Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Sosialisasi Sadari Pada Remaja Putri di Desa Pulo Peding Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara Yessy Syahradesi Br Tambunan; Fika Lestari; Purnama Sari Cane
SAFARI :Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 3 (2024): Juli : Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia
Publisher : BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/safari.v4i3.1641

Abstract

Adolescence is a transition period from children to adults. Adolescence lasts from the age of 15-20 years. Developmental changes that occur during adolescence include physical, psychological and psychosocial development (Gainau, 2021). Adolescent girls experience secondary sexual signs in the form of widening of the hips, breast growth, hair growth around the genitals and armpits, as well as growth of the uterus and vagina (Sarwono, 2016). Breast self-examination or what is known as BSE, is a form of early detection prevention effort whose implementation procedure can be carried out by each individual woman more easily in order to find symptoms or signs related to breast cancer, for example; lump in the breast (Sari P, Sayuti S, Ridwan M, Rekiaddin LO, 2020). This community service activity takes the form of outreach about breast self-examination (BSE) to young women in Pulo Peding village, Babussalam District, Southeast Aceh Regency. This activity was attended by 30 participants with the aim of increasing teenagers' knowledge about BSE. The results of this activity were an increase in teenagers' knowledge before and after being given socialization, namely from an average knowledge score of 50 to 80. It is hoped that this activity can be useful for young women and doing BSE regularly to detect breast cancer early.
Penyuluhan Tentang Dampak Pernikahan Dini pada Remaja Putri di Desa Darul Amin Kecamatan Lawe Alas Kabupaten Aceh Tenggara Yessy Syahradesi Br Tambunan; Purnama Sari Cane; Fika Lestari
Natural: Jurnal Pelaksanaan Pengabdian Bergerak bersama Masyarakat. Vol. 2 No. 4 (2024): November : Natural: Jurnal Pelaksanaan Pengabdian Bergerak bersama Masyarakat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/natural.v2i4.838

Abstract

A human being was created to live in pairs as husband and wife through marriage. Marriage is a spiritual bond between a man and a woman as husband and wife with the aim of forming a happy and eternal family or household. Ideally, women marry at the age of 21-25 years, while men at the age of 25-28 years. It is recommended that getting married at this age can be done in terms of the health of the woman's reproductive organs, which are ready to conceive and give birth. Likewise, men of this age are ready to fulfill their obligations as head of the family (Fatmawati etal., 2019). This community service activity takes the form of counseling about the impact of early marriage on teenagers in Darul Amin Village, Lawe Alas District, Southeast Aceh Regency. This activity was attended by 30 participants with the aim of increasing young women's knowledge about the impact of early marriage on young women. The results of this activity were an increase in the knowledge of young women before and after being given counseling, namely from an average knowledge score of 50 to 80. It is hoped that this activity can be useful for young women and not to engage in early marriage to prevent the effects, namely miscarriage, anemia, birth weight low, sexually transmitted diseases.
LANGKAH TEPAT SEJAK DINI CEGAH STUNTING DI DESA SIMPUR KECAMATAN KETAMBE KABUPATEN ACEH TENGGARA 2023 Purnama Sari Cane; Eva Nurseptiana
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 5, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekurangan protein menyebabkan retardasi pertumbuhan dan kematangan tulang karena protein adalah zat gizi yang essensial dalam pertumbuhan. Meskipun asupan energi cukup, apabila asupan protein kurang maka akan menghambat pertumbuhan pada balita, kemudian bila kekurangan zat besi dapat menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan tubuh (Damayanti et al., 2016).  Stunting merupakan penggambaran dari status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stunting pada balita seperti karakteristik balita maupun faktor sosial ekonomi. Penelitian ini bersifat observasional dilakukan di Simpur, Kecamatan Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara. Akibat minimnya pengetahuan warga desa tentang stunting, maka Universitar Nurul Hasanah serta mahasiswi bekerjasama dengan pemerintah Desa Sumberlesung untuk merangkul kembali warga dalam kegiatan penyuluhan pencegahan stunting. Kegiatan ini berisikan tentang himbauan pencegahan serta penangan stunting dengan tepat. Lalu dampak kesenjangan yang terjadi bila tidak menerapkan pola hidup sehat dan bersih yang bisa menyebabkan stunting pada anak. Selain itu, mahasiswa UNH Kutacane juga melakukan demonstrasi pada warga Desa khususnya para ibu-ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI yang tepat, murah, dan mudah didapat dari alam sekitar. Dari kegiatan ini, hasil serta target yang ingin dicapai mahasiswa UNH adalah warga yang memiliki antusiasme yang tinggi sehingga kegiatan penyuluhan ini berjalan dengan lancar. Warga desa tidak merasa asing lagi dan mengetahui tentang cara mencegah stunting. Serta, pemberian makanan pendamping ASI secara tepat.Kata Kunci: Cegah Stunting Protein deficiency causes growth retardation and bone maturity because protein is an essential nutrient for growth. Even though energy intake is sufficient, if protein intake is insufficient it will inhibit growth in toddlers, then if there is a lack of iron it can cause problems with the immune system (Damayanti et al., 2016). Stunting is a description of chronic malnutrition during growth and development from early life. Many factors can cause stunting in toddlers, such as toddler characteristics and socio-economic factors. This observational research was conducted in Simpur, Ketambe District, Southeast Aceh Regency. Due to the village residents' lack of knowledge about stunting, Universitar Nurul Hasanah and its students collaborated with the Sumberlesung Village government to re-engage residents in stunting prevention outreach activities. This activity contains advice on preventing and handling stunting appropriately. Then there is the impact of inequality that occurs if you do not implement a healthy and clean lifestyle which can cause stunting in children. Apart from that, UNH Kutacane students also demonstrated to village residents, especially mothers, in providing appropriate, cheap and easy to obtain complementary breast milk food from the surrounding nature. From this activity, the results and targets that UNH students want to achieve are citizens who have high enthusiasm so that this outreach activity runs smoothly. Village residents no longer feel strange and know about how to prevent stunting. As well as, providing appropriate complementary foods for breast milk.Keywords: Prevent Stunting
KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT SEJAK DINI DESA TUALANG LAMA KECAMATAN DELENG PORKHKISEN KABUPATEN ACEH TENGGARA 2024 Uci Lestari; Eva Nurseptiana; Purnama Sari Cane
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 6, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi dan mulut adalah salah satu bagian dari  tubuh  yang  merupakan  masuknya  makanan  dan  minuman  ke  dalam  tubuh  yang  bisa menentukan  sejumlah  asupan  gizi.  Proses  penyerapan  nutrisi  yang  masuk  ke  dalam  tubuh dapat menyebabkan kondisi kesehatan yang buruk jika gigi seseorang tidak sehat (Kemenkes, 2022) Salah satu kesehatan tubuh pada daerah gigi dan mulut merupakan bagian komponen dari  unsur  kesehatan  yang  secara  umum  dan  menjadi  faktor  yang  paling  penting  dalam pertumbuhan  dan  perkembangan  normal  anak.  Permasalahan  pada  daerah  gigi  dan  mulut bisa  berpengaruh  pada  pertumbuhan  dan  perkembangan  anak-anak  yangberdampak  pada kualitas   hidup   mereka.   Hal   tersebut   tidak   boleh   dibiarkan,   khususnya   pada   masa pertumbuhan  dan  perkembangan  anak,  karena  merupakan  faktor  pendukung  yang  paling utama untuk memenuhi asupan gizi seorang anak Menurut Konsil Kedokteran Indonesia (2018), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dalam  buku  sakunya,  ada  sekitar  89  persen  anak-anak  mengalami  karies.  Kerusakan  gigi masih  menjadi  masalah  baik  di  Negara  maju  dan  berkembang.  Siswa  anak  SD  biasanya berumur 6-12 tahun. Kelompok pada anak usia SD ini pada umumnya sedang dalam tahap gigi campuran, yang mana gigi sulung akan mulai lepas dan gigi tetap tumbuh. Pada keadaan ini,  bisa  memperparah  kerusakan  gigi  karena  gigi  tetap  belum  tumbuh  sempurna.  Hal  ini disebabkan karena siswa SD lebih menyukai makanan dan minuman penyebab karies yang rentan   meningkatkan   terjadinya   kerusakan   gigi.   Dengan   kondisi   seperti   itu   dapat mengganggu  dalam  mengunyah  makanan,  saat  bicara,  dan  keindahan  gigi  yang  tidak maksimal   yang   dapat   berdampak   sampai   dewasa. Terganggunya   Fungsi   gigi   dalam mengunyah  dapat  menyebabkan  terhambatnya  pertumbuhan  optimal  pada  anak,  karena kemampuan  mengunyah  makanan  menurun.  Sakit  gigi  yang  dirasakan  dapat  mengganggu aktivitas belajar anak, sehingga tidak berangkat sekolah (Kemenkes, 2012). Upaya yang bisa dilakukan adalah menjaga kesehatan pada gigi dan mulut dengan cara memberikan  edukasi.  Kegiatan  ini  menggunakan  metode  penyuluhan  secara  langsung  dan demonstrasi praktekcara menggosok gigi yang baikdan benar serta memberikan kesempatan kepada  anak-anak  untuk  mencoba  mempraktikkannya  (Khayati  dkk,  2020).  Kegiatan  ini dilaksanakan dengan memberikan edukasi kesehatan pada gigi dan mulut dalam upaya meningkatkan status kesehatan gigi anak KB Tasa Islam Terpadu desa Tualang Lama.Kata Kunci: Kebersihan Gigi, MulutTeeth and mouth are one part of the body that is the entry of food and drink into the body that can determine a number of nutritional intakes. The process of absorbing nutrients that enter the body can cause poor health conditions if a person's teeth are not healthy (Ministry of Health, 2022). One of the health of the body in the dental and oral areas is a component of the general health elements and is the most important factor in the normal growth and development of children. Problems in the dental and oral areas can affect the growth and development of children which has an impact on their quality of life. This should not be allowed, especially during the growth and development of children, because it is the most important supporting factor to meet a child's nutritional intake. According to the Indonesian Medical Council (2018), the Indonesian Dentist Association (PDGI) in its pocket book, around 89 percent of children experience caries. Tooth decay is still a problem in both developed and developing countries. Elementary school students are usually 6-12 years old. This group of elementary school-aged children is generally in the mixed teeth stage, where the deciduous teeth will begin to fall out and the permanent teeth grow. In this condition, it can worsen tooth decay because permanent teeth have not grown perfectly. This is because elementary school students prefer foods and drinks that cause caries which are prone to increasing tooth decay. With such conditions, it can interfere with chewing food, when talking, and the beauty of the teeth is not optimal which can have an impact until adulthood. Disruption of the function of teeth in chewing can hinder optimal growth in children, because the ability to chew food decreases. Toothache that is felt can interfere with children's learning activities, so they do not go to school (Ministry of Health, 2012). Efforts that can be made are to maintain dental and oral health by providing education. This activity uses direct counseling methods and demonstrations of how to brush teeth properly and correctly and provides opportunities for children to try to practice it (Khayati et al., 2020). This activity is carried out by providing health education on teeth and mouth in an effort to improve the dental health status of children in the Integrated Islamic Tasa KB, Tualang Lama Village..Keywords: Dental Hygiene, Mouth
BAKTI SOSIAL PENGOBATAN GRATIS KORBAN BANJIR BANDANG KUTACANE ACEH TENGGARA Purnama Sari Cane; Eva Nurseptiana; Uci Lestari
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 7, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peristiwa banjir bandang di Kabupaten Aceh Tenggara tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis masyarakat, sehingga membutuhkan penanganan yang cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Sebagai bentuk aksi kemanusiaan, Universitas Nurul Hasanah Kutacane melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendistribusian pengobatan Gratis, bantuan darurat, pendampingan psikososial, serta edukasi kesiapsiagaan bencana di Lawe Sagu Hulu kuatacane dan daerah terdampak lainnya. Kegiatan ini dilakukan melalui tahapan asesmen cepat, koordinasi lintas pihak, penyaluran bantuan, pengobatan gratis dan juga pemeriksaan kesehatan serta pelaksanaan trauma healing dan sosialisasi mitigasi bencana. Hasil yang diperoleh menunjukkan peningkatan pemenuhan kebutuhan dasar, dampak positif pendampingan psikososial khususnya bagi anak-anak, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesiapsiagaan dan tindakan darurat. Evaluasi secara kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa kehadiran tim kemanusiaan memberikan rasa aman, memperkuat solidaritas sosial, dan meningkatkan ketahanan komunitas dalam menghadapi bencana. Oleh karena itu, kolaborasi berbasis masyarakat menjadi elemen penting dalam pemulihan pascabencana dan berpotensi dikembangkan sebagai model intervensi di wilayah rawan bencana lainnya.