Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan Agama Hindu sebagai Pendekatan Transformasional dalam Membentuk Digital Wisdom Generasi Muda di Era Disrupsi Teknologi: Penelitian Widyana, I Komang
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6070

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan kedewasaan etika dan moral generasi muda dalam penggunaannya, yang ditandai dengan munculnya berbagai perilaku tidak bijak di ruang digital. Di sisi lain, kajian mengenai digital wisdom masih cenderung berfokus pada aspek literasi teknis dan belum banyak mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam pendekatan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Pendidikan Agama Hindu sebagai pendekatan transformasional dalam membentuk digital wisdom generasi muda. Penelitian menggunakan pendekatan tinjauan literatur (literature review) dengan mengumpulkan sumber dari basis data akademik seperti Google Scholar, Scopus, dan ScienceDirect. Literatur dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang menekankan relevansi topik, kualitas akademik, serta kebaruan publikasi. Analisis dilakukan secara deskriptif-kualitatif dan komparatif melalui identifikasi konsep, pengkajian nilai-nilai Hindu, serta perbandingan temuan penelitian terdahulu, yang kemudian disintesis untuk membangun kerangka konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, Tat Tvam Asi, Panca Yama Brata, dan Panca Nyama Brata memiliki relevansi kuat dalam membentuk dimensi kognitif, etis, reflektif, sosial, spiritual, dan kontrol diri dalam digital wisdom. Proses pembentukan berlangsung melalui tahapan tahu, sadar, bijak, hingga bertindak benar. Implikasi penelitian menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai agama dalam kurikulum, pembelajaran kontekstual, serta sinergi antara guru dan orang tua dalam membentuk generasi muda yang bijak digital dan berkarakter.
Revitalisasi Bahasa Sangiang Dalam Kegiatan Keagamaan Di Kecamatan Kahayan Tengah Kabupaten Pulang Pisau Evie, Evie; Widyana, I Komang; Edung, Tardi; Sutarwan, I Wayan; Bela, Lidya Sinta
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 9 No 2 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/kamaya.v9i2.5265

Abstract

The Sangiang language is a sacred language within the Kaharingan Hindu religious system, functioning as a medium of spiritual communication in various religious rituals. However, the narrowing of its domain of use, the limited number of speakers, and the weakening of intergenerational transmission have placed the language in a vulnerable condition. This study aims to analyze the forms of maintenance of the Sangiang language, its domains of use, and the roles of actors and institutions in sustaining its continuity in Central Kahayan District, Pulang Pisau Regency. This research employs a descriptive qualitative approach, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation involving seven informants. The findings reveal that the maintenance of the Sangiang language occurs primarily through religious ritual practices such as Basarah, Tiwah, and Manyanggar, which serve as its core domains of use. This maintenance is reinforced by the roles of basir and pisor as religious and linguistic authorities, the balai basarah as a space for informal transmission, and the support of religious and educational institutions. However, the process of language transmission remains limited and exclusive, with relatively low participation from younger generations. In addition, modernization and the dominance of the Indonesian language in everyday communication have further restricted the use of the Sangiang language. This study contributes to sociolinguistic scholarship by demonstrating that sacred language maintenance can be sustained through strong ritual domains, even without broader functional expansion. These findings highlight the need for adaptive strategies to ensure the long-term sustainability of religious-based minority languages.