Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Studi Eksplorasi Agroklimat Tanaman Kopi Robusta (Coffea canephora) Kabupaten Tanggamus, Lampung Dimas Prakoswo Widiyani; Joko S. S Hartono
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1523

Abstract

Coffee is one of the important commodities in Indonesia. The coffee commodity has strategic potential in the development of the community's economy. Over time coffee production in Indonesia has decreased, the average productivity of coffee in Indonesia is only around 600 kg/ha, while the potential for coffee production per hectare can reach 1000 kg/ha. One of the largest coffee-producing regions is Tanggamus Regency in Lampung. This region’s climate plays an essential part in plant production, even more than soil in determining plant growth and development. Climate elements such as air temperature, solar radiation, and humidity support and play an important role in crop production. Meanwhile physical, chemical, and biological properties of soil are directly related to plant productivity. This research was conducted in 2 sub-districts, namely Sumberejo and Ulubelu Districts from July to October 2020. Based on the results of observations and analysis, it was found that the agro-climatic suitability of some of the Sumberejo and Ulubelu areas was included in the S1 conformity class category, but there is one limiting factor, namely slope. Efforts to modify the environment based on the value of the suitability class are needed. It is recommended to make a terrace to handle the limiting factors. Kopi adalah salah satu komoditas penting yang ada di Indonesia. Komoditas kopi memiliki potensi strategis dalam perkembangan perekonomian masyarakat. Seiring waktu produksi kopi di Indonesia semakin menurun, produktivitas rata-rata kopi di Indonesia hanya berkisar 600 kg/ha, sedangkan potensi produksi kopi tiap hektar bisa mencapai 1000 kg/ha. Salah satu daerah atau kabupaten penghasil kopi terbesar di Lampung adalah Kabupaten Tanggamus. Kabupaten Tanggamus memiliki luas lahan perkebunan kopi sebesar 41.512 ha dengan produksi total sebesar 33.482 ton Salah satu pengaruh lingkungan yang paling esensial adalah iklim. Iklim tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan tanaman, tetapi iklim juga dipengaruhi oleh tanaman. Iklim dapat menjadi faktor yang lebih penting dari pada tanah dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur-unsur iklim seperti suhu udara, radiasi matahari, dan kelembaban mendukung dan berperanan penting secara langsung dalam kegiatan budidaya tanaman. Iklim juga mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah secara tidak langsung. Penelitian ini dilaksanakan di dua Kecamatan yaitu Kecamatan Sumberejo dan Ulubelu pada bulan Juli-Oktober 2020. Berdasarkan hasil observasi dan analisis yang telah didapatkan bahwa kesesuaian agroklimat sebagian kawasan Sumberejo dan Ulubelu masuk kategori kelas kesesuaian S1 atau sesuai namun terdapat satu unsur faktor pembatas yaitu kelerengan. Upaya modifikasi lingkungan berdasarkan nilai kelas kesesuaian maka dianjurkan dalam pembuatan teras agar faktor pembatas dapat ditangani.
Identifikasi Beberapa Unsur Iklim Mikro pada Perbedaan Umur Tanaman Karet ( Hevea brasiliensis) Kresna Shifa Usodri; Dimas Prakoswo Widiyani; Dedi Supriyatdi
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2021.006.2.3

Abstract

Lampung merupakan salah satu provinsi penghasil lateks di Indonesia yang memiliki pola iklim yang berbeda. Perbedaan iklim mikro tersebut terutama terdapat pada besaran unsur iklim mikro pada beberapa wilayah. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui iklim mikro pada suatu areal atau lingkungan pertanaman untuk menjadi acuan dalam proses budidaya dalam mengoptimalkan pertumbuhan serta produksi tanaman. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2019 sampai Maret 2020 di PTPN 7 Unit Usaha Way Berulu, Afdeling 1. Desain percobaan menggunakan perlakuan tunggal dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan yang terdiri dari beberapa umur tanaman:15 tahun setelah penanaman; 14 tahun setelah penanaman; 13 tahun setelah penanaman; 12 tahun setelah penanaman serta diulang sebanyak tiga kali. Data hasil pengamatan akan dianalisis dengan uji F pada taraf α=5%. Jika hasil analisis ragam nyata maka akan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf α=5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perbedaan umur tanaman pada klon karet Pb260 menghasilkan variasi iklim mikro pada setiap bulan pengamatan.
UJI EFEKTIVITAS HERBISIDA NABATI EKSTRAK RIMPANG ALANG-ALANG (Imperata cylindrica (L.) P. Beauv.), BRANDJANGAN (Rottboellia cochinchinensis (Lour.) W.D. Clayton), DAN LAMPUYANGAN (Panicum repens L.) PADA GULMA DI PERTANAMAN KOPI Hidayat, Khoerul Anwar; Riniarti, Dewi; Widiyani, Dimas Prakoswo; Sukmawan, Yan
Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture) Vol 7, No 2 (2023): Jurnal Pertanian Presisi
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/jpp.2023.v7i2.9331

Abstract

Keberadaan gulma dapat menyebabkan penurunan produksi dan kerusakan pada tanaman kopi. Umumnya petani mengendalikan gulma menggunakan herbisida sintetis yang mengandung senyawa glifosat yang memiliki sifat toksik bagi kopi.  Oleh karena itu, alternatif lain yang dapat digunakan adalah herbisida nabati yang mengandung senyawa alelokimia (alelopati). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis herbisida nabati yang terbaik dari tumbuhan rimpang alang-alang (Imperata cylindrica (L.) P. Beauv.),  brandjangan (Rottboellia cochinchinensis (Lour.) W.D. Clayton), dan lampuyangan (Panicum repens L.) untuk pengendalian gulma di pertanaman kopi.  Penelitian ini dilaksanakan di lahan praktikum tanaman kopi belum menghasilkan dan Laboratorium Analisis Politeknik Negeri Lampung pada  Oktober - Desember 2022. Penelitian ini menggunakan RAK faktor tunggal dengan 6 ulangan.  Perlakuan nya yaitu B0 = kontrol, B1 = ekstrak rimpang alang-alang, B2 = brandjangan, dan B3 = lampuyangan.  Volume semprot sebanyak 660 ml.plot-1 dengan konsentrasi ekstrak herbisida 16%, Jika berbeda nyata di uji lanjut BNT 5%.  Variabel penelitian terdiri dari identifikasi gulma, jumlah gulma, jenis gulma, Summed Dominance Ratio (SDR), tingkat kematian gulma, dan bobot kering gulma.  Temuan dari penelitian ini adalah herbisida nabati ekstrak rimpang alang-alang, brandjangan, dan lampuyangan dengan konsentrasi 16%, tidak berbeda nyata pada pengendalian gulma di pertanaman kopi karena dengan konsentrasi 16% tidak memberikan dampak yang fatal pada gulma.
INOVASI KELESTARIAN SERANGGA PENYERBUK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI KELAPA SAWIT DI DESA NEGARA TULANG BAWANG KECAMATAN BUNGA MAYANG KABUPATEN LAMPUNG UTARA Shifa Usodri, Kresna; Utoyo, Bambang; Gusta, Adryade Reshi; Widiyani, Dimas Prakoswo; Hartono, Joko S S; Same, Made
Jurnal Pengabdian Nasional Vol 3 No 1 (2022)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The people in Negara Tulang Bawang Village have a livelihood as farmers, civil servants, TNI,POLICE and private employees, entrepreneurs and traders as big as, workers as big as and others.The partner's great desire is that the gardens in the village can become pilot gardens and agro-tourismby applying technology and innovations that are useful for the production and productivity of plantationcrops. The innovation that can be applied is the procurement of innovation or technology for thepreservation of oil palm pollinating insects. The condition of the partners has a large area of land andabundant resources, but the productivity and production of palm oil is stagnant. The results of fieldreviews and discussions with partner farmers found that the presence of pollinating insects wasminimal at the location and assistance such as counseling and additional insight were not obtained bypartner farmers. The activity proposer team has designed the method of activity that is applied bymeans of counseling, demonstration, training, consultation, and guidance, as well as evaluation. Aftercounseling, assistance is carried out by monitoring and evaluating innovation programs that are givenor applied to farmers. Increased understanding and technical manufacturing of technology by 100%,implementation by 40% and increase in oil palm production after the implementation of technologytransfer by 21.43%.
ALIH TEKNOLOGI PANGKAS BENTUK SEBAGAI USAHA MENGOPTIMALKAN PERCABANGAN PRODUKTIF UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KAKAO PADA KELOMPOK TANI KARYA MAKMUR DESA WIYONO KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN Airlangga, Tandadita Ariefandra; Widiyani, Dimas Prakoswo; Gusta, Adryade Reshi; Luthfi, Hafiz; Hartono, Joko S.S.; Aziz, Abdul
Jurnal Pengabdian Nasional Vol 5 No 2 (2024)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jpn.v5i2.3768

Abstract

Desa Wiyono merupakan desa yang terletak diwilayah Kecamatan Gedong Tataan. Kedua desa tersebut memliliki posisi strategis dan berpotensi dalam pengembangan kakao serta objek wisatanya (Dinas Pertanian Kabupaten Pesawaran, 2019). Kedepanya hal ini akan menjadi daya Tarik kuat bagi wisatawan sehingga dapat mendukung pengembangan agrowisata kampung kakao sekaligus melakukan revitalisasi tanaman kakao di Kabupaten Pesawaran. Namun masih terkendala beberapa masalah diantaranya tanaman yg sudah tua dan sudah tidak produktif lagi sehingga perlunya ada penanggulangan dalam perbaikan atau peremajaan tanaman kakao agar lebih baik kembali. Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan di Desa Wiyono yaitu pendampingan tentang berbagai jenis dan metode pemangkasan pada tanaman kakao diantaranya pangkas bentuk, pemeliharaan, dan produksi. Juga peningkatan pemahaman petani untuk mengenal bahan tanam unggul atau klon unggul dalam perbaikan tanaman kakao masyarakat. Berdasarkan hasil dan pembhasan yang telah didapat yaitu sebagai berikut : Peningkatan pemahaman petani mengenai berbagai jenis dan metode pemangkasan pada tanaman kakao diantaranya pangkas bentuk, pemeliharaan, dan produksi dan juga Juga peningkatan pemahaman petani untuk mengenal bahan tanam unggul atau klon unggul dalam perbaikan tanaman kakao di masyarakat.
APLIKASI PUPUK KNO3 PUTIH DAN NPK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI DAN KUALITAS BUAH PADA POKTAN KARYA MAKMUR 1 Gusta, Adryade Reshi; Widiyani, Dimas Prakoswo; Airlangga, Tandadytya Ariefandra; Lutfi, Hafis
Jurnal Pengabdian Nasional Vol 5 No 2 (2024)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jpn.v5i2.3783

Abstract

Desa Wiyono terletak di Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran. Sekitar 80% penduduknya bermata pencaharian sebagai petani di perkebunan, sebagian menjadi pedagang, dan juga buruh. Secara geografis, Desa Wiyono berjarak sekitar 16 km dari Kampus Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Bandar Lampung. Desa Wiyono memiliki beberapa kelompok tani, salah satunya Kelompok Tani Karya Makmur 1 yang beranggotakan 23 orang. Kelompok tani ini memiliki areal perkebunan rakyat sekitar 60 ha. Tetapi, produktivitas tanaman perkebunan kakao yang dibudidayakan menurun karena jarang dilakukan pemupukan. Kabupaten Pesawaran merupakan salah satu kawasan centra atau penghasil kakao terbesar di Provinsi Lampung. Kabupaten Pesawaran memiliki luas areal kakao sebesar 27.411 ha dengan total produksi pada tahun 2021 mencapai 30 ribu ton, dengan rata-rata produksi per hektarnya kurang lebih adalah 1 ton biji kakao kering. Hal ini dinilai masih cukup rendah mengingat potensi produksi kakao yaitu mencapai 2 ton per hektar biji kering. Terdapat banyak aspek yang mengakibatkan rendahnya produksi kakao di Kabupaten Pesawaran. Rendahnya produktivitas kakao dipengaruhi sebagai beriku: tanaman sudah tua, minimnya pengadaan bibit unggul, kurang intensif pemupukan, serangan hama penggerek buah kakao (PBK), penyakit busuk buah kakao, dan minimnya sanitasi di kebun masyarakat. Rendahnya produktivitas kakao karena pada umumnya petani kakao belum intensif melakukan pemupukan sehingga produksinya rendah dan rentan serangan hama dan penyakit. Untuk meminimalkan kerugian yang dapat menurunkan produktivitas tanaman kakao dapat dilakukan dengan teknologi pemupukan. Dengan melihat potensi tersebut, penerapan pengetahuan dan pemahaman mitra tentang teknologi pemupukan yang diharapkan dapat mengoptimalkan produktivitas kakao dan meningkatkan hasil pendapatan warga Desa Wiyono. Bertolak pada kondisi di atas, tim PKM beserta mahasiswa Politeknik Negeri Lampung bermaksud menyalurkan pengetahuan dan keterampilannya kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan penyuluhan dalam rangka tercapainya tujuan meningkatkan produksi kakao dan pendapatan petani.
PENGARUH KNO3 DAN PERBEDAAN UMUR BIBIT PADA PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI MAIN-NURSERY Usodri, Kresna Shifa; Utoyo, Bambang; Widiyani, Dimas Prakoswo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 9, No 3 (2021): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 9, SEPTEMBER 2021
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v9i3.5145

Abstract

Pembibitan di main-nursery dapat menghasilkan bibit yang berkualitas apabila selama prosesnya dilakukan pemeliharaan yang baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pemenuhan unsur hara yang cukup serta fase umur pindah tanam yang sesuai dari pre-nursery ke main-nursery. Oleh sebab itu, perlu dilakukan uji tanaman dengan menggunakan umur bibit pindah tanam yang berbeda dengan penambahan KNO3 . Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial dua faktor (4x5). Faktor pertama perlakuan adalah umur bibit kelapa sawit 45 hari setelah tanam (U1 ), 60 hari setelah tanam (U2 ), 75 hari setelah tanam (U3 ), dan 90 hari setelah tanam (U4 ). Faktor ke dua berupa dosis pupuk yang terdiri dari pupuk NPK Majemuk rekomendasi (P1 ), Pupuk KNO3 1% (P2 ), Pupuk KNO3 2% (P3 ), Pupuk KNO3 3% (P4 ), dan Pupuk KNO3 4% (P5 ) dengan penambahan pupuk NPK Majemuk 0,25 dosis rekomendasi pada perlakuan P2, P3, P4, P5. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F pada taraf α=5%. Jika hasil analisis ragam nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf á=5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemindahtanaman bibit kelapa sawit dapat dilakukan pada umur 45 hari setelah tanam dan pemberian pupuk KNO3 konsertrasi 4% dengan 0,25 dosis rekomendasi NPK majemuk dapat mengoptimalkan pertumbuhan pada pembibitan kelapa sawit dengan biaya yang lebih efisien.
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) ABNORMAL AKIBAT TERSERANG PENYAKIT BERCAK DAUN SETELAH APLIKASI PEMUPUKAN DI MAIN-NURSERY Kresna Shifa Usodri; Bambang Utoyo; Dimas Prakoswo Widiyani; Jiyan Saputri
Jurnal Agrotek Tropika Vol 10, No 2 (2022): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 10, MEI 2022
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v10i2.5444

Abstract

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk pemulihan pertumbuhan pasca terserang penyakit bercak daun adalah dengan penerapan kombinasi pemupukan yang sesuai untuk mengoptimalkan laju tumbuh tanaman pasca serangan penyakit bercak daun.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh komposisi dan frekuensi pemupukan NPK dan KNO3 terbaik dalam mengoptimalkan pertumbuhan bibit kelapa sawit yang terserang penyakit bercak daun di main-nursery. Penelitian dilaksanakan pada Juni sampai dengan November 2021 di Unit Usaha Pembibitan Kelapa Sawit Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor pertama adalah pupuk (P) yang terdiri dari 3 taraf yaitu NPK majemuk 5g ; KNO3 4% dan NPK 2,5 g ; dan KNO3 4% dan NPK 5 g yang dilakukan pada hari yang berbeda antara pupuk KNO3 dan NPK majemuk per polibag. Faktor ke dua adalah frekuensi (W) yang terdiri dari 2 taraf yaitu pemupukan 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali. Pengamatan dilakukan pada variabel tinggi bibit, dimater bibit, tingkat kehijauan daun, jumlah pelepah dan luas anak daun. Data dianalisis dengan uji F pada taraf α=5%. Jika hasil analisis ragam nyata maka akan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf α=5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan dengan KNO3 4% + NPK 5 g dengan frekuensi pemberian 1 minggul sekali menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi jika di bandingkan dengan perlakuan lainnya pada seluruh variabel yang diamati.
ANALISIS VEGETASI GULMA PADA BERBAGAI TEGAKAN TANAMAN PERKEBUNAN Dimas Prakoswo Widiyani; Kresna Shifa Usodri; Sismita Sari; Sri Nurmayanti
Jurnal Agrotek Tropika Vol 11, No 1 (2023): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 11, FEBRUARI 2023
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v11i1.6045

Abstract

Tanaman perkebunan merupakan jenis tanaman idustri yang sangat berpotensi di Indonesia. Tidak optimalnya perkembangan serta produksi tanaman perkebunan dipengaruhi dari banyak hal seperti kondisi perubahan iklim , teknis budidaya serta keadaan teknologi yang kurang.  Dengan kondisi tanaman yang berbeda-beda serta tajuk tanaman yang berbeda maka akan membuat iklim mikro yang bervariatif. Iklim mikro selain mempengaruhi tanaman budidaya juga akan mempengaruhi lngkungan disekitar tanaman budidaya, salah satunya adalah keadaan sebaran gulma di kawasan tersebut.  Gulma merupakan tumbuhan yang tidak dikehendaki keberadaanya karena mengganggu pertumbuhan dan juga produksi tanaman budidaya. Kehadiran gulma pada pertanaman akan menimbulkan kompetisi yang sangat serius dalam mendapatkan air, hara, cahaya matahari dan tempat tumbuh, dampaknya hasil tanaman tidak mampu menunjukkan potensi yang sebenarnya.  Penelitian ini dilaksanakan di berbagai tegakan tanaman perkebunan di kebun percobaan Politeknik Negeri Lampung, pada bulan April sampai dengan Juni 2022.  Parameter yang diamati adalah unsur iklim mikro (suhu, kelembaban, cahaya dan curah hujan) sedangkan parameter gulma adalah menghitung nilai SDR dan Koefisien Komunitas.  Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan diperoleh masing-masing penggunaan lahan memiliki dominansi gulma yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan vegetasi yang secara tidak langsung mempengaruhi vegetasi disekitarnya dalam hal ini gulma.
TEKNOLOGI APLIKASI PUPUK HAYATI SEBAGAI USAHA MENGOPTIMALKAN PRODUKTIVITAS PALA PADA KELOMPOK TANI WANA PALA DESA WIYONO KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN Luthfi, Hafiz; Widiyani, Dimas Prakoswo; Airlangga, Tandaditya Ariefandra; Gusta, Adryade Reshi
Jurnal Pengabdian Nasional Vol 6 No 1 (2025)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jpn.v5i2.4221

Abstract

Tanaman pala (Myristica fragrans H) merupakan tanaman asli Indonesia yang memiliki peranan penting dalam perekonomian daerah dan nasional di Indonesia. Pala sebagai tanaman rempahrempah dan sumber minyak atsiri, merupakan tanaman penting, karena dapat menghasilkan minyak eteris dan lemak khusus yang berasal dari biji dan fuli. Peran komoditas pala dalam peningkatan perekonomian nasional kian terasa oleh masyarakat. Terbukti dengan tingginya permintaan pala di pasar dunia yang mendorong minat masyarakat untuk terus membudidayakan pala diberbagai daerah. Oleh karena itu dengan potensi itu semua yang terdapat di Kabupaten Pesawaran maka peran baik masyarakat, pemerintah dan berbagai stakeholder sangat krusial dalam upayanya mengembangkan tanaman pala. Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan di Desa Wiyono yaitu pendampingan tentang pemanfaatan teknologi kombinasi pupuk kimia dengan memanfaatkan pupuk hayati, menerapkan kegiatan aplikasi pupuk hayati terutama pada saat pembibitan dan awal penanaman pala, dan membentuk unit percontohan penerapan teknologi aplikasi pupuk hayati. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah didapat yaitu sebagai berikut Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan anggota kelompok tani dalam memanfaatkan teknologi kombinasi pupuk kimia dengan memanfaatkan pupuk hayati untuk meningkatkan produktivitas tanaman pala. Kata kunci: pupuk hayati, pala