Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGUATAN KESEHATAN MENTALITAS KAUM TUNADAKSA MELALUI DESAIN RUANGAN Atmaja, Filipus Jordan Kusuma; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27504

Abstract

Society often looks down on people with disabilities, especially people with physical limitations. In Indonesia, especially in Jakarta, there are still many disabled people who have fragile mental problems due to accidents/hereditary factors, which cause them to be physically disabled. This causes a decline in the mentality of the disabled. In fact, the rights of persons with disabilities are regulated in Law Number 4 of 1997 which discusses Persons with Disabilities, "any person who does not provide accessible or unequal opportunities and equal treatment to students with disabilities in units, study programs, types of and levels of educational administration sanctions”. The aim of this research is to analyze design methods, explore the design and space of buildings or activities that can make disabled people achieve good mental health so that later they can become better, and enable them to have a good quality of life for the outside world. The method used in this research is a qualitative descriptive method. This method was chosen based on the object of study taken in relation to the narrative of the life experiences of the physically disabled. For example, accessibility is an important part of improving environmental design. Physically disabled people cannot be free from their mental illness, until they are free from the trauma they have experienced. Which in the end can create a design design to enable disabled people to gain quality of life, as well as improve their mental health. Keywords: healing; mentality; physical-disability Abstrak Masyarakat seringkali memandang rendah penyandang disabilitas, terutama penyandang disabilitas keterbatasan fisik. Di Indonesia, terutama di Jakarta masih banyak kaum tunadaksa yang memiliki masalah mentalnya yang masih rapuh akibat dari kecelakaan/faktor keturunan, yang menyebabkan mereka cacat secara fisik. Hal ini menyebabkan penurunan mentalitas dari tunadaksa. Padahal, hak penyandang disabilitas sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 yang membahas tentang penyandang disabilitas, “Setiap orang yang tidak memberikan kesempatan yang dapat diakses atau tidak sama dan perlakuan yang sama kepada peserta didik penyandang cacat pada satuan, program studi, jenis dan jenjang sanksi administrasi pendidikan”. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis cara desain, mengeksplorasi desain dan ruang dari bangunan atau kegiatan yang dapat membuat Tunadaksa memperoleh kesehatan mental yang baik agar nantinya mereka bisa menjadi lebih baik, dan membuat mereka dapat memiliki kualitas hidup yang baik untuk dunia luar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode tersebut dipilih berdasarkan objek kajian yang diambil berkaitan dengan narasi pengalaman hidup dari tunadaksa. Misalnya, aksesibilitas adalah bagian penting dari peningkatan desain lingkungan. Tunadaksa tidak bisa terbebas dari penyakit mentalnya, sebelum mereka terbebas dari trauma yang mereka alami. Yang pada akhirnya bisa membuat perancangan desain rancangan untuk membuat tunadaksa mendapatkan kualitas dari hidup, sekaligus memperbaiki mentalnya kembali.
DESAIN RUANG KEMOTERAPI DALAM MENDUKUNG PENYEMBUHAN FISIK DAN MENTAL PENDERITA KANKER PAYUDARA Wibowo, Adrian Saputra; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27505

Abstract

In the era of advanced technology, cancer also has various types, the types recorded and spread throughout the world are around 200 types. In Indonesia alone, the cancer that dominates women is breast cancer. Breast cancer cases in Indonesia totaled 65,858 cases. But with the high number of cancer cases in Indonesia, treatment can only be done in hospitals or clinics located in hospital areas based on the regulations of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia number 26 of 2018, section 27 article 36 paragraph 3. Which discusses clinics and clinic operations, treatment of cancer that can be treated outside a clinic or hospital through chemotherapy, and some healing and mental therapies. The expected goal is to create a chemotherapy room design that can support physical healing but can also help mental healing in terms of the use of color and the interior of the room and knowing the criteria or factors that go into the desired design. The method used to collect existing data is qualitative. This qualitative method can be used to find out about the spatial feeling of the chemotherapy room. And also by collecting data from existing literacy to find out the existing criteria to help mental healing for breast cancer sufferers. The results will be a form of design for a chemotherapy room that can help heal the mental health of breast cancer sufferers by paying attention to comfort and existing comfort-supporting elements. Keywords:  comfort; chemotherapy; interior; therapy room Abstrak Pada era teknologi maju, penyakit kanker juga memiliki berbagai jenis, jenis yang tercatat dan tersebar di dunia berjumlah sekitar 200 jenis. Di Indonesia sendiri kanker yang mendominasi pada perempuan adalah kanker payudara. Kasus kanker payudara di indoneisa berjumlah 65.858 kasus. Tapi dengan tingginya kasus kanker di Indonesia penanganannya hanya bisa dilakukan di rumah sakit ataupun klinik yang berada di dalamawasan rumah sakit berdasarkan peraturan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia nomor 26 tahun 2018, bagian 27 pasal 36 ayat 3, yang membahas tentang klinik dan pengoperasian klinik, pengobatan kanker yang dapat dilakukan di luar klinik atau rumah sakit hanyalah kemoterapi dan beberapa terapi penyembuhan serta mental. Tujuan yang diharapkan adalah menciptakan desain ruang kemoterapi yang dapat mendukung penyembuhan fisik tapi juga dapat membantu penyembuhan secara mental dari segi penggunaan warna dan juga interior dari ruangan tersebut dan mengetahui kriteria atau faktor yang masuk kedalam desain yang diinginkan. Metode yang digunakan dalam menggumpulkan data yang ada dengan menggunakan kualitatif. Metode kualitatif ini yang dilakukan dapat mengetahui tentang perasaan keruangan dari ruang kemoterapi tersebut. Dan juga dengan menggumpulkan data dari literasi yang ada untuk mengetahui kriteria yang ada dalam membantu penyembuhan mental bagi penderita kanker payudara. Hasil yang ada akan menjadi bentuk desain dari ruang kemoterapi yang dapat membantu penyembuhan mental penderita kanker payudara dengan memperhatikan kenyamanan serta elemen-element pendukung kenyamanan yang ada.
PENERAPAN KONSEP KONTEKSTUAL PADA MALL METROPOLIS TOWN SQUARE DALAM BENTUK PUSAT OLAHRAGA DI KOTA MODERN Simarmata, Stella Catherina Tamelan Barita; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30919

Abstract

Marked by the closure of retailers and facilities such as cinemas, department stores, and food courts¸ making Metropolis Town Square Mall one of the shopping centers in Jabodetabek that experienced placelessness. The existence of a pandemic has also exacerbated the existing conditions, but after the pandemic has ended, the condition of the mall has not improved. The factors that cause placelessness are intense competition with other shopping centers, the development of e-commerce that is dominating, the lack of difference with other shopping centers, and the existence of vacant land on the site that is not used effectively. So that the impact obtained is that the Metropolis Town Square Mall has decreased attractiveness and visitors who come and resulted in many facilities in the mall that are no longer functioning or closed. Because of this, the research is expected to provide an intervention to revive, maximize the potential of the site and make the location back into place. Strategies that can be implemented are analyzing the target users around the site, using architectural approaches and methods, and promoting sustainability so that the building can last for a long time. Through the contextual architecture approach, the project produces a sports center by utilizing vacant land on the site to function more effectively. The resulting design proposal is expected to make the Metropolis Town Square Mall a place again. Keywords:  contextual; mall; placelessness; sports center Abstrak Ditandai dengan ditutupnya retail-retail dan fasilitas seperti bioskop, department store, hingga foodcourt membuat Mall Metropolis Town Square menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Jabodetabek yang mengalami placelessness. Adanya pandemi pun memperparah kondisi yang ada, namun setelah pandemi sudah berakhir kondisi mall pun belum membaik. Faktor-faktor penyebab placelessness tersebut berupa persaingan yang ketat dengan pusat perbelanjaan lain, perkembangan e-commerce yang sedang mendominasi, kurangnya perbedaan dengan pusat perbelanjaan yang lain, serta adanya lahan kosong di tapak yang tidak difungsikan secara efektif. Sehingga dampak yang didapat yaitu Mall Metropolis Town Square penurunan daya tarik serta pengunjung yang datang dan mengakibatkan banyak fasilitas dalam mall yang tidak lagi difungsikan atau tutup. Oleh karena ini, penelitian diharapkan dapat memberikan sebuah intervensi untuk menghidupkan kembali, memaksimalkan potensi yang dimiliki tapak dan menjadikan lokasi tersebut kembali menjadi place. Strategi yang dapat diimplementasikan yaitu menganalisis sasaran pengguna di sekitar tapak, menggunakan pendekatan dan metode arsitektur, serta mengedepankan keberlanjutan agar bangunan dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Melalui pendekatan arsitektur kontekstual menghasilkan proyek berupa pusat olahraga dengan memanfaatkan lahan kosong di tapak untuk difungsikan lebih efektif. Usulan perancangan yang dihasilkan tersebut diharapkan dapat menjadikan Mall Metropolis Town Square kembali menjadi place.  
PENGEMBANGAN WISATA BUDAYA DI SETU BABAKAN DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING: MENINGKATKAN DAYA TARIK WISATA Fitri, Namira; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30920

Abstract

The Betawi people, the indigenous people of Jakarta, have rich artistic heritage such as dance, culinary, and music. Over time, however, many Betawi art traditions were forgotten. The DKI Jakarta government developed the Setu Babakan Cultural Village to preserve and improve cultural tourism. Although initially successful in attracting tourists, Setu Babakan will experience a significant decrease in visits during the COVID-19 pandemic, influenced by the lack of physical and non-physical attraction as well as the cessation of art performances. This study aims to restore Setu Babakan's tourist attraction with the Placemaking approach and the application of interlock program. This study identified the factors that led to the degradation of Setu Babakan's tourist attraction, which strategized with placemaking principles and interlock program to create a cultural space integrated with existing tourism in Setu Babakan. Qualitative descriptive methods are conducted through literature studies, support theory studies, surveys and documentation. Through the results of the analysis, the programs found were interactive galleries, workshops, art training and informal schools using the concept of interlock program can overcome the degradation of tourist attraction and provide opportunities for visitors to travel to the existing Setu Babakan tourism so that tourism in Setu Babakan can become a tourist attraction again. To increase the maximum tourist attraction in Setu Babakan, further evaluation of the effectiveness of the proposed programs is needed. A survey on the satisfaction of visitors and the local community after new programs is urgently needed to receive input and continue to improve the quality of tourism in Setu Babakan. Keywords: interlock program; placemaking; Setu Babakan Abstrak Suku Betawi, suku asli Jakarta, memiliki warisan seni yang kaya seperti tari, kuliner, dan musik. Namun, seiring waktu, banyak tradisi seni Betawi terlupakan. Pemerintah DKI Jakarta mengembangkan Kampung Budaya Betawi Setu Babakan untuk melestarikan dan meningkatkan pariwisata budaya. Meskipun awalnya sukses menarik wisatawan, Setu Babakan mengalami penurunan kunjungan signifikan saat pandemi COVID-19, dipengaruhi oleh minimnya daya tarik fisik dan non-fisik serta penghentian dari pertunjukan seni. Studi ini bertujuan untuk mengembalikan daya tarik wisata Setu Babakan dengan pendekatan Placemaking dan penerapan interlock program. Studi ini mengidentifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya degradasi daya tarik wisata Setu Babakan yang distrategikan dengan prinsip placemaking dan interlock program untuk menciptakan ruang budaya yang berintegrasi dengan wisata-wisata yang sudah ada di Setu Babakan. Metode desktiptif kualitatif dilakukan melalui studi literatur, kajian teori pendukung, survey dan dokumentasi. Melalui hasil analisis, program yang ditemukan berupa galeri interaktif, workshop, pelatihan seni dan sekolah informal dengan menggunakan konsep interlock program dapat mengatasi dari degradasi daya tarik wisata dan memberikan peluang bagi pengunjung untuk berwisata ke wisata Setu Babakan yang sudah ada sehingga wisata di Setu Babakan dapat kembali menjadi daya tarik wisata. Untuk meningkatkan daya tarik wisata di Setu Babakan secara maksimal, diperlukannya evaluasi lebih lanjut dari keefktifan program-program yang diusulkan. Survei kepuasan pengunjung dan masyarakat lokal setelah adanya program-program baru sangat diperlukan untuk mendapatkan masukan dan terus meningkatkan kualitas wisata di Setu Babakan. 
MERAJUT BUDAYA DAN PERDAGANGAN PECINAN GLODOK MELALUI PENDEKATAN PLACEMAKING Therik, Andrea Georgina; Santoso, J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30921

Abstract

Pecinan Glodok is the largest area in Jakarta with a rich Chinese cultural heritage, predominantly inhabited by ethnic Chinese descendants. Currently, the identity of Pecinan Glodok has faded over time. In the past, Glodok was known as a center of commerce and socio-cultural activities. However, today, Glodok's trade survives in a shabby and disorganized state, overshadowing the cultural activities that could thrive. This study aims to restore Pecinan Glodok's identity through a placemaking approach and traditional Chinese architectural concepts, particularly the principles of symmetry and balance. The study identifies factors contributing to the "Placeless Place" in Pecinan Glodok and concludes that integrating placemaking with traditional architectural principles can effectively revive Pecinan Glodok's identity, create an environment that supports social and cultural activities, and strengthen the sense of connection and place identity that has faded. Qualitative data collection methods include literature studies, supporting theoretical reviews, surveys, and documentation. The analysis found that with programs such as a Pecinan food market, cultural attractions, and improved public facilities using the concepts of symmetry and balance, the area's cultural identity can be restored, enhancing Pecinan Glodok's attractiveness to revive the local economy and help culture become visible and thrive. To optimize the improvement of Pecinan Glodok, further research is needed on the socio-economic impact of relocating street vendors, evaluation of area management, development of public spaces that support local culture, and surveys of visitor and business satisfaction. Keywords:  Glodok; placeless; place; placemaking Abstrak Pecinan Glodok merupakan kawasan dengan warisan budaya Tionghoa yang kaya dan terbesar di Jakarta dengan mayoritas penghuninya adalah warga dengan keturunan etnis Tionghoa. Melihat Pecinan Glodok saat ini, Identitasnya telah memudar seiring dengan berjalannya waktu. Dahulu, Glodok dikenal dengan pusat perdagangan serta aktivitas sosial budayanya. Namun, Saat ini perdagangan Glodok hanya bertahan seadanya dengan kondisi kumuh dan semrawut sehingga menutupi aktivitas budaya yang seharusnya dapat berkembang.  Studi ini memiliki tujuan untuk mengembalikan identitas Pecinan Glodok melalui pendekatan  Placemaking dan konsep arsitektur tradisional Cina, khususnya prinsip simetri dan keseimbangan. Studi ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap "Placeless Place" yang terjadi pada pecinan Glodok dan menyimpulkan bahwa perpaduan Placemaking dengan prinsip-prinsip arsitektur tradisional dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk menghidupkan kembali identitas Pecinan Glodok, menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas sosial dan budaya, serta memperkuat rasa keterhubungan dan identitas tempat yang kini telah memudar. Metode pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui studi literatur, kajian teori yang mendukung, survei dan dokumentasi. Melalui analisis, Ditemukan bahwa dengan program berupa pecinan food market, atraktor budaya, dan peningkatan fasilitas publik menggunakan konsep simetri dan keseimbangan dapat mengembalikan identitas budaya dan meningkatkan daya tarik kawasan agar dapat membangkitkan ekonomi lokal pecinan Glodok dan membantu budaya untuk dapat terlihat dan berkembang. Untuk mengoptimalkan pembenahan Pecinan Glodok, diperlukan penelitian lanjutan tentang dampak sosial-ekonomi relokasi pedagang kaki lima, evaluasi pengelolaan kawasan, pengembangan ruang publik yang mendukung budaya lokal, serta survei kepuasan pengunjung dan pelaku usaha.