Waruwu, Erlina
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Studi Eksegesis “Sudah Selesai” Berdasarkan Yohanes 19.30 dan Implikasinya terhadap Pelayanan Misi Waruwu, Erlina; Gulo, Eki Firman Cahaya
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.771

Abstract

In the beginning, God created humans in His image and likeness. However, humans prefer to disobey and rebel against God. Because of one person's disobedience, all of humanity was contaminated by this sin (Rom. 3:23). This means that sin is inherent in humans. God loves humanity more than any other creation. Because of God's love, he sent His only Son, Jesus Christ, to save mankind from the bondage of sin. Jesus Christ has come to the world and has completed the work of salvation on the cross when He said tetelestai it means it is finished. However, there are still many people who do not believe who do not know the meaning of this word and are not sure that Jesus' work in this world has been completed perfectly. There are still many believers who do not want to be involved in preaching the Gospel. Based on the background of this problem, the aim of this writing is first, to find out the theological meaning of Jesus' statement regarding the words It is Finished in John 19:30. Second, to know what is meant by mission service. Third, to find the essence of the finished statement in John 19:30 regarding mission service. The research method used in this writing is a qualitative method using a hermeneutic approach and literature study. Based on this, the author concludes that the word finished is the culmination of the mission itself. This means that the word finished cannot be separated from mission service. Jesus has truly completed the work of salvation very perfectly on the cross. This is good news for the world and it is the believer's responsibility to proclaim it.Pada mulanya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Namun, manusia lebih memilih untuk tidak taat dan memberontak kepada Allah. Karena ketidaktaatan satu orang maka semua umat manusia ikut tercemar oleh dosa tersebut (Rom. 3:23). Artinya dosa sudah melekat di dalam diri manusia. Allah sangat mengasihi umat manusia melebihi ciptaan lain. Oleh karena kasih Allah, maka mengutus Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Yesus Kristus telah datang ke dunia dan telah menyelesaikan karya penyelamatan tersebut di atas kayu salib ketika Ia mengatakan tetelestai artinya sudah selesai. Namun, masih banyak orang yang belum percaya yang tidak tahu makna dari kata tersebut dan tidak yakin bahwa pekerjaan Yesus di dunia ini sudah diselesaikan-Nya dengan sempurna. Masih banyak orang percaya yang tidak mau terlibat di dalam memberitakan Injil. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka tujuan penulisan ini pertama, untuk mengetahui makna teologis mengenai pernyataan Yesus tentang kata Sudah Selesai dalam Yohanes 19:30. Kedua, untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pelayanan misi. Ketiga, untuk menemukan implikasi pernyataan sudah selesai dalam Yohanes 19:30 terhadap pelayanan misi. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika dan studi pustaka. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa kata sudah selesai merupakan puncak dari misi itu sendiri. Artinya ialah kata sudah selesai tidak dapat dipisahkan dalam pelayanan misi. Yesus sudah benar-benar menyelesaikan karya penyelamatan dengan sangat sempurna di atas kayu salib. Hal ini merupakan kabar sukacita bagi dunia dan tanggung jawab orang percaya untuk memberitakannya.
Studi Eksegesis “Sudah Selesai” Berdasarkan Yohanes 19.30 dan Implikasinya terhadap Pelayanan Misi Waruwu, Erlina; Gulo, Eki Firman Cahaya
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.771

Abstract

In the beginning, God created humans in His image and likeness. However, humans prefer to disobey and rebel against God. Because of one person's disobedience, all of humanity was contaminated by this sin (Rom. 3:23). This means that sin is inherent in humans. God loves humanity more than any other creation. Because of God's love, he sent His only Son, Jesus Christ, to save mankind from the bondage of sin. Jesus Christ has come to the world and has completed the work of salvation on the cross when He said tetelestai it means it is finished. However, there are still many people who do not believe who do not know the meaning of this word and are not sure that Jesus' work in this world has been completed perfectly. There are still many believers who do not want to be involved in preaching the Gospel. Based on the background of this problem, the aim of this writing is first, to find out the theological meaning of Jesus' statement regarding the words It is Finished in John 19:30. Second, to know what is meant by mission service. Third, to find the essence of the finished statement in John 19:30 regarding mission service. The research method used in this writing is a qualitative method using a hermeneutic approach and literature study. Based on this, the author concludes that the word finished is the culmination of the mission itself. This means that the word finished cannot be separated from mission service. Jesus has truly completed the work of salvation very perfectly on the cross. This is good news for the world and it is the believer's responsibility to proclaim it.Pada mulanya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Namun, manusia lebih memilih untuk tidak taat dan memberontak kepada Allah. Karena ketidaktaatan satu orang maka semua umat manusia ikut tercemar oleh dosa tersebut (Rom. 3:23). Artinya dosa sudah melekat di dalam diri manusia. Allah sangat mengasihi umat manusia melebihi ciptaan lain. Oleh karena kasih Allah, maka mengutus Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Yesus Kristus telah datang ke dunia dan telah menyelesaikan karya penyelamatan tersebut di atas kayu salib ketika Ia mengatakan tetelestai artinya sudah selesai. Namun, masih banyak orang yang belum percaya yang tidak tahu makna dari kata tersebut dan tidak yakin bahwa pekerjaan Yesus di dunia ini sudah diselesaikan-Nya dengan sempurna. Masih banyak orang percaya yang tidak mau terlibat di dalam memberitakan Injil. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka tujuan penulisan ini pertama, untuk mengetahui makna teologis mengenai pernyataan Yesus tentang kata Sudah Selesai dalam Yohanes 19:30. Kedua, untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pelayanan misi. Ketiga, untuk menemukan implikasi pernyataan sudah selesai dalam Yohanes 19:30 terhadap pelayanan misi. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika dan studi pustaka. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa kata sudah selesai merupakan puncak dari misi itu sendiri. Artinya ialah kata sudah selesai tidak dapat dipisahkan dalam pelayanan misi. Yesus sudah benar-benar menyelesaikan karya penyelamatan dengan sangat sempurna di atas kayu salib. Hal ini merupakan kabar sukacita bagi dunia dan tanggung jawab orang percaya untuk memberitakannya.
Studi Eksegesis “Sudah Selesai” Berdasarkan Yohanes 19.30 dan Implikasinya terhadap Pelayanan Misi Waruwu, Erlina; Gulo, Eki Firman Cahaya
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.771

Abstract

In the beginning, God created humans in His image and likeness. However, humans prefer to disobey and rebel against God. Because of one person's disobedience, all of humanity was contaminated by this sin (Rom. 3:23). This means that sin is inherent in humans. God loves humanity more than any other creation. Because of God's love, he sent His only Son, Jesus Christ, to save mankind from the bondage of sin. Jesus Christ has come to the world and has completed the work of salvation on the cross when He said tetelestai it means it is finished. However, there are still many people who do not believe who do not know the meaning of this word and are not sure that Jesus' work in this world has been completed perfectly. There are still many believers who do not want to be involved in preaching the Gospel. Based on the background of this problem, the aim of this writing is first, to find out the theological meaning of Jesus' statement regarding the words It is Finished in John 19:30. Second, to know what is meant by mission service. Third, to find the essence of the finished statement in John 19:30 regarding mission service. The research method used in this writing is a qualitative method using a hermeneutic approach and literature study. Based on this, the author concludes that the word finished is the culmination of the mission itself. This means that the word finished cannot be separated from mission service. Jesus has truly completed the work of salvation very perfectly on the cross. This is good news for the world and it is the believer's responsibility to proclaim it.Pada mulanya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Namun, manusia lebih memilih untuk tidak taat dan memberontak kepada Allah. Karena ketidaktaatan satu orang maka semua umat manusia ikut tercemar oleh dosa tersebut (Rom. 3:23). Artinya dosa sudah melekat di dalam diri manusia. Allah sangat mengasihi umat manusia melebihi ciptaan lain. Oleh karena kasih Allah, maka mengutus Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Yesus Kristus telah datang ke dunia dan telah menyelesaikan karya penyelamatan tersebut di atas kayu salib ketika Ia mengatakan tetelestai artinya sudah selesai. Namun, masih banyak orang yang belum percaya yang tidak tahu makna dari kata tersebut dan tidak yakin bahwa pekerjaan Yesus di dunia ini sudah diselesaikan-Nya dengan sempurna. Masih banyak orang percaya yang tidak mau terlibat di dalam memberitakan Injil. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka tujuan penulisan ini pertama, untuk mengetahui makna teologis mengenai pernyataan Yesus tentang kata Sudah Selesai dalam Yohanes 19:30. Kedua, untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pelayanan misi. Ketiga, untuk menemukan implikasi pernyataan sudah selesai dalam Yohanes 19:30 terhadap pelayanan misi. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika dan studi pustaka. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa kata sudah selesai merupakan puncak dari misi itu sendiri. Artinya ialah kata sudah selesai tidak dapat dipisahkan dalam pelayanan misi. Yesus sudah benar-benar menyelesaikan karya penyelamatan dengan sangat sempurna di atas kayu salib. Hal ini merupakan kabar sukacita bagi dunia dan tanggung jawab orang percaya untuk memberitakannya.
Teologi Kuliner Dalam Upaya Melaksanakan Misi GerejaGEREJA Waruwu, Erlina; Gultom, Rogate Artaida Tiarasi; Damanik, Dapot
Jurnal Apokalupsis Vol 16 No 1 (2025): Jurnal Apokalupsis
Publisher : STT Internasional Harvest Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52849/apokalupsis.v16i1.337

Abstract

The contemporary church faces serious challenges in carrying out a mission that is relevant within Indonesia’s multicultural and multireligious society. Although missiological studies emphasize the importance of contextualization, church mission approaches still largely rely on verbal and institutional methods that inadequately engage the everyday practices of the community. Meanwhile, the practice of shared meals, which holds strong social and religious significance in Indonesian culture, has received limited theological attention as a strategy for church mission. This research gap highlights the lack of exploration of culinary theology as a missional bridge that connects Christian faith with the lived reality of communal life in public spaces. This study aims to examine how culinary theology can be developed as a contextual and grounded approach to church mission through the practice of shared meals rich in theological, social, and missiological meaning. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, this research draws on theological, missiological, and biblical sources. The findings indicate that culinary theology functions as an effective missional bridge by creating inclusive and relational spaces where the values of Christian love, hospitality, and solidarity are experienced concretely. Integrating culinary theology enriches contextual church mission and encourages the development of culinary-based ministries as a tangible expression of God’s mission in society
EKSPLORASI TEOLOGIS PENYATAAN KHUSUS ALLAH DALAM PEMAHAMAN IDENTITAS DIRI SEBAGAI IMAGO DEI : Suatu Kajian Teologi Biblika tentang Relasi Allah dan Manusia sebagai Gambar-Nya Waruwu, Erlina; Artaida Tiarasi Gultom, Rogate
Alucio Dei Vol 10 No 1 (2026): Alucio Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v10i1.241

Abstract

Artikel ini mengkaji secara teologis penyataan khusus Allah dalam kaitannya dengan pemahaman identitas diri manusia sebagai Imago Dei. Pemahaman ini penting karena kesadaran bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah menjadi dasar bagi pembentukan identitas diri yang benar, sekaligus membuka jalan bagi pengakuan akan kebutuhan keselamatan. Seseorang yang memahami dirinya sebagai Imago Dei akan menyadari keterbatasan dan ketidakmampuannya dalam menjaga keserupaan dengan Allah akibat dosa, sehingga muncul kesadaran akan kebutuhan karya keselamatan dalam Kristus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data dari literatur berupa jurnal, artikel, ensiklopedia dan Alkitab sebagai sumber utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyataan khusus Allah, yang berpuncak dalam Yesus Kristus, memberikan dasar teologis yang kuat bagi manusia untuk memahami identitasnya dan kebutuhan akan keselamatan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman diri sebagai Imago Dei bukan hanya membentuk martabat manusia, tetapi juga menjadi langkah awal dalam perjalanan menuju keselamatan yang sejati di dalam Kristus.