Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

APLIKASI TRICHODERMA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN BUSUK PANGKAL BATANG DAN BUSUK AKAR PADA BUDIDAYA LADA PERDU DI DESA WIYONO KABUPATEN PESAWARAN Safitri, Novi; Utoyo, Bambang; Usodri, Kresna Shifa; Same, Made; Fauziah, Lu’lu’ Kholidah
Jurnal Pengabdian Nasional Vol 5 No 2 (2024)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jpn.v5i2.3773

Abstract

Desa Wiyono, termasuk desa yang penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sebesar 69,8% lahan di Desa Wiyono digunakan untuk pertanian, 28,61% digunakan untuk pemukiman serta perdagangan dan jasa, dan 0,68% digunakan untuk jalan. Berdasarkan hasil survei dan diskusi dengan kelompok tani dan masyarakat Desa Wiyono, mereka mendapatkan lada sebagai hasil kerja sama antara Dinas Pertanian Provinsi dengan pihak perkebunan dan pemerintah setempat. Hasil temuan di lapangan hampir 40% tanaman lada khususnya lada perdu yang dibudidayakan oleh petani mitra mengalami patah bagian pangkal batang dan busuk di seluruh bagian tanaman. Hal tersebut disebabkan oleh adanya serangan penyakit busuk pangkal batang dan busuk akar yang menyerang tanaman lada. Oleh karena itu, petani mengingkan solusi yang berkelanjutan dalam penanganan budidaya lada khususnya lada perdu untuk pengelolaan hama dan penyakit tanaman. Berdasarkan hal tersebut maka tim pengabdian Polinela melakukan fokus dalam pengelolaan penyakit yang ramah lingkungan dengan menerapkan tindakan preventif melalui penggunaan agen hayati Trichoderma. Hal ini tentu perlu dilakukan pendampingan dalam penerapan inovasi atau teknologi tersebut. Tim Pengusul kegiatan telah merancang metode kegiatan yang akan diterapkan dengan cara penyuluhan, demonstrasi, pelatihan, konsultasi, dan bimbingan, serta evaluasi. Penyuluhan yang dilakukan dengan menjabarkan dan memberi wawasan tentang pentingnya agen hayati Trichoderma dalam pengendalian penyakit selama proses budidaya lada perdu.
Cytogenetic Evolution and Research Trends in Coffea spp.: Integrating Bibliometric Analysis with Karyotype Evidence Permatasari, Nindy; Fauziah, Lu’lu’ Kholidah; Sari, Resti Puspa Kartika; Hardani, Maisuri; ‘Aliyah, Siti Hamidatul; Siburian, Nora Vetty Vera; Saputra, Deni Tri; Nindita, Miftah Amalia; Rohidayanti, Iis; Aprilintan, Ayuhana; Syahputra, M. Damar; Kumalasari, Yuyun; Saputra, Rama Arsalta Bara; Alansyah, Rio Duta; Rahma, Chanda Rizkia; Simamora, Tomuan Harry Brossy; Rani, Zahra Fania Qud’; Priyambodo
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 6 No. 1 (2026): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/e84tv628

Abstract

This study investigates cytogenetic evolution and research trends in Coffea spp. by integrating bibliometric analysis with karyotype-based evidence. Despite the rapid advancement of genomic research in Coffea spp., the integration of cytogenetic perspectives into broader research trends remains limited. Bibliometric data were retrieved from the Scopus database, covering publications from 1937 to 2026, resulting in 383 articles and reviews analyzed using Biblioshiny through thematic mapping and thematic evolution approaches. The results indicate that coffee genetic research has progressively shifted toward molecular and genomic studies, particularly those related to genetic variation, genome-wide association studies, and high-throughput analytical methods. In contrast, cytogenetic themes, including chromosome organization, karyotype variation, and polyploidization, remain comparatively underrepresented within the broader research landscape. Thematic evolution analysis further reveals a transition from foundational genetic studies to advanced genomic frameworks over time. Cytogenetic synthesis highlights major differences among key coffee species, with Coffea arabica characterized as an allotetraploid species (2n = 44), whereas C. canephora and C. liberica exhibit diploid chromosome complements (2n = 22). These findings demonstrate that chromosome-level perspectives remain insufficiently integrated into contemporary genomic research despite their importance in understanding genome evolution and species differentiation. By combining bibliometric trends with cytogenetic evidence, this study provides a more comprehensive framework for interpreting coffee genome organization and emphasizes the importance of integrating structural and molecular approaches in future coffee research and breeding programs.