Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : MANUSKRIPTA

Naskah-Naskah Nusantara di EFEO Paris: Catatan Pendahuluan Gunawan, Aditia
Manuskripta Vol 5 No 1 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i1.39

Abstract

This article provides brief notation to the list of manuscripts collections available in École Français d’Extrême-Orient (EFEO) library. The library has 25 ancient nusantara manuscripts as collection. These manuscripts came from four different region of manuscript traditions, i.e.: Bali (17 manuscripts), Batak (3 manuscripts), Java (2 manuscripts), and Sasak (5 manuscripts). The text contained in the manuscripts are written in the letter and language of Batak, Javanese, Sasak, and Malay. Most of EFEO manuscript collection has no colophon describing year of the manuscript were written nor copied. But, most of the manuscripts were supposed to be written in the late 19th century until the 1950s. The origins of the manuscripts are not very clear. However, 7 out of 25 manuscripts were able to be traced. One script is derived from Jakarta as the donation from Pierre Yves Manguin on 21 May 1979 and six manuscript were derivedfrom Cakranagara (Lombok) as donation from Jacques Dumarçay on 8 September 1999. === Artikel ini memberikan catatan singkat atas daftar koleksi naskah yang ada di Perpustakaan Ecole Français d’Extrême-Orient (EFEO) Paris. Koleksi naskah kuno nusantara yang ada di tempat ini berjumlah 25 naskah. Naskah-naskah ini berasal dari empat wilayah tradisi naskah yang berbeda, yaitu Bali (15 naskah), Batak (3 naskah), Jawa (2 naskah), dan Sasak (5 naskah). Teks yang terdapat dalam naskah ini ditulis dalam aksara dan bahasa Batak, Jawa, Jawa Sasak, dan Melayu. Sebagaian besar naskah koleksi EFEO ini tidak memiliki kolofon yang mencantumkan angka tahun penulisan atau penyalinan. Akan tetapi, diperkirakan sebagian besar naskah ini ditulis dari akhir abad ke-19 sampai tahun 1950-an. Asal-usul naskah-naskah ini tidak terlalu jelas. Akan tetapi, dari 25 naskah ada tujuh naskah yang dapat ditelusuri asal-usulnya. Satu naskah berasal dari Jakarta merupakan sumbangan Pierre Yves Manguin pada tanggal 21 Mei 1979 dan enam naskah berasal dari Cakranagara (Lombok) sumbangan Jacques Dumarçay pada tanggal 8 September 1999.
Produksi Naskah dan Mistisisme Aksara dalam Bhīma Svarga Gunawan, Aditia
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.55

Abstract

As in other parts of Asia, the figure of Bhīma also been cult in Java. The popularity of this figure has been recorded in the spread of archaeological heritages such as inscriptions, statues, and reliefs, as well as textual legacies by Bhīma as the main character. The text that is discussed in this article, Bhīma Svarga, is one version of which 'might' contain the oldest text. This text was written in the 16th century and has never been satisfactorily studied. This text contains a dialogue between Bhaṭāra Guru and Bhīma who wants to save his father, Pāndu, from hell. All of Bhaṭāra Guru’s questions can be answered perfectly. The Bhīma’s answers is the core of the text, the doctrines of Śivaisme with many aspects of cosmological and philosophical. This article introduces the manuscript sources containing the text of Bhīma Svarga from the scriptorium of West Java that has been ignored in terms of Bhīma Svarga’s manuscript tradition in Bali. Additionally, this article also provides an overview of the production of manuscripts and meanings of the scripts at the time the text was written. === Seperti di belahan Asia yang lain, tokoh Bhīma pernah dikultuskan di Jawa. Popularitas tokoh ini terekam dalam sebaran peninggalan arkeologis seperti prasasti, arca, dan relief, maupun peninggalan teks-teks dengan Bhīma sebagai tokoh utama. Teks yang didiskusikan dalam artikel ini, Bhīma Svarga, merupakan salah satu versi yang ‘mungkin’ mengandung teks tertua. Teks ini ditulis pada abad ke-16 dan belum pernah diteliti secara memuaskan. Teks ini berisi dialog antara Bhaṭāra Guru dan Bhīma yang hendak menyelamatkan ayahnya, Pāndu, dari neraka. Semua pertanyaan dari Bhaṭāra Guru bisa dijawab dengan sempurna. Jawaban-jawaban Bhīma inilah yang menjadi inti dari teks, yaitu doktrin-doktrin Śivaisme serta aspek kosmologis dan filosofisnya yang kaya. Artikel ini memperkenalkan sumber-sumber naskah yang berisi teks Bhīma Svarga dari skriptorium Jawa Barat yang selama ini diabaikan dalam kaitannya dengan Bhīma Svarga dari tradisi pernaskahan Bali. Selain itu, artikel ini juga memberikan gambaran mengenai produksi naskah dan pemaknaan terhadap aksara pada masa teks tersebut ditulis.