Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK PENGETAHUAN ORANGTUA TERHADAP KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI DI TK MARDI YUANA CIBADAK 2023: - Felda, Felda; Kunta Adjie, Eko Kristanto
Ebers Papyrus Vol. 29 No. 1 (2023): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v29i1.23946

Abstract

Imunisasi adalah tindakan untuk memberikan paparan antigen dari patogen yang bertujuan menciptakan respon imun terhadap penyakit tertentu. Banyak orangtua yang belum membawa anaknya untuk imunisasi dikarenakan minimnya pengetahuan dan banyaknya hoax tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Data yang dirilis oleh Kementrian Kesehatan pada tanggal 14 Juli 2022 memperlihatkan bahwa persentase Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) yang tercapai hanya 33,4%, dan untuk cakupan imunisasi pada anak di bawah usia dua tahun hanya mencapai 28,4%. Faktor rendahnya angka cakupan imunisasi salah satunya disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang KIPI. Reaksi KIPI didefinisikan sebagai semua peristiwa medis yang berkaitan dengan vaksinasi berupa respon penyuntikan, respon imunisasi, dampak dari obat dan kekeliruan tindakan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengetahuan orangtua terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pada anak di TK Mardi Yuana Cibadak. Penelitian ini termasuk studi observasional deskriptif potong lintang dan cara pengambilan sampel dengan kuesioner oleh 37 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Diperoleh nilai rata-rata tingkat pengetahuan orangtua tentang KIPI adalah 67,5 dengan nilai tertinggi adalah 85 dan nilai terendah adalah 50. Nilai rata-rata tingkat penanganan KIPI pada anak adalah 78,8 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 50. Kesimpulan penelitian ini adalah perlu adanya peningkatan pengetahuan dan cara penanganan KIPI secara menyeluruh oleh fasilitas kesehatan terkait kepada orangtua agar lebih tanggap melakukan penanganan KIPI.
COMMUNITY DIAGNOSIS ACTIVITIES TO REDUCE THE NUMBER OF DIABETES MELLITUS CASES IN KAMPUNG MELAYU TIMUR VILLAGE, RT 03/RW 11, WORKING AREA OF TELUKNAGA COMMUNITY HEALTH CENTER, TELUKNAGA DISTRICT, TANGERANG REGENCY, BANTEN PROVINCE PERIOD: JULY 14 – AUGUST 15, 2025 Ningrum, Leny Sulistia; Makmur, Shania; Felda, Felda; Jonathan, Jonathan; Surjadi, Tom
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54579

Abstract

Di Indonesia, beban diabetes melitus terus mengalami peningkatan, khususnya di tingkat komunitas, di mana rendahnya tingkat pengetahuan, perilaku gaya hidup yang tidak sehat, serta pengelolaan penyakit yang belum optimal berkontribusi terhadap buruknya kontrol glikemik. Kegiatan diagnosis komunitas dan intervensi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor mendasar yang berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah kasus diabetes melitus di Desa Kampung Melayu Timur RT 03/RW 11, wilayah kerja Puskesmas Teluknaga, serta mengevaluasi efektivitas pendidikan kesehatan berbasis komunitas dalam meningkatkan pengetahuan terkait pencegahan dan pengelolaan diabetes melitus. Kegiatan dilaksanakan pada periode 14 Juli hingga 15 Agustus 2025 dengan menggunakan pendekatan diagnosis komunitas berdasarkan Paradigma Blum. Penentuan prioritas masalah dilakukan menggunakan metode USG dan teknik Delphi, sedangkan analisis akar masalah dilakukan dengan menggunakan diagram fishbone dan metode 5 Whys. Intervensi yang diberikan meliputi penyuluhan kesehatan mengenai diabetes melitus, konseling pola makan sehat dan aktivitas fisik, serta edukasi mengenai modifikasi gaya hidup untuk mendukung pengendalian kadar glukosa darah. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat yang bermakna setelah intervensi, yang mengindikasikan bahwa program pendidikan kesehatan yang terstruktur dapat berperan penting dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong perilaku hidup sehat guna mendukung pencegahan dan pengendalian diabetes melitus di tingkat komunitas.