Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Menyikapi Keragaman Hisab Rukyat Organisasi Masyarakat Di Indonesia Indayati, Wiwik
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 3 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.959 KB) | DOI: 10.20414/afaq.v3i2.4771

Abstract

Penentuan awal Bulan Qamariyah masih mengalami polemik dan sulit untuk dipertemukan. Permasalahan ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah ragamnya aliran hisab rukyat yang ada di Indonesia. Berbagai organisasi masyarakat di Indonesia memiliki pemikiran dan pendapat masing-masing mengenai kriteria penetapan hilal sehingga tak jarang terjadi kontrovesi satu sama lain karena belum menemukan kesepakatan. Perlu diketahui juga bahwa memang tidak ada patokan yang konkrit tentang kriteria penentuan yang disepakati oleh seluruh ahli falak di Indonesia sebagai acuan bersama. Hal tersebut bisa menimbulkan permasalahan yang tak kunjung usai dan konflik antar kelompok masyarakat yang menyebabkan rusaknya citra syiar Islam.
Menyikapi Keragaman Hisab Rukyat Organisasi Masyarakat Di Indonesia Indayati, Wiwik
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 3 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/afaq.v3i2.4771

Abstract

Penentuan awal Bulan Qamariyah masih mengalami polemik dan sulit untuk dipertemukan. Permasalahan ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah ragamnya aliran hisab rukyat yang ada di Indonesia. Berbagai organisasi masyarakat di Indonesia memiliki pemikiran dan pendapat masing-masing mengenai kriteria penetapan hilal sehingga tak jarang terjadi kontrovesi satu sama lain karena belum menemukan kesepakatan. Perlu diketahui juga bahwa memang tidak ada patokan yang konkrit tentang kriteria penentuan yang disepakati oleh seluruh ahli falak di Indonesia sebagai acuan bersama. Hal tersebut bisa menimbulkan permasalahan yang tak kunjung usai dan konflik antar kelompok masyarakat yang menyebabkan rusaknya citra syiar Islam.
Fiqh Mawaqit Hilal Nahdlatul Ulama Indayati, Wiwik
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 1 No. 2 (2020): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v1i2.1707

Abstract

Hilal merupakan fenomena bulan sabit yang nampak dari permukaan Bumi setelah ijtimak. Munculnya hilal adalah hal yang pasti terjadi setelah adanya peristiwa ijtimak Matahari dan Bulan dalam satu garis bujur astronomis yang sama setiap akhir bulan menjelang awal bulan. Hal ini memunculkan beberapa perspektif di kalangan para ahli, apakah hilal sudah tampak dan bisa dilihat atau belum. Tak jarang timbul kontroversi antara satu sama lain karena belum menemukan kesepakatan dalam hal penafsiran hilal. Dua organisasi Islam di Indonesia yang tidak luput dari adanya perbedaan pendapat mengenai hal ini adalah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang keduanya memiliki penafsiran masing-masing mengenai penetapan hilal dengan cara menggunakannya.Kata kunci: fiqh, NU, hilal, rukyat. Abstract: Hilal is the visible crescent phenomenon that appears from the Earth's surface after the ijtima. The appearance of the hilal is inevitable after the ijtima event of the Sun and Moon in one astronomical longitude at each end of the month toward the beginning of the month. This raises some perspectives among experts, whether the hilal is visible and can be seen or not. It is not uncommon controversy for each other because they have not found agreement in the interpretation of the hilal. Two Islamic organizations in Indonesia that are not escape from differences of opinion on this matter are Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, both of which have their own interpretations regarding the determination of the hilal by how to use it.Keywords: fiqh, NU, hilal, rukyat.  
Fajar Shadiq Sebagai Penanda Awal Waktu Shalat Shubuh Reza, Akhmad Lucky; Farah, Labibah Amil; Nafi’ah, Muazarotun; Musyarrofa, Musyarrofa; Indayati, Wiwik; Solikin, Agus
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 4 No. 2 (2023): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v4i2.2226

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas peran fajar shadiq sebagai penanda awal waktu salat Subuh dalam perspektif syariat dan astronomi. Berdasarkan hadis-hadis Nabi dan penjelasan ulama, fajar dibedakan menjadi dua jenis, yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Awal waktu salat Subuh ditandai dengan munculnya fajar shadiq, yang berciri cahaya horizontal di ufuk timur, berbeda dengan fajar kadzib yang bercahaya vertikal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan observasi lapangan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan fajar shadiq, seperti polusi cahaya, ketebalan atmosfer, dan kondisi cuaca. Hasil observasi di Masjid Jami’ Manyar Gresik menunjukkan bahwa tingginya tingkat polusi cahaya dan kondisi cuaca mendung menghambat visibilitas fajar shadiq, sehingga mempersulit penentuan awal waktu Subuh berdasarkan pengamatan visual. Artikel ini menegaskan pentingnya memahami karakteristik fajar dan dampak lingkungan terhadap akurasi penentuan waktu ibadah, serta perlunya pendekatan astronomi untuk mendukung ketepatan dalam praktik keagamaan. Studi ini juga memperkaya literatur tentang integrasi antara ilmu falak dan fiqh dalam menentukan waktu-waktu ibadah.Kata Kunci: Fajar Shadiq, Waktu Subuh, Polusi Cahaya, Ilmu Falak, Astronomi Islam.Abstract: This article discusses the role of fajr shadiq as the marker for the beginning of the Subuh prayer time from both Islamic law and astronomical perspectives. Based on the hadiths of the Prophet and scholarly interpretations, dawn is categorized into two types: fajr kadzib and fajr shadiq. The start of Subuh prayer is marked by the appearance of fajr shadiq, characterized by a horizontal light spreading across the eastern horizon, in contrast to the vertical light of fajr kadzib. This qualitative study employs literature review and field observation to identify factors influencing the visibility of fajr shadiq, such as light pollution, atmospheric thickness, and weather conditions. Observations conducted at Masjid Jami’ Manyar Gresik revealed that high levels of light pollution and cloudy weather significantly hindered the visibility of fajr shadiq, complicating the visual determination of Subuh prayer time. The article highlights the importance of understanding the characteristics of dawn and the environmental impacts on the accuracy of religious practices, emphasizing the need for astronomical approaches to support precise worship timings. This study also contributes to the broader literature on the integration of astronomy and Islamic jurisprudence in determining prayer times.Keywords: Fajr Shadiq, Subuh Time, Light Pollution, Islamic Astronomy, Falak Science.
KONSEPSI ARAH KIBLAT TANAH HARAM PERSPEKTIF HADIS Indayati, Wiwik
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 5 No 1 (2021): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v5i1.23948

Abstract

Prayer is mandatory worship for Muslims all over the world. One of the legal requirements of prayer is facing towards the Qibla. If a Muslim prayer is facing a direction other than Qibla, its prayer is not valid. The Islamic Mecca is the Kaaba, between east amd west. This paper will be explained to prayer to face the Kaaba. This obligation applies to those who can see the Kaaba in person (‘ainul Ka’bah) and who are in the region far from the Kaaba and cannot see it firsthand, it is imperative to face the Kaaba (jihatul Ka’bah). The scholars, however, agreed that those who could not see the Kaaba would have permission to know the direction of the Kaaba (jihatul Ka’bah), which would require them to look at the building of the Kaaba (‘ainul Ka’bah). ‘Ainul Ka’bah is the building of the Kaaba in Mecca. Whereas Jihatul Ka’bah was the direction to the Kaaba.