Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Learning Second Language Acquisition for The Children in 3-5 Years Old Nasution, Anggita Bella Afrilla; Br Perangin-angin, Alemina
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerolehan bahasa kedua adalah pembelajaran yang dipelajari setelah bahasa ibunya. Mengekspos anak-anak untuk mempelajari penguasaan bahasa kedua memungkinkan mereka tertarik mempelajari potensi bahasa lain, membantu membentuk otak. Data penelitian ini dari tiga anak berusia tiga hingga lima tahun. Penelitian ini menggunakan penelitian observasi, wawancara dan pencatatan. Penelitian kualitatif adalah proses penyelidikan pemahaman berdasarkan tradisi metodologis penyelidikan yang berbeda yang mengeksplorasi masalah sosial atau kemanusiaan (Creswell, 2014). Temuan penelitian ini pertama, anak-anak yang belajar bahasa kedua dapat berbicara bahasa ibu juga dan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Kedua, penggunaan audiovisual dalam pembelajaran bahasa kedua oleh orang tua membuat anak tertarik karena dapat membantu anak meningkatkan kreativitas, rasa percaya diri dan kemudahan mengakses ilmu pengetahuan.
Manjae Oral Tradition: An Anthropolinguistic Study of The Tobanese Community In North Sumatra Sialagan, Gratia; Br Perangin-angin, Alemina; Pujiono, Mhd
JL3T (Journal of Linguistics, Literature and Language Teaching) Vol 11 No 2 (2025): JL3T Vol. XI No. 2 2025
Publisher : UPT. Pengembangan Bahasa IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/jl3t.v11i2.12348

Abstract

Study explores the manjae tradition of the Batak Toba Toba community as a form of oral cultural expression that integrates language, ritual, and social values. Positioned within the framework of anthropolinguistics, the research investigates how customary speech, gestures, and symbolic materials function as performative acts that signify social transition, particularly following marriage. Using a qualitative ethnographic approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and textual documentation, with analysis guided by Spradley’s ethnographic model and speech act theory. The findings reveal that manjae comprises distinct ritual stages—mamio, core ceremonial activities, and manjalangi—each rich in structured speech and symbolic performance. Expressions such as “Horas ma dihita sasudena” and “Hamuna ma situtupi adatmuna” reflect layered functions of advice, blessing, and identity affirmation. The study highlights how elements like ulos, proxemic arrangements, and kinetic gestures reinforce social legitimacy and cultural continuity. In doing so, this research contributes to the understanding of oral tradition not merely as storytelling, but as a dynamic system of communication and cultural inheritance. It also underscores the urgency of preserving manjae amidst sociocultural change, offering a significant contribution to the fields of linguistic anthropology and cultural heritage studies.