Salah satu sistem irigasi pengambilan bebas yang ada di Indonesia adalah intake Kalibawang, sungai Progo, Yogyakarta. Salah satu permasalahan yang terjadi pada intake Kalibawang Adalah debit yang masuk ke intake tersebut berada di bawah kebutuhan minimum yaitu 7 m3/detik, fenomena ini terjadi akibat perubahan morfologi sungai di sekitar intake karena lokasinya yang berada pada tikungan luar sehingga dasar sungai di depan intake mengalami gerusan pada saat megaliri debit tinggi. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menentukan elevasi ambang pengambilan optimal untuk meningkatkan debit aliran yang masuk ke intake dengan pertimbangan kondisi sedimen yang dapat masuk ke intake. Analisis dilakukan dengan pemodelan numerik Delft3D 4-Flow menggunakan debit andalan (Q80%) sungai Progo sebesar 23,09 m3/detik dan waktu simulasi selama 16 hari. Variasi pemodelan dilakukan dengan penurunan bertahap sebesar 10 cm pada elevasi ambang intake. Hasil simulasi menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara penurunan elevasi ambang terhadap peningkatan debit yang masuk dengan debit maksimum yang dapat dihasilkan adalah 10,1 m3/detik dan konsentrasi sedimen layang di intake sebesar 2,82655 kg/m3. Berdasarkan analisis komparatif disimpulkan bahwa solusi optimal penurunan elevasi ambang intake sebesar 30 cm, yaitu dari +157 m menjadi +156,7 m. Elevasi ambang rencana ini mampu menghasilkan debit sebesar 7,9 m3/detik yang telah memenuhi kebutuhan debit operasional intake. Temuan ini merekomendasikan penyesuaian elevasi ambang intake pada bangunan pengambilan bebas Kalibawang sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan ketersediaan air irigasi. Kata Kunci: Optimalisasi Debit, Elevasi Ambang Intake, Debit Andalan, Konsentrasi Sedimen, Irigasi Kalibawang, Delft3D