Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Acculturation of Javanese Islam and Mapalus Culture in The Development of Islamic Economic Tradition in Tondano Hadi, Rahmini; Shafrani, Yoiz Shofwa; Nurhayati, Laily
Ijtimā iyya Journal of Muslim Society Research Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Postgraduate, State Islamic University Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/ijtimaiyya.v9i1.12459

Abstract

Diversity allows the emergence of merging existing cultures into a new culture that does not take away the essence of the previous culture. The success of Tondano Javanese Village in maintaining the existence of economic traditions, especially in the agricultural sector, also plays a role in balancing the economy in the Tondano region. Mapalus is synonymous with the life cycle of the Minahasa community which is closely related to religious values. Development of Javanese Islam in Tondano began to occur after the group of Kiai Mojo and his followers consisting of approximately 60 men, established an association place for them to settle and live there, namely "Kampung Java". In addition, the development is also getting stronger after they are in a relationship assimilation through marriage with indigenous Minahasa women who at that time the majority adhered to Christianity. The Muslim community living in Minahasa influenced the development of the existing mapalus uyang culture. Mapalus is a form of local wisdom of the indigenous people of Tondano adapted by the Muslim community from Java. Then from Joanne et al (in Senduk, 2016) Added one other form of mapalus, namely arisan. This Arisan is one of the prominent forms of social interaction between members of the North Minahasa community. Its function is to help each other in the economic field based on family values. In general, this social gathering is one of the associations in terms of distributing funds. This concept is in great demand by the lower middle class because it is considered easy to fulfill one's direct desires, so it is considered to be able to pay in installments (Muhaisin & Syarbaini, n.d.). In practice, the forms of the collection also vary, such as money, groceries, jewelry, building materials, etc. Unlike the arisan practice implemented in Tondano Java Village, the form is an association to be able to divide work into agricultural and plantation activities. So in each activity, the agricultural and plantation production process will be divided based on its working group
Navigating Halal Tourism: Perceptions and Behaviors of Non-Muslims in the Muslim-Minority Context of Manado City Djamali, Radjab; Kindangen, Paulus; Masinambow, Vecky A. J.; Taroreh, Rita N.; Nurhayati, Laily; Hermawan, Tulus
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 23, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v23i1.3501

Abstract

This study aims to examine the perceptions and behaviors of the non-Muslim community in Manado towards halal tourism, particularly in the context of a Muslim-minority region. As halal tourism gains momentum, driven by Muslim travelers seeking destinations that align with Islamic principles, it becomes crucial to understand how this tourism concept is perceived in areas with predominantly non-Muslim populations. Using a qualitative approach with a descriptive methodology, data were gathered through in-depth interviews and observations, followed by analysis based on Miles and Huberman's interactive model. The findings reveal diverse perceptions of halal tourism among non-Muslim residents of Manado. While most participants associate halal tourism with halal food and an environment adhering to Islamic principles, others interpret it more broadly, relating it to cleanliness, orderliness, and respect for social and cultural diversity norms. Despite these varying perspectives, most participants favor developing Manado as a halal tourism destination. These findings provide valuable insights into the integration of halal tourism in non-Muslim-majority contexts, offering implications for policy development and the future of halal tourism in Indonesia.
STRATEGI PENGEMBANGAN KAMPUNG SENI DAN BUDAYA JELEKONG, KABUPATEN BANDUNG Sidqi, Muhammad Udhian; Choiriyah, Roisaten Nuril; Mahrunisa, Tania El; Nurhayati, Laily; Astuti, Winny; Mukaromah, Hakimatul
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v4i2.62297.210-225

Abstract

Konsep kota kreatif merupakan konsep pengembangan wilayah yang berkembang sejak era pasca industri, dimana pusat industri dan manufaktur tidak lagi terletak di tengah kota. Konsep kota kreatif menyediakan ruang kota sebagai ruang ekspresi masyarakat sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui ekonomi kreatif. Pada skala lebih kecil, konsep kota kreatif diaplikasikan pada kampung kota, sehingga muncul istilah kampung kreatif. Salah satu kampung kreatif yang berkembang di Indonesia adalah kampung Jelekong. Kampung Jelekong merupakan salah satu kampung wisata berbasis budaya yang terletak di kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Kampung Jelekong memiliki ciri khas yakni sebagai pusat budaya wayang dan seni lukis. Terdapat 200 kepala keluarga yang berprofesi sebagai pelukis. Ilmu seni melukis diberikan secara turun temurun oleh seniman Odin Rohidin. Selain itu, Kampung Jelekong merupakan rumah bagi seniman berbagai kebudayaan Sunda. Potensi Kampung Jelekong tersebut diidentifikasi lebih lanjut menggunakan analisis deskriptif terkait kondisi eksisting di Kampung Jelekong yang didasarkan pada dimensi desa wisata yang selanjutnya menjadi input dalam analisis SWOT. Tujuan dilakukannya analisis ini adalah untuk menghasilkan strategi pengembangan Kampung Jelekong sebagai desa wisata berbasis budaya yang unggul di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis, salah satu permasalahan yang ditemukan adalah fasilitas penunjang wisata di Kampung Jelekong masih belum sepenuhnya terpenuhi. Output dari analisis yang telah dilakukan adalah berupa strategi pengembangan, yang mana salah satu strategi yang dihasilkan adalah mengembangkan fasilitas yang ada di desa wisata sesuai dengan standar kebutuhan wisatawan dengan bantuan dari pemerintah kabupaten.
STRATEGI OPTIMALISASI PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA IDLE PADA DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA Putra, Dhimas Aditya Pratama; Nurhayati, Laily; Rahman, Abdul
PAPATUNG: Jurnal Ilmu Administrasi Publik, Pemerintahan dan Politik Vol 9 No 2 (2026): PAPATUNG Volume 9 Nomor 2 Tahun 2026
Publisher : GoAcademica Research dan Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/japp.v9i2.1627

Abstract

Pengelolaan aset negara yang optimal penting untuk meningkatkan efisiensi keuangan, namun masih terdapat aset yang tidak dimanfaatkan sehingga menimbulkan biaya pemeliharaan dan risiko penurunan nilai. Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji implementasi manajemen aset yang belum dimanfaatkan, mengidentifikasi berbagai hambatan yang dialami, serta merumuskan strategi optimalisasi di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan terkait serta diperkuat oleh studi dokumentasi. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan manajemen strategis untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang berdampak terhadap pengelolaan aset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan aset telah dilaksanakan sesuai dengan regulasi dan siklus yang berlaku. Namun, masih terdapat hambatan berupa keterbatasan integrasi sistem informasi, keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran, resistensi instansi, serta permasalahan legalitas dan penggunaan aset. Di sisi lain, terdapat peluang melalui penguatan peran kelembagaan, kerja sama lintas sektor, dan dukungan terhadap program prioritas pemerintah. Kesimpulannya, optimalisasi pengelolaan aset dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas inventarisasi berbasis sistem terintegrasi, penguatan koordinasi, pengembangan skema pemanfaatan, serta peningkatan kapasitas kelembagaan untuk mendukung efisiensi pengelolaan keuangan negara.