Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Dominansi Jenis-Jenis Tanaman Sayur Introduksi di Pasar Sayuran Kota Bengkulu Wiryono, Wiryono; Nurliana, Steffanie
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37107

Abstract

Since the beginning of agriculture revolution several thousand years ago, human has distributed food plant species far beyond their natural range. The tendency of agriculture practice to plant certain “superior” species and varieties has led to the homogenization of dominant food plant commodities worldwide. Local species and varieties are marginalized with the introduction of exotic species, resulting in the decline of genetic diversity. The objectives of this study were: 1) to determine the species richness of vegetable plants in three traditional markets in Bengkulu City, 2) to know the species composition of the vegetable plants in those markets, and 3) to determine the species similarity index among the three markets. Data were gathered by recording all species of vegetable plants in the markets. The data were, then, analyzed to determine the species richness, species composition and species similarity among the three markets. The results showed that 1) the total number of vegetable plant species in the three markets was 50, consisting of 23 families, 2) the introduced species dominated the composition of vegetable plants, and 3) the similarity index among markets were >90%. These results confirm the tendency that food plant species composition is dominated by few species only, and show that the species composition of vegetable plants among markets in Bengkulu city was highly similar. Keywords: biodiversitas, ethnobotani, ketahanan pangan. Sejak dimulainya revolusi pertanian beberapa ribu tahun yang lalu, manusia telah memperluas penyebaran jenis tanaman pangan sampai jauh dari wilayah sebaran aslinya. Kecenderungan praktek pertanian yang menanam jenis-jenis dan varietas “unggul” menyebabkan terjadinya keseragaman jenis dan varietas tanaman yang mendominasi komoditas tanaman pangan di seluruh dunia. Jenis-jenis dan varietas tanaman lokal banyak yang tersingkir oleh jenis-jenis introduksi, sehingga terjadi penurunan keragaman genetis. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kekayaaan jenis dan komposisi jenis tanaman sayur segar yang terdapat di tiga pasar di Kota Bengkulu. Data jenis sayuran diperoleh dari pencatatan di lapangan. Data diolah untuk menghitung kekayaan jenis tanaman, menentukan dominansi jenis tanaman berdasarkan frekuensi ditemukannya, dan menghitung indeks kemiripan jenis antara ketiga pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) jumlah seluruh jenis tanaman sayur di tiga pasar adalah 50 jenis yang terdiri dari 23 suku; 2) jenis-jenis tanaman yang mendominasi komposisi jenis tanaman sayur di pasar adalah jenis-jenis introduksi, dan 3) indeks kemiripan komposisi jenis tanaman sayur antara pasar > 90%. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi kecenderungan bahwa komposisi jenis tanaman pangan didominasi oleh hanya sedikit jenis tanaman, dan menunjukkan bahwa komposisi jenis tanaman pangan antar pasar di Kota Bengkulu sangat mirip. Kata kunci: biodiversitas, ethnobotani, ketahanan pangan
Keragaman dan komposisi jenis bibit untuk rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di Derah Aliran Sungai (DAS) Kapuas Wiryono, Wiryono; Nurliana, Steffanie
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.2.30228

Abstract

Indonesia has extensive degraded land to be rehabilitated. This study aimed to analyze the species diversity and composition of seedlings for land rehabilitation in Kapuas Watershed, the reasons for species selection, and the location of seedling plantation and to compare the species compostion of seedlings for rehabilitation of degraded lnad in Kapuas Watershed dan Serayu-Opak-Progo Watershed. Three-year (2015-2016-2017) data of seedlings were gathered through questionnaire to Kapuas Watershed Management Agency. The data were analyzed quantitatively using a statistical software called Past. The results showed that the species richness of seedlings ecah year ranged from 15-25 eitth a total of total species of 34, consisting of 24 native species and 10 introduced. The Simpson dominance index (D) was 0.19-0.93, Simpson diversity index (1-D) 0.07- 0.81, and Shannon diversity index (H’) 0.22-1.97. The selection of species was mostly determined by its high availability and most of the seedlings were planted in forest area. The composition of seedling species in Kapuas Watershed had low similarity with that of Serayu-Opak-Progo Watershed. The resulted vegetation would have moderately diverse species.
Keragaman dan Komposisi Jenis Bibit Tanaman untuk Rehabilitasi Lahan oleh BPDAS Mahakam Berau (2013-2017) Paulina, Maria; Wiryono, Wiryono; Nurliana, Steffanie
MAKILA Vol 19 No 1 (2025): MAKILA: Jurnal Penelitian Kehutanan
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/makila.v19i1.18023

Abstract

Indonesia faces a significant challenge in land rehabilitation, with approximately 8.7 million hectares of degraded land and 4.5 million hectares of severely degraded land, according to data from the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) in 2022. Large-scale rehabilitation efforts are urgently required, one of which is undertaken by the Mahakam Berau Watershed and Protected Forest Management Agency (BPDASHL Mahakam Berau). The success of land rehabilitation is strongly influenced by the composition of species and the diversity of seedlings used in the process. This study aims to examine the diversity and composition of seedling species provided by BPDASHL Mahakam Berau from 2013 to 2017 and explore the rationale behind species selection. Data were collected through questionnaires and analyzed using both quantitative and qualitative approaches. The findings reveal that 33 seedling species were utilized, comprising 24 native and nine introduced species. The Shannon diversity index (H') ranged from 1.23 to 2.19, indicating a low to moderate level of species diversity. The most dominant species was Rhizophora sp. (45.14%) from the Rhizophoraceae family, followed by Shorea sp. (24.17%) from the Dipterocarpaceae family. Seedling availability emerged as the primary criterion for species selection, reflecting logistical practicality and cost-effectiveness in seedling procurement for rehabilitation programs.
Pengaruh Konsentrasi 6-Benzyl Amino Purine (BAP) dan Media Murashige and Skoog (MS) terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Subkultur ANGGREK Dendrobium sp. Woo Leng secara In Vitro Erisa, Rimala; Nurliana, Steffanie; Satriawan, Dedi; Astuti, R. R. Sri; Marlin, M
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2022: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbanyakan anggrek Dendrobium sp. Woo Leng secara konvensional menghasilkan bibit terbatas sehingga perlu diperbanyak dengan teknik kultur jaringan dengan penambahan ZPT BAP dan media MS pada media kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi BAP dan media MS terhadap pertumbuhan dan perkembangan subkultur anggrek Dendrobium sp. Woo Leng secara in vitro. Eksplan berasal dari Laboratorium Bioteknologi Hortikultura, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan ditanam 3 buah eksplan dalam 1 botol media lalu dipelihara dalam ruang kultur dan diamati 1 kali dalam 1 mingu selama 16 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial terdiri dari 2 faktor perlakuan, yaitu zat pengatur tumbuh BAP dengan konsentrasi 0, 0,5, 1, 1,5, 2 ppm dan media MS dengan konsentrasi ½ MS dan MS full. Jumlah perlakuan yang digunakan adalah 10 perlakuan dengan 3 ulangan. Data yang didapat dianalisis dengan analisis varians (ANOVA), jika terdapat pengaruh yang nyata (FHitung>FTabel) maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil uji DMRT taraf 5% menunjukkan bahwa konsentrasi MS full merupakan konsentrasi yang lebih baik untuk pertumbuhan dan perkembangan panjang akar (2,38 cm) dibanding dengan konsentrasi media ½ MS (1,36 cm), jumlah akar (7,02 akar) lebih baik dibanding dengan konsentrasi ½ MS (6,19 akar), tinggi planlet (4,01 cm) lebih baik dibanding dengan konsentrasi ½ MS (3,56 cm) dan jumlah daun (7,16 helai) lebih baik dibanding dengan konsentrasi ½ MS (6,04 helai). Rentang konsentrasi 1 sampai 2 ppm BAP (2,1 sampai 2,33 cm) merupakan konsentrasi yang lebih baik dibanding konsentrasi 0 ppm BAP (1,08 cm) pada variabel panjang akar, konsentrasi 2 ppm BAP (8,06 akar) merupakan konsentrasi yang lebih baik dibandingkan konsentrasi 0 (5,11 akar), 0,5 (5,78 akar) dan 1 ppm (6,78 akar) pada variabel jumlah akar, konsentrasi 0 ppm BAP (5,29 cm) merupakan konsentrasi yang lebih baik dibandingkan konsentrasi lainnya pada variabel tinggi planlet, konsentrasi 0 ppm BAP (7,95 helai) merupakan konsentrasi yang lebih baik dibandingkan konsentrasi lainnya pada variabel jumlah daun, rentang konsentrasi 1,5 dan 2 ppm BAP (2,22 dan 2,50 tunas) merupakan konsentrasi yang lebih baik dibandingkan konsentrasi lainnya pada variabel jumlah tunas.
Pengaruh Konsentrasi 6-Benzyl Amino Purine (BAP) dan Sukrosa terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Subkultur Anggrek Dendrobium Sp. Woo Leng secara In Vitro Rahmawidowati, Fetri; Nurliana, Steffanie; Satriawan, Dedi; Astuti, R. R. Sri; Marlin, M
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2022: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi BAP dan sukrosa terhadap pertumbuhan dan perkembangan subkultur anggrek Dendrobium sp. Woo Leng secara in vitro. Bibit berasal dari Laboratorium Bioteknologi Hortikultura, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Penelitian ini RAL faktorial terdiri dari 2 faktor, yaitu BAP 0, 1, 2 ppm dan sukrosa 10, 20, 30, 40 g/L. Data dianalisis dengan analisis varian (ANOVA) dan jika terdapat data yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rentang perlakuan BAP 0 ppm (2,08 akar) dan BAP 1 ppm (2,66 akar) merupakan perlakuan yang lebih baik dibandingkan BAP 2 ppm (0,97 akar) pada jumlah akar, rentang perlakuan BAP 0 ppm (1,22 cm) dan BAP 1 ppm (1,73 cm) merupakan perlakuan yang lebih baik dibandingkan BAP 2 ppm (0,97 cm) pada panjang akar, rentang perlakuan BAP 1 ppm 7,94 daun) dan BAP 2 ppm (8,17 daun) merupakan perlakuan yang lebih baik dibandingkan BAP 0 ppm (7,22 daun) pada jumlah daun, perlakuan BAP 1 ppm (1,63 tunas) merupkan perlakuan terbaik pada jumlah tunas. Perlakuan sukrosa 40 g/L (2,66 akar) merupakan perlakuan terbaik pada jumlah akar, sukrosa 40 g/L (1,77 cm) merupakan perlakuan terbaik pada panjang akar. Interaksi BAP dan sukrosa pada rentang perlakuan BAP 1 ppm dan sukrosa 30 g/L (8,88 daun), BAP 2 ppm dan sukrosa 10 g/L (8,44 daun), BAP 0 ppm dan sukrosa 40 g/L (8,22 daun), BAP 1 ppm dan sukrosa 40 g/L (8,22 daun), BAP 2 ppm dan sukrosa 30 g/L (8,22 daun), BAP 2 ppm dan sukrosa 20 g/L (8,00 daun), daun), BAP 1 ppm dan sukrosa 20 g/L (7,56 daun), BAP 2 ppm dan sukrosa 40 g/L (7,56 daun) merupakan konsentrasi yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya pada jumlah daun Dendrobium sp. Woo Leng.