Pernando, Erik
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DINAMIKA KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN KEBIASAAN IBADAH ANAK DI DESA TANJUNG BUNGA KABUPATEN LEBONG Pernando, Erik; Yusro, Ngadri; Wanto, Deri
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 12 (2025): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i12.2025.4572-4582

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas dinamika keluarga dalam membentuk kebiasaan ibadah anak di Desa Tanjung Bunga, Kabupaten Lebong. Latar belakang penelitian adalah adanya lingkungan sosial religius yang seharusnya mendukung praktik keagamaan anak, namun pola pengasuhan keluarga tidak selalu konsisten. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dinamika keluarga muslim dalam membentuk kebiasaan sholat dan mengaji, menganalisis faktor pendukung serta penghambat, dan menggali strategi keluarga dalam menanamkan kebiasaan ibadah. Metode yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta analisis data model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika keluarga meliputi peran orang tua, waktu bersama anak, konsistensi, keteladanan, serta pengaruh pekerjaan orang tua. Kebiasaan ibadah anak terlihat dari kemampuan sholat, membaca Al-Qur’an, dan minat mengaji. Strategi keluarga dalam pembiasaan ibadah antara lain memberi teladan, membiasakan sejak dini, menjadikan ibadah rutinitas, menciptakan lingkungan religius, menggunakan pendekatan positif, media edukatif, aturan, reward, serta melibatkan anak dalam ibadah. Faktor pendukung antara lain keterlibatan orang tua, lingkungan religius, fasilitas dan kegiatan keagamaan, serta dukungan sekolah. Faktor penghambat meliputi kurangnya konsistensi orang tua, pengaruh teknologi, rendahnya kesadaran anak, keterbatasan tenaga pengajar, dan minimnya program dari pemerintah desa.