Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

LUDRUK SEBAGAI MEDIA MENGABARKAN MISI KERAJAAN ALLAH DI LINGKUP GREJA KRISTEN JAWI WETAN Kusumaningdyah, Dwi Ratna; Panjaitan, Firman
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i1.356

Abstract

This study aims to explain ludruk culture as a means to preach the mission of the Kingdom of God in the scope of Jawi Wetan Christian Church (GKJW). Generally, the play/story ludruk revolves around social criticism of people's lives, with the aim of improvement in the lives of these people. Using the qualitative – descriptive method, this study shows the intersection point in the story ludruk with the mission of the Kingdom of God, so that ludruk can be used as a cultural foundation to bring the mission of the Kingdom of God on Earth East Java. The results showed that ludruk and the mission of the Kingdom of God are an appropriate synergy for GKJW to preach the mission of the Kingdom of God.
Semua Makhluk adalah Saudara: Sinergi Pemikiran Paus Fransiskus dengan Budaya Jawa Panjaitan, Firman; Kusumaningdyah, Dwi Ratna
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11441

Abstract

The world needs a contextual concept of Ecoteology, in the sense of a scientific study of theology that is friendly and caring for the environment that is increasingly in harmony with the Will of the creator. Through contextual ecoteology, humans can build harmonious relationships with God, others and the universe. Driven by these backgrounds, the purpose of this paper is to spark an understanding of contextual ecotheology through the synergy between the concept of ecotheology developed by Pope Francis, in his eksikliknya entitled Laudato Si’, Mi Signore, with the concept of Ecology in Javanese culture. This can be done because both views have parallels in view, namely placing nature and humans in one alignment that live and support each other. In this parallel, nature and man go through the process of becoming perfect in their submission and submission to God, The Creator. This study uses descriptive qualitative methods, relying on the literature approach. The results showed that the synergy between Pope Francis ' ecotheological view and the ecological view of Javanese culture can be carried out, resulting in a view of Javanese contextual ecotheology.AbstrakDunia membutuhkan sebuah konsep Ekoteologi yang kontekstual, dalam arti sebuah kajian ilmiah tentang teologi yang ramah dan peduli pada lingkungan hidup yang kian selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Melalui ekoteologi kontekstual tersebut, manusia dapat membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama dan alam semesta. Didorong oleh latar belakang tersebut, maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk mencetuskan pemahaman ekoteologi kontekstual melalui sinergi antara konsep ekoteologi yang dikembangkan oleh Paus Fransiskus, dalam eksikliknya yang berjudul Laudato Si’, Mi Signore, dengan konsep ekologi dalam budaya Jawa. Hal ini bisa dilakukan karena kedua pandangan tersebut memiliki kesejajaran dalam pandangan, yaitu menempatkan alam dan manusia dalam satu kesejajaran yang saling hidup dan menghidupi satu sama lain. Dalam kesejajaran tersebut, alam dan manusia mengalami proses untuk menjadi sempurna dalam ketundukan dan penyerahan diri mereka kepada Tuhan, Sang Pencipta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan mengandalkan pendekatan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi antara pandangan ekoteologi Paus Fransiskus dengan pandangan ekologi budaya Jawa dapat dilakukan, sehingga menghasilkan pandangan tentang ekoteologi kontekstual Jawa.
Spiritualitas Kenosis: Tantangan dan Tuntutan untuk Mewujudkan Gereja Kaum Miskin Di Tengah Budaya Jawa Kusumaningdyah, Dwi Ratna; Panjaitan, Firman
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 7 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v7i2.599

Abstract

Fenomena kemiskinan menjadi masalah yang tidak dapat dihindari oleh gereja, dan gereja pun tidak dapat mengabaikan fenomena ini. Gereja harus merengkuh kemiskinan sehingga menjadi bagian dari kehidupan gereja secara utuh. Hambatan utama perengkuhan gereja terhadap kemiskinan adalah strata sosial masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, yang bersifat hierarki. Pembagian kelompok dalam hierarki masyarakat, seringkali memupus habis empati terhadap kemiskinan. Berdasarkan hal ini, tujuan dari penelitian ini adalah membangun sebuah upaya agar gereja dapat merengkuh kemiskinan yang diwujudkan dalam bentuk gereja kaum miskin. Sarana utama dalam merengkuh kemiskinan adalah spiritualitas kenosis (pengosongan diri), yang dihasilkan dari sinergi antara kenosis Yesus Kristus, dalam Injil, dengan kenosis Semar dan Togog, dalam pemahaman budaya Jawa. Dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya dengan pendekatan kepustakaan, penelitian ini menghasilkan bahwa gereja kaum miskin dapat dibangun bila gereja memiliki spiritualitas kenosis. Dengan spiritualitas kenosis, gereja bukan hanya merengkuh kemiskinan melainkan juga masuk, melibatkan diri, dan menjadi bagian langsung dari kemiskinan itu, sehingga setiap anggota jemaat yang ada di dalam gereja, meskipun mereka berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, hidup dalam pola kesejajaran yang bersifat egaliter.
Perempuan Sebagai Agen Keselamatan: Tafsir Naratif Terhadap Ester 4–5 dan 7 Panjaitan, Firman; Kusumaningdyah, Dwi Ratna
MARSAHALA : Jurnal Studi Agama dan Budaya ##issue.vol## 1 ##issue.no## 2 (2025)
Publisher : L-SAPIKA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64099/wacvj161

Abstract

Dalam konteks sosial dan religius yang masih didominasi struktur patriarkhal, pembacaan ulang terhadap tokoh perempuan dalam Kitab Suci menjadi penting untuk menegaskan kembali kontribusi perempuan dalam proses perubahan sosial dan religius. Artikel ini menganalisis transformasi tokoh Ester dalam pasal 4–5 dan 7, yaitu dari perempuan yang dibentuk oleh budaya patriarkhal–feodal menjadi aktor sentral dalam narasi penyelamatan bangsanya. Dengan menggunakan pendekatan tafsir naratif, penelitian ini mengamati alur cerita, perkembangan karakter, hubungan simbolik tokoh, dan dinamika relasi kuasa dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ester mengalami proses kesadaran kritis yang mendorongnya keluar dari posisi pasif menuju kepemimpinan yang aktif, strategis, dan terukur. Melalui kecerdasan, keberanian, diplomasi yang halus, dan kerja kolektif dengan komunitasnya, Ester berhasil membalik struktur relasi kuasa gender tanpa pendekatan konfrontatif langsung. Narasi ini sekaligus memperlihatkan kompleksitas etis dalam proses pembebasan, karena keberhasilan Ester pada akhirnya tidak terlepas dari strategi yang turut melibatkan bentuk kekerasan. Penelitian ini membuka ruang refleksi teologis mengenai relasi antara gender, kuasa, dan keselamatan, serta relevansinya bagi pembacaan kontemporer tentang agensi perempuan dalam konteks sosial-keagamaan masa kini.