gereja. Bahkan Pemberita Firman di gereja juga mulai meninggalkan Alkitab berbentuk buku dan menggunakan gawai (gadget) untuk berkhotbah. Walaupun penggunaan Alkitab digital sudah dimulai sejak beberapa dekade yang lalu, tetapi hingga saat ini hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan Kristen. Sebagian orang menganggap bahwa Alkitab dalam bentuk buku (Alkitab hard copy) lebih suci dibandingkan dengan Alkitab digital (Alkitab soft copy). Penelitian ini merupakan studi kepustakaan mengenai kesucian Alkitab dalam kaitannya dengan media penulisan Alkitab yang dilihat dari aspek sejarah. Alkitab soft copy merupakan perkembangan teknologi mutakhir, demikian pula Alkitab hard copy juga merupakan perkembangan teknologi percetakan modern. Kesucian Alkitab tidak dinilai dari media yang digunakan, karena keduanya menggunakan media yang berbeda dengan Alkitab aslinya yang dalam penulisannya menggunakan media batu, tanah liat, ostraka, papirus, perkamen dan vellum. Melainkan otoritas Alkitab yang berasal dari ilham Allah (theopneustos) yang menentukan kesucian Alkitab.Kata-kata kunci: Alkitab softcopy; Alkitab hardcopy; kesucian Alkitab
Alkitab di Era Society 5.0: Soft Copy atau Hard Copy Melvin Berlianno Setiawan; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.365

Abstract

AbstractPeople is currently in the era of society 5.0, which makes human life inseparable from digital technology. The influence of digitalization also occurs in the use of the Bible, which makes people less likely to bring physical Bible to church. Even Church’s Preachers also began to preach using gadgets rather than the physical Bible. Although the use of the digital Bible dates back decades, it is still a matter of debate among Christians today. Some people think that the hard copy Bible is holier than the soft copy Bible. This research is a library research of the sanctity of the Bible in relation to the medium of writing the Bible which is seen from a historical perspective. The soft copy Bible is the latest technological development, just as the hard copy Bible is also the development of modern printing technology. The sanctity of the Bible is not judged by the medium used, because both use a different medium from the original Bible which in its writing uses the medium of stone, clay, ostraca, papyrus, parchment and vellum. Rather it is the authority of the Bible that comes from the inspiration of God (theopneustos) that determines the sanctity of the Bible.Keywords: softcopy Bible; hardcopy Bible; Bible’s sanctityAbstrakMasyarakat saat ini sedang berada di era society 5.0, yang membuat kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan teknologi digital. Pengaruh digitalisasi juga terjadi dalam penggunaan Alkitab, yang membuat masyarakat cenderung tidak lagi membawa buku Alkitab ke gereja. Bahkan Pemberita Firman di gereja juga mulai meninggalkan Alkitab berbentuk buku dan menggunakan gawai (gadget) untuk berkhotbah. Walaupun penggunaan Alkitab digital sudah dimulai sejak beberapa dekade yang lalu, tetapi hingga saat ini hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan Kristen. Sebagian orang menganggap bahwa Alkitab dalam bentuk buku (Alkitab hard copy) lebih suci dibandingkan dengan Alkitab digital (Alkitab soft copy). Penelitian ini merupakan studi kepustakaan mengenai kesucian Alkitab dalam kaitannya dengan media penulisan Alkitab yang dilihat dari aspek sejarah. Alkitab soft copy merupakan perkembangan teknologi mutakhir, demikian pula Alkitab hard copy juga merupakan perkembangan teknologi percetakan modern. Kesucian Alkitab tidak dinilai dari media yang digunakan, karena keduanya menggunakan media yang berbeda dengan Alkitab aslinya yang dalam penulisannya menggunakan media batu, tanah liat, ostraka, papirus, perkamen dan vellum. Melainkan otoritas Alkitab yang berasal dari ilham Allah (theopneustos) yang menentukan kesucian Alkitab.Kata-kata kunci: Alkitab softcopy; Alkitab hardcopy; kesucian Alkitab
Makna Sola Fide bagi Kehidupan Orang Percaya Masa Kini Welem Novi Watunglawar; Suhadi Suhadi
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i1.426

Abstract

Doktrin sola fide yang dihidupkan kembali oleh Martin Luther (1483-1546) lahir di akhir periode abad pertengahan dan menjelang abad pencerahan yang secara konteks sosial memiliki perbedaan dengan masyarakat abad 21, perbedaan ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana doktrin sola fide abad ke 15-16 masih memiliki makna dan relevansi dengan orang Kristen abad ke-21? Tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan “apakah makna sola fide bagi pergumulan kehidupan orang percaya masa kini?”. Tulisan ini berusaha untuk menunjukkan bahwa ajaran sola fide masih memiliki makna yang relevan bagi orang Kristen masa kini. Tulisan ini akan menyoroti empat isu yang dihadapi oleh orang Kristen modern yaitu isu pluralisme agama, antinomianisme, kerinduan akan autentisitas eksistensialis, dan legalisme. Pertanyaan penelitian dari tulisan ini akan dijawab dengan mendeskripsikan pemikiran Martin Luther tentang sola fide dengan menguraikan konteks kehidupan Martin Luther dan ide-ide dasar yang membentuk gagasan Luther tentang sola fide. Ide-ide dasar yang dibahas yaitu ajaran Luther tentang dosa, anugerah, pembenaran dan perbuatan baik, pembenaran oleh iman. Kemudian menarik relevansi doktrin sola fide dengan kehidupan Kristen masa kita dengan cara menyoroti empat isu utama yaitu pluralisme agama, antinomianisme, kerinduan akan autentisitas eksistensialis, dan legalisme. Dengan demikian akan dapat dilihat bagaimana makna doktrin sola fide bagi kehidupan orang percaya masa kini.
Bahaya Higher Criticism terhadap Ineransi Alkitab dalam Kehidupan Orang Percaya Masa Kini Benaya Dwi Cahyono; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 2 (2024): Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i2.455

Abstract

The teaching of the inerrancy of the Bible is important for all believers to understand because it relates to the foundation for the Christian faith. The Bible is a reference for believers in making decisions when facing doubts about Faith. If the foundation is not strong, it can be ascertained that there is a wrong decision making. Rejecting the doctrine of inerrancy can result in the denial of other Christian doctrines. The problem that occurs is the rejection of the innocence of the Bible, especially among the Higher Criticism. But the existence of the Bible is still recognized and believed by Christians today. In understanding this writing, quantitative methods are used with literature studies by examining various representative sources related to the issue of inerrancy based on the Higher Criticism’s view of the Inerrancy of the Bible.
Karya Keselamatan Dalam Kristus Berdasarkan Surat Kolose 1:14, 20, 22 Bagi Orang Percaya Masa Kini Stepanus Stepanus; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 2 (2024): Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i2.427

Abstract

When God created Adam and Eve the first humans, they were created in God's image without any stain of sin in them. As time went on, the first human Adam and Eve finally fell into sin because of their own choice, they had violated God's command by eating the fruit of knowledge that was forbidden to eat so that humans became sinners. But because of God's great love for sinful mankind (John 3:16), God sent Jesus Christ to come into the world to save mankind from sin. By the saving work of Jesus Christ human sins are forgiven by God. Through this paper the author wants to describe by using qualitative methods with a literature study approach. So that it can be concluded that the work of Jesus Christ in the salvation of mankind, Christ redeems, reconciles and sanctifies humans from sin, so that believing humans are free from the penalty of eternal death. Implementation for believers of the work of salvation that is done by Jesus Christ, the believer perseveres in his faith in Jesus Christ and remains firm in the hope of receiving eternal life.Pada waktu Allah menciptakan Adam dan Hawa manusia pertama, mereka diciptakan segambar dengan Allah tanpa ada noda dosa dalam diri mereka.  Seiring berjalannya waktu, Adam dan hawa manusia pertama itu akhirnya jatuh dalam dosa oleh karena pilihan mereka sendiri, mereka telah melanggar perintah Allah dengan memakan buah pengetahuan yang dilarang untuk dimakan sehingga manusia menjadi berdosa.  Tetapi oleh karena kasih Allah yang besar kepada manusia berdosa (Yoh. 3:16), sehingga Allah mengutus Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa.  Oleh karya keselamatan Yesus Kristus  dosa manusia diampuni oleh Allah.   Melalui tulisan ini penulis ingin mendeskripsikan dengan menggunkan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa karya Yesus Kristus dalam keselamatan umat manusia, Kristus menebus, mendamaikan dan menguduskan manusia dari dosa, supaya manusia yang percaya terbebas dari hukuman kematian yang kekal.  Implementasi bagi orang percaya atas karya keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, orang percaya bertekun dalam imannya kepada Yesus Kristus dan tetap teguh dalam pengharapan akan menerima hidup yang kekal. 
Sumbangsih Bukti-bukti Arkeologi Alkitab dalam Membangun Iman Percaya Masa Kini Lumayan Maya Siringoringo; Suhadi Suhadi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 2 (2024): Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v6i2.566

Abstract

This study examines the role of archaeological evidence in strengthening the Christian faith today. Amid rampant doubt and skepticism, archaeological discoveries offer historical verification and contextualization of biblical stories. This research reviews important archaeological discoveries related to people, places, and events in the Bible. This evidence demonstrates the historical accuracy of the Bible and strengthens confidence in the stories it contains. Furthermore, this study discusses how archaeological findings allow Christians to better understand and appreciate the meaning of sacred texts. Although archaeology cannot prove all aspects of the Christian faith, it offers valuable tools for strengthening faith and combating doubt. By connecting the Bible with physical evidence, archaeology helps build bridges between past and present, allowing Christians to connect with the heritage of their faith more deeply. Penelitian ini mengkaji peran bukti arkeologi dalam memperkuat iman Kristen di masa kini. Di tengah maraknya keraguan dan skeptisisme, penemuan arkeologi menawarkan verifikasi sejarah dan kontekstualisasi kisah-kisah Alkitab. Penelitian ini meninjau penemuan arkeologi penting yang terkait dengan orang, tempat, dan peristiwa dalam Alkitab. Bukti-bukti ini menunjukkan keakuratan historis Alkitab dan memperkuat kepercayaan terhadap kisah-kisah yang terkandung di dalamnya. Lebih lanjut, penelitian ini membahas bagaimana temuan arkeologi memungkinkan umat Kristiani untuk lebih memahami dan menghargai makna teks suci. Meskipun arkeologi tidak dapat membuktikan semua aspek iman Kristen, ia menawarkan alat berharga untuk memperkuat iman dan memerangi keraguan. Dengan menghubungkan Alkitab dengan bukti fisik, arkeologi membantu membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini, memungkinkan umat Kristiani untuk secara lebih mendalam terhubung dengan warisan iman mereka.
Pendidikan Kristiani Kontekstual dengan Pedekatan Dialogue of Being dalam Membangun Kebersamaan sebagai Anak Bangsa Yermia Tri Putri; Suhadi Suhadi
SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 2: Agustus 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/sikip.v2i2.95

Abstract

 This research writes about contextual Christian education with a dialogue of being approached to create togetherness as children of the nation. This study uses a qualitative method with specificity to the literature review. Through the dialogue of being approached, the current dialogue approach, the achievement of togetherness as a child of the nation. The main problems of the diversity of the Indonesian people are, among others: inter-ethnic conflict, inter-racial conflict, inter-religious conflict, and inter-group conflict. Contextual Christian Education with a dialogue of-being approach helps Christian educators to educate students to become students who can be present amid society to be light and salt in the spirit of togetherness to create unity and oneness. Through a contextual critical education approach with a dialogue being approached, several conclusions were obtained. First, Christian education must be designed contextually to make it easier for students to understand every content taught. Second, Jesus is a great teacher who also teaches contextually. Third, contextual Christian education is understood in various principles, including the following: a) Christian education must be adapted to the context of the conditions of the people in Indonesia who hold fast to togetherness and diversity but uphold unity and unity b) Contextual Christian education must be accepted in all circles. Age. c) Christian education is not rigid but dynamic, implementing, and applicable. d) Contextual Christian education must provide radical transformation and change.  AbstrakPenelitian ini menulis tentang Pendidikan Kristiani kontekstualitas dengan pendekatan dialog of being-dialog menjadi- demi terciptanya kebersaamaan sebagai anak bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sepesifik kepada kajian pustaka. Melalui pendekatan dialog of being, pendekatan dialog yang kekinian, maka tercapainya kebersamaan sebagai anak bangsa. Masalah utama keberagaman  bangsa Indonesia adalah antara lain: konflik antar suku, konflik antar ras, konflik antar agama, konflik antar golongan. Pendidikan Kristiani Kontekstual dengan pendekatan dialog of being, menolong para pendidik Kristen untuk mendidik anak didik menjadi siswa-siswi yang dapat hadir ditengah masyarakat menjadi terang dan garam didalam semangat kebersamaan menciptakan persatuan dan kesatuan. Melalui pendekatan Pendidikan kritiani kontekstual  dengan pendekatan dialog of being, maka diperoleh beberapa kesimpulan antara lain: Pertama, Pendidikan Kristen harus didesain secara kontekstual guna memudahkan peserta didik memahami dan mengerti setiap konten yang diajarkan didalamnya. Kedua, Yesus adalah guru sang agung yang juga mengajar secara kontekstual. Ketiga, Pendidikan Kristen yang kontekstual dipahami dalam berbagai prinsip antara lain sebagai berikut: a) Pendidikan Kristen harus disesuaikan dengan konteks kondisi masyarakat di Indonesia yang memegang teguh kebersamaan dan keberagaman namun menjunjung kesatuan dan persatuan b) Pendidikan Kristen kontekstual harus dapat di terima di semua kalangan usia. c) Pendidikan Krsten adalah Pendidikan yang tidak kaku, tetapi Pendidikan yang dinamis, impelementasi dan aplikatif. d) Pendidikan Kristen kontekstual harus memberikan trasnformasi dan  perubahal yang radikal.  Pendidikan Kristiani Kontekstual; Dialogue of being;Kebersamaan anak bangsa