Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KONSEP MODERASI ISLAM DALAM AL-QU’RAN (STUDI KOMPARATIF ANTARA TAFSIR AN-NÛR DAN AL-AZHÃR) Achmad Junaidi; Agus Kharir
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v4i2.247

Abstract

Agama Islam adalah agama yang diridhoi Allah SWT. Islam adalah berserah diri, pasrah, patuh, dan tunduk kepada Allah SWT, dan senantiasa mematuhi semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Islam ialah agama yang damai. Dewasa ini banyak pemikiran-pemikiran tentang Islam yang menyimpang, seperti Islam radikal, Islam liberal, dan lain-lain. Kemudian muncullah moderasi Islam sebagai solusinya. Moderasi Islam itu menuntut umat muslim untuk bersikap adil, seimbang (moderat), tidak ektrem (radikal) dan tidak liberal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep moderasi Islam dalam Al-Qur’an melalui tafsir An-Nûr dan Al-Azhâr. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian pustaka, dan untuk metode analisis datanya, menggunakan metode deskriptif-analitik. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa moderasi Islam ialah salah satu manhaj atau paham dan aliran pemikiran Islam yang mengedepankan pandangan dan sikap moderat (al-tawassuṭ), adil (al-adl), toleransi (al-tasâmuh) tidak berlebih-lebihan (al-ghulu aw al-ifrât), tidak menyempitkan (al-tafrît), mengutamakan kebaikan (al-khairiyah) serta seimbang (al-tawâzun) dan proposional (al-i’tidâl) dalam beragama dan menerapkan ajaran Islam dan ketika berhadapan dengan fenomena-fenomena dan problematika kehidupan manusia. Hasbi Ash-Shiddieqy dan Buya Hamka memandang umat Islam adalah ummat yang wasat (tengah), menurut Hasbi, ummat wasat itu bermakna umat yang paling baik, adil, seimbang (moderat), tidak berlebih-lebihan dan tidak terlalu kurang dalam menunaikan kewajiban agamanya, sedangkan Buya Hamka berpendapat  ummat wasat itu bermakna umat yang senantiasa menempuh jalan yang lurus dan tidak terpaku akan dunia dan akhirat, melainkan antara keduanya berjalan beriringan.
FITNAH WANITA DALAM AL-QUR’AN (STUDI KOMPARATIF ANTARA TAFSIR AL-QURṬUBI DAN TAFSIR AN-NÛR) Zaimil Anam; Agus Kharir
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v5i1.294

Abstract

Pada zaman modern ini, banyak pria yang tercoreng kehormatannya akibat tergoda oleh wanita. Wanita yang banyak menjadi fitnah bagi para kaum pria yaitu wanita yang mengumbar-umbar auratnya. Dalam syari’at Islam, wanita wajib menutup auratnya, yaitu seluruh tubuh, dari ujung kepala sampai ujung kaki atau lebih sempurna lagi dengan menggunakan kaos kaki, dan yang diperbolehkan nampak hanya wajah dan kedua telapak tangan. Rasulullah SAW menegaskan bahwasanya wanita merupakan fitnah yang paling berat dari pada fitnah-fitnah lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fitnah wanita dalam Al-Qur’an dengan menggunakan tafsir Al-Qurṭubi dan tafsir An-Nûr sebagai sumber primernya. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian pustaka, dan untuk metode analisis datanya, menggunakan metode deskriptif-analitik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa fitnah kaum wanita menurut Imam Al-Qurṭubi itu lebih berat dibandingkan dengan fitnah-fitnah lainnya. Menurut Hasbi, fitnah wanita disebut pertama kali sebelum fitnah-fitnah yang lain, karena wanita memang menjadi tumpuan pandangan dan jiwa manusia. Tidak dapat diragukan, bahwa kecintaan para pria kepada perempuan mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan umat manusia, dan dengan kecintaan antara kedua makhluk berlawanan jenis itulah terpelihara kelangsungan hak-hak (kehidupan) umat manusia. Kedua mufasir ini memiliki banyak persamaan dalam memahami dan menafsirkannya, akan tetapi yang menjadi perbedaan dari keduanya adalah dari segi penafsirannya.
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA AGAMA DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR FÎ ẒILÃLIL QUR’ÃN Supardi, Agus Kharir
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i1.597

Abstract

Dalam al-Qur’an agama disebut juga dengan al-Dîn yang berarti kemenangan, tuntunan, dan hukum. Secara istilah Agama merupakan ajaran, petunjuk dan aturan Allah kepada manusia, karena agama tuntunan dan cara bagaimana seorang manusia bersikap dan bergaul dengan Allah, Rasul, serta sesama manusia. Agama memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian sosial maupun individu. Agama dalam bermasyarakat memiliki dua dampak besar yaitu konflik dan kerukunan. konflik bernuansa agama telah menjadi sejarah seperti Islam dan Kristen-Barat. Namun, konflik agama masih bisa di saksikan oleh manusia dewasa ini. Islam yang merupakan agama rahmat selalu mengajarkan kepada pemeluknya agar cinta damai dan hidup rukun. Oleh karena itu, artikel ini akan mengkaji bagaimanakah pandangan al-Qur’an mengenai kerukunan antar umat beragama dari sudut pandang tafsir Fî zilãlil Qur’ãn serta bagaimana solusi supaya kerukunan antar umat beragama terpelihara. Peneliti akan memakai metode riset pustaka dengan menganalisis serta mendeskripsikan data yang yang terkumpul. Setelah menelaah mengenai ayat-ayat kerukunan antar umat beragama dalam tafsir Fî zilãlil Qur’ãn, peneliti menyimpulkan bahwa kerukunan antar umat beragama merupakan kehidupan masyarakat beragama yang menghormati kebebasan beragama, menghargai dan menjaga tindakan dari perusakan tempat ibadah agama lain, tidak mencela dan menghina ajaran agama lain, mengasihi dan bahu-membahu dalam kehidupan sosial antar umat beragama.
Beyond Spiritual Ritual: Qur’anic Khataman as a Catalyst for Socio-Economic Solidarity in Rural Indonesia Kharir, Agus; Lizamah, Mawaddatul
Surau Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2025): Surau Journal of Islamic Studies
Publisher : MD Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63919/surau.v1i2.22

Abstract

This study examines the dual role of Qur’anic khataman tradition at Ihsanul Ato Mosque in Sumenep, Indonesia, as both a spiritual practice and a mechanism for socio-economic solidarity. Through an exploratory qualitative approach—using in-depth interviews, participatory observation, and document analysis—the research reveals how khataman transcends its religious function to foster community resilience. Findings indicate that khataman integrates weekly arisan (rotating savings scheme) into its structure, creating an informal economic network that supports collective needs such as healthcare, education, and small-business capital. Simultaneously, it serves as a vital social space where villagers across ages and professions strengthen communal bonds, share information, and provide moral support. The tradition bridges Islamic spirituality with local socio-cultural values like gotong royong (mutual cooperation), transforming the mosque into a dynamic hub for holistic community development. Participants report enhanced social cohesion, economic reciprocity, and intergenerational transmission of Qur’anic values such as sincerity and solidarity. However, the study’s single-site focus limits broader generalizability, and future research should explore variables like gender dynamics and local leadership. This research contributes to socio-religious studies by demonstrating how grassroots religious practices can drive sustainable socio-economic empowerment. It challenges reductionist views of khataman as merely ritualistic, positioning it instead as a adaptive strategy for resource-scarce rural communities. Policymakers may leverage such indigenous traditions to design culturally resonant social programs in Muslim-majority contexts.
KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SANTRIWATI KELAS XII DI MA’HAD TAHFIDH AL-QUR’AN PONDOK PESANTREN AL-AMIEN ?PRENDUAN SUMENEP Jannah, Ifdlalatul; Agus Kharir
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan aspek fundamental dalam memahami dan menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Membaca Al-Qur’an memiliki aturan baku yang telah ditetapkan sejak wahyu diturunkan, yang harus diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan dalam pelafalan dan pemaknaan. Santriwati kelas XII di Ma’had Tahfidh Al-Qur’an Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan memiliki peran sebagai teladan bagi santriwati lainnya dan dipersiapkan untuk menjadi pengajar di masa mendatang. Namun, penelitian ini menemukan bahwa masih terdapat kendala dalam keterampilan membaca Al-Qur’an, terutama pada ayat-ayat yang tidak mereka hafal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Fokus kajian meliputi analisis kemampuan membaca Al-Qur’an santriwati kelas XII serta strategi peningkatan keterampilan membaca mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santriwati dari program takhassus memiliki bacaan yang lebih baik dibandingkan santriwati dari program non-takhassus. Langkah-langkah peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an dilakukan melalui penguatan tajwid, makharijul huruf, serta intensifikasi latihan dengan metode tartil dan fashih. Selain itu, faktor lingkungan pesantren, bimbingan muhaffidhah, serta dukungan keluarga juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan keterampilan membaca Al-Qur’an santriwati kelas XII.
Program of Reading Activities for Surah Al-Hadid Verses 1-3 and Surah Al-Hasyr Verses 22-24 Ba'da Subuh (Study of Living Qur'an Among Niha'ie IDIA Prenduan Students) Nisrina Audini; Agus Kharir
Classroom: Journal of Islamic Education Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/classroom.v2i1.23

Abstract

The activity of reading selected surahs has existed or started in the Rusunawa building which is occupied by final semester students, reading the Al-Qur'an in several selected surahs (surah al-Hadid verses 1-3 and surah al-Hasyr verses 22-24), this is a routine activity carried out after the morning congregational prayer which is led directly by the chaplain of the private department. In this research we will analyze the activities carried out by IDIA Prenduan niha'ie students every day, it is hoped that a deeper understanding can be found. regarding these routine activities and looking for their uniqueness, benefits and implications in everyday life. The problem raised in this research is the motives, aims and benefits of reading surah al-Hadid verses 1-3 and surah al-Hasyr verses 22-24 among Niha'ie IDIA Prenduan students. This research uses a descriptive qualitative approach with a phenomenological type of research. The data collection techniques used in this research are observation, interviews and documentation. This research resulted in 1. The aim of the program for reading surah al-Hadid verses 1-3 and surah al-Hasyr verses 22-24 ba'da Fajr at Niha'ie Putri IDIA Prenduan, firstly, is to familiarize students with reading surahs al-Hadid verses 1-3 and surah al-Hashr verses 22-24 after dawn so that you can wake up and get peace of mind so you can avoid unwanted bad things. 2. The benefits obtained by female students are that students receive personal protection, eliminate feelings of worry, fear, and calm their hearts.
POLEMIK SEMUA ORANG MENDATANGI NERAKA DALAM PERSPEKTIF IMAM AL-TABARI Agus Kharir; Umrana
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 22 No. 1 (2022): Al Burhan: Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur’an
Publisher : LP2M Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53828/9zzx3b32

Abstract

This article describes about hell in various suras in the Qur'an, one of which is Surah Maryam verses 71 and 72. Unlike other verses, this verse states that everyone will come to hell whether he is a disobedient person or a believer. Regarding this verse, there are differences of opinion on the meaning of the word وَارِدُهاَ which means to come to him. Some interpret it with the meaning of entering. While some others interpret it with the meaning of passing. Imam al-Tabari is one of the commentators who provides a fairly detailed interpretation of the verse. The author uses a qualitative method of literature (library research) with the theory of tahlili. The author conducts a search and collects various data related to the variables studied, then analyzes interpretively and descriptively on the data that has been collected. The meaning of the word وَارِدُهاَ in this verse according to al-Tabari is al-Mururu or passing, that is, all believers or unbelievers will pass through hell, namely through sirat that lies above hell. But among them there are those who survived through it and some who fell into hell. Regarding the criteria for those who are saved on the journey through the sirat, Imam al-Tabari stated that they are pious people. As for the criteria for those who are allowed to fall into hell according to al-Tabari, they are those who wrong themselves