Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMANFAATAN SELA TANAMAN DAN LAHAN PEKARANGAN DENGAN BUDIDAYA LADA PERDU SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN KELOMPOK TANI JAYA MAKMUR KABUPATEN PESAWARAN Usodri, Kresna Shifa; Utoyo, Bambang; Same, Made; Safitri, Novi
Jurnal Pengabdian Nasional Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jpn.v4i2.3469

Abstract

Desa Wiyono, termasuk desa yang penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Penduduk di desa tersebut mayoritas sebesar 82% merupakan masyarakat transmigrasi dari Pulau Jawa yang bertani tanaman perkebunan seperti kakao, pala, lada dan kelapa. Berdasarkan hasil survei dan diskusi dengan salah satu kelompok tani di Desa Wiyono yaitu Kelompok Tani Jaya Makmur dan masyarakat di sekitar, Kelompok Tani Jaya Makmur sudah mendapatkan bibit lada perdu yang merupakan kerja sama Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi dengan Pemerintah daerah setempat. Pengembangan lada perdu ini memiliki beberapa keuntungan diantaranya, tanaman lada perdu lebih cepat berbuah, tidak membutuhkan tiang panjat, bisa ditanam di halaman rumah atau ditanam dalam pot, sehingga dalam melakukan panen lebih mudah. Sehingga dengan adanya bibit lada perdu ini, Kelompok Tani Jaya Makmur menginginkan pendapatan tambahan dari proses budidayanya. Namun, dengan kondisi lahan yang ada telah ditanami komoditas tanaman perkebunan lainnya, para petani masih ragu untuk melakukan budidaya tanaman lada perdu. Oleh karena itu, Tim Pengabdian Polinela memberikan solusi budidaya lada perdu menggunakan teknologi pemanfaatan sela tanaman dan lahan pekarangan. Tim Pengabdian Polinela melakukan fokus dalam proses budidaya lada perdu yang baik dan berkelanjutan untuk produksi lada yang berkesinambungan. Penerapan teknologi itu dilakukan melalui penyuluhan, demonstrasi, pelatihan, konsultasi, dan bimbingan, serta evaluasi. Penyuluhan yang dilakukan dengan menjabarkan dan memberi wawasan tentang proses budidaya lada perdu yang baik dan berkelanjutan. Setelah penyuluhan, dilakukan pendampingan dengan cara memantau dan mengevaluasi program inovasi yang diberikan atau diterapkan kepada petani. Peningkatan pemahaman dan pengembangan teknis teknologi sebesar 100% dan penerapan teknologi sebesar 40%.
APLIKASI TRICHODERMA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN BUSUK PANGKAL BATANG DAN BUSUK AKAR PADA BUDIDAYA LADA PERDU DI DESA WIYONO KABUPATEN PESAWARAN Safitri, Novi; Utoyo, Bambang; Usodri, Kresna Shifa; Same, Made; Fauziah, Lu’lu’ Kholidah
Jurnal Pengabdian Nasional Vol 5 No 2 (2024)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jpn.v5i2.3773

Abstract

Desa Wiyono, termasuk desa yang penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sebesar 69,8% lahan di Desa Wiyono digunakan untuk pertanian, 28,61% digunakan untuk pemukiman serta perdagangan dan jasa, dan 0,68% digunakan untuk jalan. Berdasarkan hasil survei dan diskusi dengan kelompok tani dan masyarakat Desa Wiyono, mereka mendapatkan lada sebagai hasil kerja sama antara Dinas Pertanian Provinsi dengan pihak perkebunan dan pemerintah setempat. Hasil temuan di lapangan hampir 40% tanaman lada khususnya lada perdu yang dibudidayakan oleh petani mitra mengalami patah bagian pangkal batang dan busuk di seluruh bagian tanaman. Hal tersebut disebabkan oleh adanya serangan penyakit busuk pangkal batang dan busuk akar yang menyerang tanaman lada. Oleh karena itu, petani mengingkan solusi yang berkelanjutan dalam penanganan budidaya lada khususnya lada perdu untuk pengelolaan hama dan penyakit tanaman. Berdasarkan hal tersebut maka tim pengabdian Polinela melakukan fokus dalam pengelolaan penyakit yang ramah lingkungan dengan menerapkan tindakan preventif melalui penggunaan agen hayati Trichoderma. Hal ini tentu perlu dilakukan pendampingan dalam penerapan inovasi atau teknologi tersebut. Tim Pengusul kegiatan telah merancang metode kegiatan yang akan diterapkan dengan cara penyuluhan, demonstrasi, pelatihan, konsultasi, dan bimbingan, serta evaluasi. Penyuluhan yang dilakukan dengan menjabarkan dan memberi wawasan tentang pentingnya agen hayati Trichoderma dalam pengendalian penyakit selama proses budidaya lada perdu.
PENGARUH KNO3 DAN PERBEDAAN UMUR BIBIT PADA PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI MAIN-NURSERY Usodri, Kresna Shifa; Utoyo, Bambang; Widiyani, Dimas Prakoswo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 9, No 3 (2021): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 9, SEPTEMBER 2021
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v9i3.5145

Abstract

Pembibitan di main-nursery dapat menghasilkan bibit yang berkualitas apabila selama prosesnya dilakukan pemeliharaan yang baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pemenuhan unsur hara yang cukup serta fase umur pindah tanam yang sesuai dari pre-nursery ke main-nursery. Oleh sebab itu, perlu dilakukan uji tanaman dengan menggunakan umur bibit pindah tanam yang berbeda dengan penambahan KNO3 . Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial dua faktor (4x5). Faktor pertama perlakuan adalah umur bibit kelapa sawit 45 hari setelah tanam (U1 ), 60 hari setelah tanam (U2 ), 75 hari setelah tanam (U3 ), dan 90 hari setelah tanam (U4 ). Faktor ke dua berupa dosis pupuk yang terdiri dari pupuk NPK Majemuk rekomendasi (P1 ), Pupuk KNO3 1% (P2 ), Pupuk KNO3 2% (P3 ), Pupuk KNO3 3% (P4 ), dan Pupuk KNO3 4% (P5 ) dengan penambahan pupuk NPK Majemuk 0,25 dosis rekomendasi pada perlakuan P2, P3, P4, P5. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F pada taraf α=5%. Jika hasil analisis ragam nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf á=5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemindahtanaman bibit kelapa sawit dapat dilakukan pada umur 45 hari setelah tanam dan pemberian pupuk KNO3 konsertrasi 4% dengan 0,25 dosis rekomendasi NPK majemuk dapat mengoptimalkan pertumbuhan pada pembibitan kelapa sawit dengan biaya yang lebih efisien.
Identifikasi Hubungan Iklim Mikro pada Tanaman Kopi Robusta (Coffea chanepora) Dataran Rendah Widiyani, Dimas Prakoswo; Gusta, Adryade Reshi; Aziz, Abdul; Usodri, Kresna Shifa; Hartono, Joko S. S; Hamdani, Hamdani
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 6 No 2 (2022): SEPTEMBER
Publisher : Kadiri University - Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v6i2.2774

Abstract

The provinces of West Lampung and Tangamus are areas of robusta coffee development and as one of the leading Indonesian coffee producers in Indonesia. Lampung Province has a geographical area and climate suitable for the growth and development of robusta coffee. Robusta coffee, although derived from vegetative plants, often shows varied phenotypic responses based on environmental differences. A plant must be affected by internal factors such as genetics or from outside such as the environment, the process of growth and development. Coffee plants tend to want to grow in the highlands so that in the lowlands they don't. The research is aimed at identifying microclimate conditions in lowland coffee plantations, as a reference in environmental modification in order to optimize growth and produce optimal productivity. Early research was carried out in August – November 2021 in the experimental garden of the Lampung State Polytechnic. The method in this experiment uses a survey method. The results obtained are microclimate conditions that vary between plots and there is a unidirectional correlation between climate elements and in line with production results based on linear regression tests carried out, namely with a value > 0.5 which indicates that each component of the climate element is very strong in influencing one with the other. others as well as production. Provinsi Lampung Barat dan Tangamus merupakan daerah pengembangan kopi robusta dan sebagai salah satu produsen kopi Indonesia ternama di Indonesia. Provinsi Lampung memiliki wilayah geografis dan iklim yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan kopi robusta. Kopi robusta, meskipun berasal dari tanaman vegetatif, sering menunjukkan respon fenotipik variatif berdasarkan perbedaan lingkungannya. Suatu tanaman pasti terpengaruh faktor dari dalam seperti genetis atau dari luar seperti lingkungan, proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tanaman kopi cenderung menghendaki tumbuh pada dataran tinggi sehingga pada dataran rendah tidak. Adapun penelitian ditujukan mengidentifikasi kondisi iklim mikro di perkebunan kopi dataran rendah, sebagai acuan dalam modifikasi lingkungan guna mengoptimalkan pertumbuhan serta menghasilkan produktivitas yang optimal. Penelitian dini dilaksanakan pada Agustus – November 2021 dikebun pecobaan Politeknik Negeri Lampung. Metode dalam percobaan ini menggunakan metode survei.  Hasil yang diperoleh terdapat kondisi iklim mikro yang bervariatif antar plot serta terdapat korelasi yang searah antar unsur iklim serta selaras dengan hasil produksi berdasarkan uji regresi linier yang dilakukan, yaitu dengan nilai > 0,5 yang mengindikasikan setiap komponen unsur iklim sangat kuat dalam mempengaruhi satu dengan yang lainya begitupun juga dengan produksi.