Laksmita, Devinta Yulia
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal Physical Therapy UNISA

Hubungan osteoarthritis terhadap sindrom metabolik pada pekerja Utami, Trie; Laksmita, Devinta Yulia
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 4 No. 2 (2024): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.3718

Abstract

Faktor individu meliputi usia, IMT, jenis kelamin, hipertensi, diabetes melitus, trauma lutut. Pada usia lanjut, terjadi perubahan kolagen dan penurunan komponen utama cairan sinovial yang berfungsi memberikan kekenyalan pada sendi dan pelumas sehingga menyebabkan tulang dan sendi lebih rentang terhadap tekanan dan kekurangan elastisitas sendi. Kemudian pada faktor pekerjaan yaitu meliputi gerakan berulang seperti jongkok, berlutut dan beban kerja Pekerjaan yang melibatkan jongkok atau berlutut lebih dari dua jam setiap hari beresiko dua kali lipat terkena osteoarthritis lutut sedang hingga berat secara signifikan. Diperoleh data bahwa para pekerja tersebut rata – rata mengeluhkan nyeri pada bagian lutut, dan merasakan kekakuan. Beberapa pekerja mengatakan bahwa nyeri yang dirasakan sering muncul terutama pada saat mengangkut barang yang lebih banyak dari biasanya. Berdasarkan penelitian angka kejadian osteoarthritis pada kuli angkut dan pinggul sebesar 59,9%. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi dalam penelitian berjumlah 70 pekerja. Teknik pengambilan sampel adalah Teknik total sampling sebanyak 57 pekerja. Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner womac dengan analisis data menggunakan SPSS spearmen dan pearson. Hasil penelitian yang telah dilakukan untuk hubungan antara ostheoarthritis dengan tekanan darah pasien didapatkan nilai p-value sebesar 0,026 dan koefisien korelasi sebesar 0,336 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sedang antara osteoarthritis dengan pasien sindrom metabolik. Sedangkan untuk hubungan antara osteoartritis dengan pasien tekanan gula darah, nilai p-value sebesar 0.735 (>0.05) dan koefisien korelasinya sebesar -.104 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara osteoartritis dengan pasien tekanan gula darah pada buruh angkut atau dapat dikatakan memiliki hubungan yang lemah.  
Gambaran tingkat kemandirian lansia terhadap pemenuhan aktifitas sehari-hari di balai Hamdani, Nur Wesi Saumi; Laksmita, Devinta Yulia; Indriani, Indriani
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.3808

Abstract

Penurunan fungsi fisiologis umumnya mengakibatkan berkurangnya produktivitas di kalangan lansia, karena memengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, menggunakan kamar kecil, berpakaian, dan tugas serupa. Risiko jatuh meningkat seiring dengan berkurangnya kemampuan fungsional, terutama pada lansia. Tujuan riset ini adalah untuk menggambarkan tingkat kemandirian lansia yang menggunakan Pusat Layanan Sosial PSTW dalam menjalankan rutinitas mereka. Pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional diterapkan dalam riset ini. Sebanyak 124 lansia disurvei, dengan 100 partisipan dipilih secara acak di Unit Abiyoso Pusat Layanan Sosial PSTW. Total sampling digunakan sebagai strategi pengambilan sampel. Hasil riset menunjukkan mayoritas lansia di Pusat PSTW (88% atau 88 orang) memiliki tingkat kemandirian tinggi, sementara 12% (12 orang) menunjukkan kemandirian rendah, diukur dengan Indeks Katz. Berdasarkan Skala Keseimbangan Berg (BBS) yang mengukur risiko jatuh akibat gangguan keseimbangan saat beraktivitas, mayoritas responden (47 dari 87) memiliki risiko jatuh rendah, diikuti oleh 46 dari 87 (46%) dengan risiko sedang, dan 7 dari 87 (7%) dengan risiko tinggi. Kesimpulannya, riset ini menegaskan bahwa penghuni Pusat PSTW, khususnya lansia, cukup mandiri. Saat ditanya mengenai risiko jatuh dalam aktivitas sehari-hari, mayoritas responden menyatakan risikonya rendah. Untuk meningkatkan kemandirian lansia dan mengurangi kemungkinan jatuh, fasilitas tersebut harus bekerja sama dengan fisioterapis untuk menerapkan program latihan kekuatan.