Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Membaca Terminologi Tasawuf Dalam Kitab At-Tafsīr Al-‘Irfānī Li Al-Qur’ān Al-Karīm: Kajian Atas Huruf-Huruf Muqaṭṭa‘āt Haqqi, Abdul; Zaky Mubarak, Ahmad; Irawan, Bambang
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 7 No. 1 (2025): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v7i1.46939

Abstract

This study discusses the explanation of the muqaṭṭa‘āt letters found in at-Tafsīr al-‘Irfānī li al-Qur’ān al-Karīm. This work contains a symbolic interpretation of the disconnected letters opening certain surahs, highlighting the richness of the Qur'an's linguistic expression and the depth of meaning it holds. Letters such as alif lām mīm, ṭā hā, and kāf hā yā ‘ain ṣād are understood not merely as meaningless letter combinations, but as containing spiritual and reflective messages that lead to a deeper understanding of the revelation. This research finds that the explanation of the muqaṭṭa‘āt letters in at-Tafsīr al-‘Irfānī emphasizes both linguistic aspects and semantic values that expand the horizons of Qur'anic exegesis. This work serves as evidence that these letters have rhetorical and theological functions in affirming the majesty of the Qur'an. Thus, at-Tafsīr al-‘Irfānī makes an important contribution to the discourse of exegesis by integrating rational explanations and symbolic meanings, opening an interpretive space that is not only textual but also contemplative.
PROBLEMATIKA PEMBAYARAN UANG PANJAR DALAM SISTEM JUAL BELI KUNYIT PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM: Studi Kasus di Desa Bandilan Prajekan Bondowoso haqqi, Abdul; Dwi Dasa Suryantoro
Al-Qawaid : Journal of Islamic Family Law Vol 2 No 1 Desember 2023
Publisher : Al-Qawaid Research Centre of the Department of Islamic Family Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52491/qowaid.v2i1.102

Abstract

Jual beli panjar (‘urbun) adalah jual beli dengan memberikan sebagian uang kepada penjual sebagai bentuk keseriusan dan tanda jadi pembeli dalam suatu transaksi. Jual beli dengan sistem panjar telah menjadi kebiasaan masyarakat desa Bandilan Prajekan, khususnya dalam jual beli Kunyit. Berdasarkan kenyataan yang ada, transaksi tersebut mengandung unsur kebathilan karena petani melakukan cidera janji dan dari pihak pembeli tidak jelas kapan akan melunasi sisa pembayaran. Topik bahasan dalam ppenelitian ini adalah praktik jual beli kunyit dengan sistem panjar serta dampak positif dan negatif sebagai akibat dari praktik jual beli kunyit dengan sistem panjar. Penelitian yang dilakukan penulis tergolong dalam jenis penelitian empiris, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan mengobservasi, wawancara, dan dokumentasi. Langkah yang dilakukan untuk menganalisis data dalam penelitian ini yaitu redaksi data, paparan atau sajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Proses transaksi jual beli panjar dilakukan secara langsung antara petani dan pembeli setelah mendekati masa panen. Dalam transaksi ini, tidak ada patokan harga untuk besaran uang panjar yang harus diberikan, bahkan dalam perjanjian tersebut hanya berupa perjanjian lisan tanpa bukti otentik seperti kwitansi. Salah satu dampak positif jual beli kunyit dengan system panjar adalah mempermudah Pembeli dalam membeli hasil panen Kunyit (tanpa butuh uang banyak) dan mempermudah petani dalam mendapatkan pembeli kunyit tanpa mencari, karena pembeli kunyit yang datang atas inisiatifnya sendiri. Di sisi lain, hal ini dapat menimbulkan perselisihan dan kerugian materi apabila jual beli tidak terselesaikan atau gagal karena beberapa faktor seperti, pembeli tidak mempunyai cukup uang untuk melunasi sisa pembayaran, petani mengalihkan hasil panen kunyit untuk dibeli orang lain, dan lain sebagainya.
Artificial Intelligence and the Ethics of Tafsir: Integrating Digital Technologies and Islamic Humanities in Automating Interpretative Processes Umar, Ahmad; Haqqi, Abdul; Rojihisawal, Faisal; Fitrah AR, Muhammad Dzul; Dewi, Deshinta A; Adnan, Abdulkareem
Journal of Educational Technology and Learning Creativity Vol. 3 No. 2 (2025): December
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jetlc.v3i2.2496

Abstract

Purpose of the study: This study examines the multidisciplinary integration of Artificial Intelligence (AI), ethics, and interpretive studies in the context of Qur'anic exegesis (Tafsir). Methodology: A systematic literature review and critical analysis mapped the intersection of AI technologies and Tafsir studies. Data were collected from Scopus and ProQuest using relevant keywords. Selected literature was thematically analyzed to identify opportunities, challenges, and ethical issues. Comparative insights from other religious traditions contextualized findings within broader humanities and digital ethics perspectives and emerging interdisciplinary scholarship across academic contexts. Main Findings: AI techniques, particularly Natural Language Processing (NLP) and machine learning, hold considerable potential to enhance the efficiency, scalability, and accessibility of Qur'anic exegesis by processing large corpora of Tafsir, detecting patterns, and suggesting new interpretive pathways. At the same time, the study identifies critical risks, including data and model bias, reduction of interpretive depth, and the reconfiguration of scholarly authority and interpretive legitimacy. Key ethical concerns involve transparency, accountability, and safeguards against decontextualized or misleading interpretations that may conflict with established Islamic scholarly norms. Novelty/Originality of this study: This article proposes a cross-disciplinary framework integrating AI, Islamic studies, and ethics to conceptualize algorithmic Tafsir within digital Islamic humanities. It aligns AI’s technical capacities with Islamic ethical and hermeneutical principles, emphasizing collaborative governance among scholars. The study contributes to debates on responsible AI use and provides a structured foundation for future interdisciplinary research in Islamic digital scholarship.