Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LAPORAN KASUS : MYASTENIA GRAVIS Purwanto, Nadya Putri; Sunaryo, Sunaryo
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.26082

Abstract

Myastenia Gravis adalah penyakit autoimun neurologis yang ditandai dengan kegagalan transmisi pada taut saraf otot atau neuromuscular junction (NMJ). Autoantibodi yang paling sering ditemukan pada pasien myasthenia gravis yaitu antibodi terhadap reseptor asetilkolin. Insidens terjadinya myastenia gravis adalah 61.33 kasus per juta orang per tahun dan insidens global pada myastenia gravis antibodi reseptor asetilkolin berkisar antara 4-18 per juta kasus per tahun. Manifestasi klinis yang dapat ditemukan adalah kelemahan pada otot, yang biasanya mempengaruhi otot pada bagian mata, tenggorokan, dan ekstremitas. Pada 10-15% penderita myastenia gravis, timoma (thymic tumor) dapat muncul dan disarankan melakukan reseksi timus, kemoterapi, dan terapi radiasi. Pengobatan utama myasthenia gravis adalah penghambat asetilkolinesterase dan agen imunosupresif.  Laporan kasus ini menyajikan tentang wanita berusia 32 tahun dengan keluhan kedua kelopak mata terasa berat dan sering menutup sendiri serta melihat benda seperti ada dua, terutama jika pasien kelelahan saat bekerja. Keluhan ini sudah dirasakan pasien sejak 5 tahun yang lalu. Dilakukan pemeriksaan fisik yaitu pemeriksaan wartenberg dan tes hitung yang hasilnya positif. Tatalaksana pada pasien ini adalah mestinon 60 mg 3x1 dan mecobalamin 500 mcg 1x1. Hasil dari tatalaksana yang diberikan adalah adanya perbaikan gejala. Kesimpulan laporan kasus ini adalah diagnosis dan tatalaksana dini myastenia gravis dapat meningkatkan kemungkinan pasien mengalami remisi.
KORELASI SCREEN TIME TERHADAP PERKEMBANGAN BERBAHASA ANAK USIA 2-5 TAHUN Purwanto, Nadya Putri; Kunta Adjie, Eko Kristanto
Ebers Papyrus Vol. 27 No. 2 (2021): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v27i2.16129

Abstract

Penggunaan screen time pada anak usia dini saat ini sangat tinggi. Paparan screen time jangka panjang dapat memengaruhi perkembangan berbahasa anak. Kemampuan berbahasa ekspresif dan reseptif membuat anak mampu mengekspresikan keinginan, ide, dan perasaannya karena bicara merupakan salah satu kemampuan dasar yang penting dalam perkembangan anak usia dini. Gangguan berbahasa selalu dikaitkan dengan lamanya screen time. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada tahun 2017 dari 84 anak, 37 diantaranya (41% perempuan dan 59% laki-laki) mengalami keterlambatan berbahasa dengan rata-rata screen time adalah 4 jam per hari. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya korelasi antara screen time terhadap perkembangan berbahasa anak usia 2-5 tahun di KB-TK St. Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Penelitian ini bersifat analitik potong lintang dengan pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Subjek penelitian adalah 65 anak usia 2-5 tahun di KB-TK St. Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Pengumpulan data dengan kuisioner online dan KPSP. Hasil penelitian menunjukkan 41 orang (63,1 %) memiliki screen time lebih dari 2 jam per hari dan 24 orang (36,9 %) memiliki screen time kurang dari 2 jam per hari. Terdapat 34 orang (52,3 %) perkembangan berbahasanya sesuai menurut KPSP dan 31 orang (47,7 %) yang perkembangan berbahasanya terlambat. Hasil uji Chi-square didapatkan tidak ada korelasi antara screen time dan perkembangan berbahasa anak (p = 0,818). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ditemukan korelasi antara screen time dan perkembangan berbahasa anak usia 2-5 tahun di KB-TK St. Theresia, Menteng, Jakarta Pusat.