Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Literature Review: Efektifitas Juice Therapy Dalam Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi Annisa; Nur , Kinantika; Heryyanoor
Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika) Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika)
Publisher : Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58550/jka.v11i1.313

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang umum terjadi pada lansia dan menjadi faktor risiko utama terjadinya berbagai komplikasi pada kardiovaskular. Perawatan hipertensi umumnya dilakukan dengan terapi farmakologis dan non-farmakologis. Salah satu pendekatan non-farmakologis yang semakin banyak dikaji yaitu konsumsi jus buah dan sayur yang kaya akan kalium, antioksidan, dan senyawa bioaktif yang dapat membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efektivitas terapi jus dalam menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi berdasarkan kajian literatur. Studi ini menggunakan metode literature review dengan menelusuri berbagai jurnal ilmiah nasional dan internasional yang relevan. Artikel yang digunakan dipilih berdasarkan kriteria inklusi, seperti penelitian yang membahas konsumsi jus buah dan pengaruhnya terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi dalam rentang 5 tahun terakhir. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk meninjau mekanisme kerja, jenis buah yang efektif, serta hasil penelitian terkait. Berdasarkan hasil telaah literatur, didapatkan sebanyak 8 artikel yang direview, dimana, jus semangka, jus mentimun dan jus seledri menunjukkan efektivitas dalam menurunkan tekanan darah dengan penurunan terbanyak sebanyak 40 mmHg sistolik dan 20 mmHg diastolik pada jus semangka. Kandungan kalium, flavonoid, dan nitrat dalam buah-buahan ini berperan dalam vasodilatasi pembuluh darah serta pengurangan stres oksidatif, yang berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Namun, efektivitas terapi ini bergantung pada durasi konsumsi, dosis, serta pola diet secara keseluruhan. Terapi jus dapat menjadi alternatif tambahan yang efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain studi yang lebih kuat untuk memastikan dosis optimal, durasi konsumsi, serta interaksi dengan terapi medis lainnya.
PENCEGAHAN STUNTING BERBASIS KOMUNITAS MELALUI PEMBERDAYAAN KADER Triyanto, Endang; Dewanti, Kinantika Nur; Khanifah, Febi; Arsita, Nurul; Dewinta, Prestistya Crystal; Setiawati, Lusi; Fatah, Najib; Saputri, Fefinda Dian; Damayanti, Magista Ade; Muliyani, Anna; Murianti, Titin; Hotimah, Oti Nurul; Zaenudin, Arif
Jurnal of Community Health Development Vol 6 No 1 (2025): Vol 6 No 1 (2025): Journal Of Community Health Development terbitan bulan Januari
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jchd.2025.6.1.15828

Abstract

Background: Stunting remains a significant public health issue in Indonesia, with a national prevalence of 21.6% in 2022, far exceeding the WHO threshold of 20%. Preventing stunting requires a more holistic approach, including community empowerment, particularly involving health cadres. One potential intervention for children at risk of stunting is acupressure therapy, which is believed to enhance appetite, improve digestion, and strengthen immunity. Rationale for Topic Selection: This socialization program is crucial due to the relatively high number of toddlers at risk of stunting in Karangturi Village. Educating the community, particularly health cadres, about acupressure therapy as a method to improve appetite and digestion is important for stunting prevention. Methods: The methods employed in this outreach activity included health education, discussions, and live demonstrations. Objective: The primary objective of this activity was to empower health cadres in Karangturi Village through education and training in acupressure therapy as a community-based strategy for stunting prevention. Results: The evaluation showed a significant improvement in the cadres' knowledge of stunting prevention and acupressure therapy, as reflected in the post-test scores, which increased from 80% to 100%. Moreover, the cadres were able to successfully demonstrate the acupressure techniques they had been taught. Conclusion: This program effectively strengthened the cadres' capacity to deliver non-pharmacological interventions to prevent stunting within the community. It also fostered greater community involvement, especially among pregnant women and mothers of toddlers, in stunting prevention efforts. Despite challenges such as low participant attendance, the program proved to be effective and has the potential to be implemented sustainably in other villages as a model for community-based stunting prevention.