Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL CURERE

KAJIAN MENGENAI FAKTOR PENYEBAB DAN RESPON MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK PROSTITUSI DI OBJEK PARIWISATA BUKIT LAWANG Krista Surbakti; Permai Yudi
JURNAL CURERE Vol 4, No 2 (2020): VOL 4 NO 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Quality

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36764/jc.v4i2.473

Abstract

PSK (Penjajah Seks Komersial)  atau wanita pelacur adalah wanita yang menjual tubuhnya untuk memuaskan seksual laki-laki siapapun yang menginginkannya, dimana wanita tersebut menerima sejumlah uang atau barang (umumnya dengan uang dari laki-laki pemakainya). Dalam kehidupan sekarang ini keberadaan PSK atau sering disebut WTS ( Wanita Tuna Susila) merupakan fenomena yang tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat Indonesia akan tetapi keberadaan tersebut ternyata masih menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Hal tersebut mungkin sampai sekarang belum ada jawaban yang dirasa dapat mengakomodasi konsep pekerja seks komersial itu sendiri. Hal ini sebagian besar disebabkan karena mereka tidak dapat menanggung biaya hidup. Prostitusi disini bukanlah semata-mata merupakan gejala pelanggaran moral tetapi merupakan suatu kegiatan perdagangan. Kegiatan prostitusi ini berlangsung cukup lama, hal ini mungkin disebabkan karena dalam prakteknya kegiatan tersebut berlangsung karena banyaknya permintaan dari konsumen terhadap jasa pelayanan kegiatan seksual tersebut maka semakin banyak pula tingkat penawaran yang ditawarkan. Jika dilihat dari pandangan yang luas, kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya yang dilakukan pekerja seks komersial adalah suatu jaringan perdagangan yang melibatkan banyak pihak. Jaringan perdagangan ini juga membentang dalam wilayah yang lebih luas, yang kadang-kadang tidak hanya didalam suatu negara tetapi beberapa negara.Oleh sebab itu perlu diakui bahwa eksploitasi seksual, pelacuran dan perdagangan manusia semuanya adalah tindakan kekerasan terhadap perempuan dan karenanya merupakan pelanggaran martabat perempuan dan juga merupakan pelanggaran berat hak azasi manusia. Jumlah perempuan pekerja seks meningkat secara dramatis diseluruh dunia karena sejumlah alasan ekonomis, sosial dan kultural. Dalam kasus-kasus tertentu perempuan yang terlibat telah mengalami kekerasan patologis atau kejahatan seksual sejak masa anak, lainnya terjerumus agaar dapat memenuhi nafkah yang mencukupi bagi diri sendiri atau keluarganya, beberapa mencari sosok ayah atau relasi cinta dengan seorang pria, lainnya lagi karena untuk melunasi hutang. Banyak diantara mereka memasuki dunia prostitusi karena asumsi bahwa pekerjaan yang ditawarkan akan mengubah hidup mereka.
PEMANFAATAN LOKALISASI PROSTITUSI UNTUK PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) Krista Surbakti; Permai Yudi
JURNAL CURERE Vol 3, No 2 (2019): VOL 3 NO 2 TAHUN 2019
Publisher : Universitas Quality

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36764/jc.v3i2.251

Abstract

This research aims to explain the benefits of prostitution localization if it is managed well by the regional government as part of the source of local revenue but in terms of the moral and ethical aspects of the community. The background of this research is because the government is unable to overcome prostitution problems in the region and this problem has long been unable to be resolved and becomes a controversial issue within the community, then the government can take positive and cooperative attitudes by utilizing it as a source of local revenue. This research was conducted in Bandar Baru Village. Deli Serdang Regency where prostitution often occurs in this environment but is not a localization of prostitution, in the sense that prostitution activities in the village are illegal and do not contribute significantly to the local treasury. The data collection technique used is Observation where observation is a way of seeing or observing an event from the outside to the inside and then describing it exactly as what is seen and observed. Observation is not limited to vision (visual), but the experience gained from hearing. The observation made was participation observation. Observation of participation with the technique "part time participant observer" was chosen so that researchers can be directly involved in the field without having to stay in the field. Thus the data can be obtained objectively and planned.