p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Ebers Papyrus
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KORELASI SCREEN TIME TERHADAP PERKEMBANGAN BERBAHASA ANAK USIA 2-5 TAHUN Purwanto, Nadya Putri; Kunta Adjie, Eko Kristanto
Ebers Papyrus Vol. 27 No. 2 (2021): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v27i2.16129

Abstract

Penggunaan screen time pada anak usia dini saat ini sangat tinggi. Paparan screen time jangka panjang dapat memengaruhi perkembangan berbahasa anak. Kemampuan berbahasa ekspresif dan reseptif membuat anak mampu mengekspresikan keinginan, ide, dan perasaannya karena bicara merupakan salah satu kemampuan dasar yang penting dalam perkembangan anak usia dini. Gangguan berbahasa selalu dikaitkan dengan lamanya screen time. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada tahun 2017 dari 84 anak, 37 diantaranya (41% perempuan dan 59% laki-laki) mengalami keterlambatan berbahasa dengan rata-rata screen time adalah 4 jam per hari. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya korelasi antara screen time terhadap perkembangan berbahasa anak usia 2-5 tahun di KB-TK St. Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Penelitian ini bersifat analitik potong lintang dengan pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Subjek penelitian adalah 65 anak usia 2-5 tahun di KB-TK St. Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Pengumpulan data dengan kuisioner online dan KPSP. Hasil penelitian menunjukkan 41 orang (63,1 %) memiliki screen time lebih dari 2 jam per hari dan 24 orang (36,9 %) memiliki screen time kurang dari 2 jam per hari. Terdapat 34 orang (52,3 %) perkembangan berbahasanya sesuai menurut KPSP dan 31 orang (47,7 %) yang perkembangan berbahasanya terlambat. Hasil uji Chi-square didapatkan tidak ada korelasi antara screen time dan perkembangan berbahasa anak (p = 0,818). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ditemukan korelasi antara screen time dan perkembangan berbahasa anak usia 2-5 tahun di KB-TK St. Theresia, Menteng, Jakarta Pusat.
KARAKTERISTIK PENGETAHUAN ORANGTUA TERHADAP KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI DI TK MARDI YUANA CIBADAK 2023: - Felda, Felda; Kunta Adjie, Eko Kristanto
Ebers Papyrus Vol. 29 No. 1 (2023): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v29i1.23946

Abstract

Imunisasi adalah tindakan untuk memberikan paparan antigen dari patogen yang bertujuan menciptakan respon imun terhadap penyakit tertentu. Banyak orangtua yang belum membawa anaknya untuk imunisasi dikarenakan minimnya pengetahuan dan banyaknya hoax tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Data yang dirilis oleh Kementrian Kesehatan pada tanggal 14 Juli 2022 memperlihatkan bahwa persentase Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) yang tercapai hanya 33,4%, dan untuk cakupan imunisasi pada anak di bawah usia dua tahun hanya mencapai 28,4%. Faktor rendahnya angka cakupan imunisasi salah satunya disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang KIPI. Reaksi KIPI didefinisikan sebagai semua peristiwa medis yang berkaitan dengan vaksinasi berupa respon penyuntikan, respon imunisasi, dampak dari obat dan kekeliruan tindakan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengetahuan orangtua terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pada anak di TK Mardi Yuana Cibadak. Penelitian ini termasuk studi observasional deskriptif potong lintang dan cara pengambilan sampel dengan kuesioner oleh 37 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Diperoleh nilai rata-rata tingkat pengetahuan orangtua tentang KIPI adalah 67,5 dengan nilai tertinggi adalah 85 dan nilai terendah adalah 50. Nilai rata-rata tingkat penanganan KIPI pada anak adalah 78,8 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 50. Kesimpulan penelitian ini adalah perlu adanya peningkatan pengetahuan dan cara penanganan KIPI secara menyeluruh oleh fasilitas kesehatan terkait kepada orangtua agar lebih tanggap melakukan penanganan KIPI.