Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN GIZI BURUK DAN GIZI KURANG PADA BALITA DI DESA LASARABAGAWU WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANDREHE BARAT KABUPATEN NIAS BARAT TAHUN 2019 Rumiris Simatupang
Jurnal Akrab Juara Vol 5 No 3 (2020)
Publisher : Yayasan Akrab Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh banyak faktor, sehingga penanggulangannya tidak cukup dengan pendekatan medis maupun pelayanan kesehatan saja. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2013), prevalensi gizi buruk di Indonesia tahun 2007 (5,4%), tahun 2010 (4,9%), dan tahun 2013 (5,7%), sedangkan sasaran SDGs tahun 2019 yaitu 17%. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan desain cross-sectional untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi kejadian gizi buruk dan gizi kurang pada balita di Desa Lasarabagawu wilayah kerja puskesmas Mandrehe Barat tahun 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu balita yang menderita gizi buruk dan gizi kurang sebanyak 100 orang ibu balita. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 81 balita. Cara pengambilan sampel berdasarkan proporsi masing masing sampel disetiap posyandu. Pengambilan sampel menggunakan metode proportional random sampling. Ada pengaruh jumlah anak(nilai p value= 0.001, OR= 0,141) , pendapatan (nilai p value= 0,001, OR= 59,800), pola asuh pemberian pola makan (pvalue=0,001, OR=57,0)dalam keluarga dengan Kejadian Gizi Kurang dan Gizi Buruk namun bukan merupakan faktor risiko kejadian Gizi Kurang dan Gizi buruk. Diharapkan ibu lebih aktif membawa anak ke ke posyandu sehingga ibu lebih dapat memanfaatkan posyandu sebagai sarana untuk bisa menggali informasi tentang gizi balita agar mampu memberikan perlakuan yang tepat bagi balita sesuai dengan usianya.
Implementasi Terapi Pijat Refleksi Terhadap Pengendalian Glukosa Darah Pada Pasien Dengan Diabetes Mellitus Tipe-2 Di Puskesmas Kalangan Rumiris Simatupang; Monika Sihombing
CENDEKIA : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmiah Vol. 2 No. 7 (2025): CENDEKIA : Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah, Juli 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/cendekia.v2i7.1544

Abstract

Diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula di dalam darah dan terdapat resistensi insulin kurangnya insulin yang relative dan bisa terjadi komplikasi akut maupun kronis, salah satu komplikasi diabetes mellitus yang sering terjadi adalah neuropati yang dapat menyebabkan diabetes mengalami penurunan sensitifitas kaki.Tujuan penelitian Untuk mengetahui pengaruh intervensi terapi pijat refleksi terhadap pengendalian glukosa pada pasien dengan diabetes mellitus tipe-2 Metode penelitian ini menggunakan desain study kasus. Responden yang diteliti sebanyak 2 berjenis perempuan pertama berusia 55 tahun dan responden kedua berusia 52 tahun dengan status masalah diabetes mellitus tipe 2. Instrument yang digunakan adalah lembar observasi kadar gula darah, glucometer, sop terapi pijat. Intervensi pemberian terapi pijat refleksi diberikan sehari sekali setiap pagi selama 7 hari berturut-turut dalam waktu 30 menit. Hasil penelitian didapat rata-rata kadar glukosa darah pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 sebelum melakukan pijat refleksi adalah 287 mg/dl sedangkan rata-rata kadar glukosa darah pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 setelah melakukan pijat refleksi adalah 280 mg/dl. Kesimpulan dari terapi pijat refleksi pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 dapat menurunkan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN INTERVENSI DAUN BANDOTAN TERHADAP DERAJAT KESEMBUHAN LUKA PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI SARUDIK KABUPATEN TAPANULI TENGAH Rumiris Simatupang
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 1 No. 7 (2024): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Juli 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/g6935576

Abstract

Ulkus diabetikum adalah komplikasi diabetes mellitus yang terjadi karena kontrol glikemik yang buruk, neuropati, pheriperal vaskular disease, serta perawatan kaki yang buruk. Prevalensi ulkus diabetikum di indonesia tergolong tinggi, karena 12% di rumah sakit dan 24% dilingkungan komunitas. Di indonesia angka kejadian ulkus diabetukum pada pasien DM telah mencapai 25% sepanjang hidupnya. Ulkus diabetikum terjadi pada 15-25% pasien dengan DM dan lebih dari 2% per tahun antara 5 hingga 7,5% pasien dengan neuropati Daun Bandotan memiliki senyawa utama flavonoid dan alkaloid yang berkontribusi dalam mempercepat proses penyembuhan ulkus diabetikum dengan infeksi bakteri Staphylococcus aureus yang dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan Asuhan Keperawatan dengan Intervensi Daun Bandotan terhadap derajat kesembuhan luka diabetes mellitus pada pasien yang menderita Ulkus Diabetik di Kelurahan Aek Parombunan. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan Asuhan Keperawatan pada klien Ny.M. Pengumpulan data menggunakan format Asuhan Keperawatan yang meliputi Pengkajian, Diagnosa, Intervensi, Implementasi, Evaluasi. Dari hasil studi kasus ini didapatkan bahwa masalah gangguan integritas kulit teratasi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada pasien selama 3 kali kunjungan berupa perawatan luka dengan menggunakan metode konvensional menggunakan spray ekstrak daun bandotan didapatkan hasil masalah keperawatan gangguan integritas jaringan teratasi, ditandai dengan jaringan nekrotik sudah berkurang, kebersihan luka lebih baik lagi dari sebelumnya, kemerahan pada pinggir luka berkurang panjang 5,6 cm, lebar 1,6 cm, dan kedalaman 0,7 cm sehingga dapat disimpulkan bahwa spray ekstrak daun bandotan (Ageratum Conyzoides L) berpengaruh terhadap kesembuhan derajat luka ulkus diabetikum pada penderita diabetes mellitus.
Efektivitas Dapur Umum di Posko Tanggap Darurat Bencana (TDB) dalam Pemenuhan Kebutuhan Gizi pada Anak-Anak Pasca Bencana di Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka Fridella Grace Natalia Tarigan; Rumiris Simatupang; Percaya Hia; Siti Ratna Harefa; Soeandi Malik Pratama
OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2026): Januari: OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/obat.v4i1.2118

Abstract

Floods and landslides in Hutanabolon Village, Tukka District, Central Tapanuli Regency have disrupted access to food and health services, particularly for vulnerable groups such as children. Public kitchens, as the frontline of emergency nutrition response, face challenges in providing food that meets the specific nutritional needs of children. This study aims to evaluate the effectiveness of public kitchens at Disaster Emergency Response Posts (TDB) in meeting the nutritional needs of post-disaster children, identify supporting and inhibiting factors, and formulate recommendations for improving the public kitchen management system. The research employed a descriptive evaluative approach using survey methods, structured interviews, direct observation, 24-hour dietary recall, and anthropometric measurements (weight and height). The study subjects included 15 children aged 1–12 years and 8 public kitchen managers selected purposively. Data were analyzed descriptively by comparing nutritional intake against the Recommended Dietary Allowance (RDA) standards and analyzing kitchen management practices based on emergency nutrition guidelines. The findings revealed that children's average energy intake was only 1,140 kcal/day (below the minimum standard of 1,200–2,000 kcal/day) and protein intake was 18.7 g/day (below the standard of 20–35 g/day). A total of 33.3% of children were classified as having malnutrition to severe malnutrition based on weight-for-age indicators. Public kitchen management showed weaknesses in menu planning (100% had no child-specific menu), managers' nutritional knowledge (62.5% categorized as low), food availability (75% relied on instant aid without variation), and limited cross-sectoral coordination (50%). The effectiveness of public kitchens in meeting children's nutritional needs after disasters remains low.