Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERSPEKTIF AGAMA (ISLAM) DAN KESEHATAN TENTANG PENGGUNAAN IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS SIMPANG KANAN KECAMATAN SIMPANG KANAN KABUPATEN ACEH SINGKIL TAHUN 2020 Eva Nurseptiana; Razia Begum Suroyo; Fatma Sylvana Dewi Harahap
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 7, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v7i1.1478

Abstract

ABSTRAKProgram imunisasi merupakan program preventif dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dan dijadikan sebagai prioritas Di tingkat Association South East Asean Nation (ASEAN) tahun 2012, Indonesia angka kematian bayinya 34/1.000 kelahiran hidup yaitu hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan angka kematian bayi di Malaysia 6/1.000 kelahiran hidup, 2 kali dibandingkan dengan Thailand 11/ 1.000 kelahiran hidup, dan 1,3 kali dibandingkan dengan Philipina sekitar 8/1.000 kelahiran hidup, Brunei Darusalam 6/ 1.000 kelahiran hidup, Singapure 2/1.000 kelahiran hidupTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Perspektif Agama Islam dan Kesehatan Tentang Penggunaan Imunisasi Campak Puskesmas Simpang Kanan Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil. Jenis penelitian ini menggunakan Mix Methods dengan menggunakan Strategi Explanatory Sekuensial. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 57 orang, sedangkan untuk informan kualitatif 2 ibu yang memiliki anak usia 9-18 bulan, 2 suami, 2 bidan, 1 penanggung jawab imunisasi 2 kepala Desa dan 1 Ustad Kampung.  Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh pada Pengetahuan p = 0,000 KIPI p = 0,006, Jarak Pelayanan Kesehatan p = 1,000, Dukungan Suami p = 0,079, sikap = 0,006. Secara kualitatif berdasarkan wawancara mendalam terhadap informan didapatkan  bahwa yang menyebabkan ibu tidak ingin membawa anaknya imunisasi adalah kurangnya dukungan yang diberikan oleh suami dan efek yang ditimbulkan oleh imunisasi. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh Pengetahuan, KIPI,  dan Sikap dengan Penggunaan Imunisasi Campak di Puskesmas Simpang kanan Kecamatan Simpang kanan Kabupaten Aceh singkil. Saran diharapkan Kerjasama dimulai Dinas Kesehatn Aceh Singkil yang memberikan sosialisasi kepada tenaga kesehatan, tokoh agama (ustadz), tokoh masyarakat, suami dan ibu tentang diperbolehkannya penggunaan imunisasi Campak oleh Majelis ulama indonesia sehingga meningkatkan minat masyarakat dalam penggunaan imunisasi campak. Kata Kunci        : Islam, Kesehatan, Imunisasi Campak.
LANGKAH TEPAT SEJAK DINI CEGAH STUNTING DI DESA SIMPUR KECAMATAN KETAMBE KABUPATEN ACEH TENGGARA 2023 Purnama Sari Cane; Eva Nurseptiana
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 5, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekurangan protein menyebabkan retardasi pertumbuhan dan kematangan tulang karena protein adalah zat gizi yang essensial dalam pertumbuhan. Meskipun asupan energi cukup, apabila asupan protein kurang maka akan menghambat pertumbuhan pada balita, kemudian bila kekurangan zat besi dapat menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan tubuh (Damayanti et al., 2016).  Stunting merupakan penggambaran dari status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stunting pada balita seperti karakteristik balita maupun faktor sosial ekonomi. Penelitian ini bersifat observasional dilakukan di Simpur, Kecamatan Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara. Akibat minimnya pengetahuan warga desa tentang stunting, maka Universitar Nurul Hasanah serta mahasiswi bekerjasama dengan pemerintah Desa Sumberlesung untuk merangkul kembali warga dalam kegiatan penyuluhan pencegahan stunting. Kegiatan ini berisikan tentang himbauan pencegahan serta penangan stunting dengan tepat. Lalu dampak kesenjangan yang terjadi bila tidak menerapkan pola hidup sehat dan bersih yang bisa menyebabkan stunting pada anak. Selain itu, mahasiswa UNH Kutacane juga melakukan demonstrasi pada warga Desa khususnya para ibu-ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI yang tepat, murah, dan mudah didapat dari alam sekitar. Dari kegiatan ini, hasil serta target yang ingin dicapai mahasiswa UNH adalah warga yang memiliki antusiasme yang tinggi sehingga kegiatan penyuluhan ini berjalan dengan lancar. Warga desa tidak merasa asing lagi dan mengetahui tentang cara mencegah stunting. Serta, pemberian makanan pendamping ASI secara tepat.Kata Kunci: Cegah Stunting Protein deficiency causes growth retardation and bone maturity because protein is an essential nutrient for growth. Even though energy intake is sufficient, if protein intake is insufficient it will inhibit growth in toddlers, then if there is a lack of iron it can cause problems with the immune system (Damayanti et al., 2016). Stunting is a description of chronic malnutrition during growth and development from early life. Many factors can cause stunting in toddlers, such as toddler characteristics and socio-economic factors. This observational research was conducted in Simpur, Ketambe District, Southeast Aceh Regency. Due to the village residents' lack of knowledge about stunting, Universitar Nurul Hasanah and its students collaborated with the Sumberlesung Village government to re-engage residents in stunting prevention outreach activities. This activity contains advice on preventing and handling stunting appropriately. Then there is the impact of inequality that occurs if you do not implement a healthy and clean lifestyle which can cause stunting in children. Apart from that, UNH Kutacane students also demonstrated to village residents, especially mothers, in providing appropriate, cheap and easy to obtain complementary breast milk food from the surrounding nature. From this activity, the results and targets that UNH students want to achieve are citizens who have high enthusiasm so that this outreach activity runs smoothly. Village residents no longer feel strange and know about how to prevent stunting. As well as, providing appropriate complementary foods for breast milk.Keywords: Prevent Stunting
KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT SEJAK DINI DESA TUALANG LAMA KECAMATAN DELENG PORKHKISEN KABUPATEN ACEH TENGGARA 2024 Uci Lestari; Eva Nurseptiana; Purnama Sari Cane
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 6, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi dan mulut adalah salah satu bagian dari  tubuh  yang  merupakan  masuknya  makanan  dan  minuman  ke  dalam  tubuh  yang  bisa menentukan  sejumlah  asupan  gizi.  Proses  penyerapan  nutrisi  yang  masuk  ke  dalam  tubuh dapat menyebabkan kondisi kesehatan yang buruk jika gigi seseorang tidak sehat (Kemenkes, 2022) Salah satu kesehatan tubuh pada daerah gigi dan mulut merupakan bagian komponen dari  unsur  kesehatan  yang  secara  umum  dan  menjadi  faktor  yang  paling  penting  dalam pertumbuhan  dan  perkembangan  normal  anak.  Permasalahan  pada  daerah  gigi  dan  mulut bisa  berpengaruh  pada  pertumbuhan  dan  perkembangan  anak-anak  yangberdampak  pada kualitas   hidup   mereka.   Hal   tersebut   tidak   boleh   dibiarkan,   khususnya   pada   masa pertumbuhan  dan  perkembangan  anak,  karena  merupakan  faktor  pendukung  yang  paling utama untuk memenuhi asupan gizi seorang anak Menurut Konsil Kedokteran Indonesia (2018), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dalam  buku  sakunya,  ada  sekitar  89  persen  anak-anak  mengalami  karies.  Kerusakan  gigi masih  menjadi  masalah  baik  di  Negara  maju  dan  berkembang.  Siswa  anak  SD  biasanya berumur 6-12 tahun. Kelompok pada anak usia SD ini pada umumnya sedang dalam tahap gigi campuran, yang mana gigi sulung akan mulai lepas dan gigi tetap tumbuh. Pada keadaan ini,  bisa  memperparah  kerusakan  gigi  karena  gigi  tetap  belum  tumbuh  sempurna.  Hal  ini disebabkan karena siswa SD lebih menyukai makanan dan minuman penyebab karies yang rentan   meningkatkan   terjadinya   kerusakan   gigi.   Dengan   kondisi   seperti   itu   dapat mengganggu  dalam  mengunyah  makanan,  saat  bicara,  dan  keindahan  gigi  yang  tidak maksimal   yang   dapat   berdampak   sampai   dewasa. Terganggunya   Fungsi   gigi   dalam mengunyah  dapat  menyebabkan  terhambatnya  pertumbuhan  optimal  pada  anak,  karena kemampuan  mengunyah  makanan  menurun.  Sakit  gigi  yang  dirasakan  dapat  mengganggu aktivitas belajar anak, sehingga tidak berangkat sekolah (Kemenkes, 2012). Upaya yang bisa dilakukan adalah menjaga kesehatan pada gigi dan mulut dengan cara memberikan  edukasi.  Kegiatan  ini  menggunakan  metode  penyuluhan  secara  langsung  dan demonstrasi praktekcara menggosok gigi yang baikdan benar serta memberikan kesempatan kepada  anak-anak  untuk  mencoba  mempraktikkannya  (Khayati  dkk,  2020).  Kegiatan  ini dilaksanakan dengan memberikan edukasi kesehatan pada gigi dan mulut dalam upaya meningkatkan status kesehatan gigi anak KB Tasa Islam Terpadu desa Tualang Lama.Kata Kunci: Kebersihan Gigi, MulutTeeth and mouth are one part of the body that is the entry of food and drink into the body that can determine a number of nutritional intakes. The process of absorbing nutrients that enter the body can cause poor health conditions if a person's teeth are not healthy (Ministry of Health, 2022). One of the health of the body in the dental and oral areas is a component of the general health elements and is the most important factor in the normal growth and development of children. Problems in the dental and oral areas can affect the growth and development of children which has an impact on their quality of life. This should not be allowed, especially during the growth and development of children, because it is the most important supporting factor to meet a child's nutritional intake. According to the Indonesian Medical Council (2018), the Indonesian Dentist Association (PDGI) in its pocket book, around 89 percent of children experience caries. Tooth decay is still a problem in both developed and developing countries. Elementary school students are usually 6-12 years old. This group of elementary school-aged children is generally in the mixed teeth stage, where the deciduous teeth will begin to fall out and the permanent teeth grow. In this condition, it can worsen tooth decay because permanent teeth have not grown perfectly. This is because elementary school students prefer foods and drinks that cause caries which are prone to increasing tooth decay. With such conditions, it can interfere with chewing food, when talking, and the beauty of the teeth is not optimal which can have an impact until adulthood. Disruption of the function of teeth in chewing can hinder optimal growth in children, because the ability to chew food decreases. Toothache that is felt can interfere with children's learning activities, so they do not go to school (Ministry of Health, 2012). Efforts that can be made are to maintain dental and oral health by providing education. This activity uses direct counseling methods and demonstrations of how to brush teeth properly and correctly and provides opportunities for children to try to practice it (Khayati et al., 2020). This activity is carried out by providing health education on teeth and mouth in an effort to improve the dental health status of children in the Integrated Islamic Tasa KB, Tualang Lama Village..Keywords: Dental Hygiene, Mouth
BAKTI SOSIAL PENGOBATAN GRATIS KORBAN BANJIR BANDANG KUTACANE ACEH TENGGARA Purnama Sari Cane; Eva Nurseptiana; Uci Lestari
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 7, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peristiwa banjir bandang di Kabupaten Aceh Tenggara tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis masyarakat, sehingga membutuhkan penanganan yang cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Sebagai bentuk aksi kemanusiaan, Universitas Nurul Hasanah Kutacane melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendistribusian pengobatan Gratis, bantuan darurat, pendampingan psikososial, serta edukasi kesiapsiagaan bencana di Lawe Sagu Hulu kuatacane dan daerah terdampak lainnya. Kegiatan ini dilakukan melalui tahapan asesmen cepat, koordinasi lintas pihak, penyaluran bantuan, pengobatan gratis dan juga pemeriksaan kesehatan serta pelaksanaan trauma healing dan sosialisasi mitigasi bencana. Hasil yang diperoleh menunjukkan peningkatan pemenuhan kebutuhan dasar, dampak positif pendampingan psikososial khususnya bagi anak-anak, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesiapsiagaan dan tindakan darurat. Evaluasi secara kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa kehadiran tim kemanusiaan memberikan rasa aman, memperkuat solidaritas sosial, dan meningkatkan ketahanan komunitas dalam menghadapi bencana. Oleh karena itu, kolaborasi berbasis masyarakat menjadi elemen penting dalam pemulihan pascabencana dan berpotensi dikembangkan sebagai model intervensi di wilayah rawan bencana lainnya.
EDUKASI KONSUMSI JUS JAMBU MERAH TERHADAP PENINGKATAN KADAR HAEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL DI DESA KUTAPASIR ACEH TENGGARA Eva Nurseptiana; Uci Lestari
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 4, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibu hamil Trimester III adalah wanita yang sedang mengandung janin di dalam rahim dan usia kehamilan 28-40 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir wanita tersebut. Masa kehamilan terutama trimester III merupakan masa kritis dimana kebutuhan akan zat gizi meningkat. Jika zat besi dalam darah kurang maka kadar hemoglobin akan menurun yang mengakibatkan gangguan dan pertumbuhan janin. Menurut World Health Oragnization Anemia adalah salah satu kondisi dimana sel darah merah berkurang sehingga kapasitas pengangkutan oksigen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh. Penyebab paling umum anemia secara global dikarenakan kekurangan zat besi. Pencegahan kekurangan zat besi tersebut dapat dilakukan dengan cara mengonsumsi tablet fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan, jika tidak dikonsumsi maka akan dikhawatirkan ibu akan mengalami anemia (Profil Kesehatan Indonesia 2015, 2015). Ibu hamil dikatakan anemia jika hemoglobin kurang dari 11gr/dl. Sebagian dari ibu hamil yang mengalami anemia sebesar 41,8% disebabkan oleh kekurangan zat besi (Profil Kesehatan Indonesia 2015, 2015). Zat besi dapat ditemukan pada buah, sayuran, biji-bijian dan daging pada makanan sehari-hari yang mengandung vitamin C dan B12 yang dapat membantu penyerapan zat besi. Buah jambu merah adalah salah satu terapi non farmakologi yang menawarkan manfaat kesehatan yang besar bagi penderita anemia, karena kandungan vitamin C pada jambu merah setara dengan 6 kali kandungan vitamin C pada jeruk, 10 kali kandungan vitamin C pada papaya, 17 kali kandungan vitamin C pada jambu air dan 30 kali kandungan vitamin C pada pisang.  Kandungan vitamin C pada jambu merah mencapai puncaknya saat menjelang matang, kandungan vitamin C per 100gr buah jambu merah matang adalah 150,50 mg, matang optimal sebanyak 130,13 mg dan lewat matang sebanyak 132,24 mg. Selain itu, tanaman jambu merah mudah ditemukan dan lebih ekonomis, sehingga hal tersebut menjadi salah satu alasan pemilihan bahan menjadi produk untuk intervensi.Kata Kunci: Jambu Merah, Hemoglobin, ibu HamilThird trimester pregnant women are women who are carrying a fetus in the uterus and gestational age of 28-40 weeks is calculated from the first day of the woman's last menstruation. The period of pregnancy, especially the third trimester, is a critical period when the need for nutrients increases. If iron in the blood is lacking, the hemoglobin level will decrease resulting in disruption and fetal growth. According to the World Health Organization Anemia is a condition in which red blood cells are reduced so that their oxygen carrying capacity is insufficient to meet the body's physiological needs. The most common cause of anemia globally is iron deficiency. Prevention of iron deficiency can be done by consuming as many as 90 tablets of Fe during pregnancy, if not consumed, it is feared that the mother will experience anemia (Ministry of Health RI 2015). Pregnant women are said to be anemic if their hemoglobin is less than 11gr/dl. 41.8% of pregnant women who experience anemia are caused by iron deficiency (Ministry of Health RI 2015). Iron can be found in fruits, vegetables, whole grains and meat in everyday foods that contain vitamins C and B12 which can help iron absorption. Guava fruit is one of the non-pharmacological therapies that offers great health benefits for people with anemia, because the vitamin C content in red guava is equivalent to 6 times the vitamin C content in oranges, 10 times the vitamin C content in papaya, 17 times the vitamin C content in guava water and 30 times the content of vitamin C in bananas. The content of vitamin C in red guava reaches its peak just before ripening, the content of vitamin C per 100 grams of ripe red guava is 150.50 mg, optimally ripe is 130.13 mg and overripe is 132.24 mg. In addition, guava plants are easy to find and more economical, so that is one of the reasons for selecting ingredients to be products for intervention.Keywords: Guava, Hemoglobin, Pregnant women
AKSI CEGAH STUNTING MENUJU GENERASI EMAS DESA TUALANG LAMA KECAMATAN DELENG PORKHKISEN KABUPATEN ACEH TENGGARA 2023 Uci Lestari; Eva Nurseptiana
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 5, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekurangan energi pada seseorang merupakan indikasi kekurangan zat gizi lain, apabila kondisi ini dibiarkan dalam jangka waktu lama maka akan mengakibatkan penurunan berat badan atau keadaan gizi kurang sehingga mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan tinggi badan. Kekurangan protein menyebabkan retardasi pertumbuhan dan kematangan tulang karena protein adalah zat gizi yang essensial dalam pertumbuhan. Meskipun asupan energi cukup, apabila asupan protein kurang maka akan menghambat pertumbuhan pada balita, kemudian bila kekurangan zat besi dapat menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan tubuh (Damayanti et al., 2016). Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada balita dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi (Swathma et al., 2016). Dalam upaya mencapai target penurunan prevalensi stunting maka Kementerian Kesehatan akan memfokuskan peningkatan gizi masyarakat yang telah tercantum pada Rencana Strategis (Renstra) Kemenkes tahun 2020-2024 dengan mengoptimalkan peran posyandu sebagai struktur terkecil dan terdepan dimana posyandu bisa menjangkau masyarakat secara langsung seperti dengan pemberian makanan tambahan kepada balita berupa telur ataupun susu (Kemenkes, 2019). Asupan gizi seimbang pada masa balita terutama selama belum menginjak usia 2 tahun adalah sangat penting, karena bayi masi bisa mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan perkembangannya yaitu pertumbuhan tinggi badan dan berat badannya, tentunya dengan pemberian makanan yang tepat, ASI, MPASI yang sesuai dengan tahapan pertumbuhannya. Kurangnya asupan makanan yang memadai berpeluang mengakibatkan terjadinya stunting. Asupan gizi secara langsung dipengaruhi oleh pola makan. Pola makan yang baik akan menjamin asupan gizi yang adekuat dan selanjutnya mempengaruhi status gizi yang baik pula.Kata Kunci: Stunting, Generasi EmasLack of energy in a person is an indication of lack of other nutrients, if this condition is left for a long time it will result in weight loss or malnutrition resulting in inhibition of the process of height growth. Protein deficiency causes growth retardation and bone maturity because protein is an essential nutrient in growth. Although energy intake is sufficient, if protein intake is less it will inhibit growth in toddlers, then if iron deficiency can cause disorders of the immune system (Damayanti et al., 2016). The adverse effects that can be caused by nutritional problems in toddlers in the short term are disruption of brain development, intelligence, impaired physical growth, and metabolic disorders in the body. While in the long run the adverse consequences that can be caused are decreased cognitive abilities and learning achievement, decreased immunity so that it is easy to get sick, and a high risk for the emergence of diabetes, obesity, heart and blood vessel disease, cancer, stroke, and disability in old age, as well as uncompetitive work quality which results in low economic productivity (Swathma et al., 2016). In an effort to achieve the target of reducing stunting prevalence, the Ministry of Health will focus on improving community nutrition as stated in the Ministry of Health's Strategic Plan (Renstra) for 2020-2024 by optimizing the role of posyandu as the smallest and leading structure where posyandu can reach the community directly, such as by providing additional food to toddlers in the form of eggs or milk (Ministry of Health, 2019). Balanced nutritional intake during toddlerhood, especially as long as it has not stepped on the age of 2 years is very important, because babies can still catch up with their growth and development, namely the growth of height and weight, of course with proper feeding, breast milk, complementary foods in accordance with the stages of growth. Lack of adequate food intake has the opportunity to lead to stunting. Nutritional intake is directly influenced by diet. A good diet will ensure adequate nutritional intake and further affect good nutritional status as well.Keywords: stunting, golden generation
REMAJA CERDAS MENGETAHUI SIKLUS MENSTRUASI DISELENGGARAKAN DI RUMAH PERADABAN SNC FANNAZ 2024 Eva Nurseptiana; Uci Lestari
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 6, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja putri pertama kali mengalami menstruasi biasanya dengan usia 11-16 tahun, menstuasi terjadi biasanya 1 bulan sekali dan waktu rentan 21-35 hari yang durasi siklus mentruasi 28 hari. Ketidakteraturan menstruasi dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah tingkat stres dan status gizi. ada remaja masalah yang sering muncul yaitu ke kurangan makanan  bergizi yang dapat menyebabkan menderita  gizi tidak  cukup atau sangat kurus  (kurang  energi  kronik) sehingga berdampak terjadinya anemia disebabkan kurang nya zat  besi. Permasalahan  lain yang biasanya terjadi ialah kelebihan asupan gizi yang bisa menimbulkan kegemukan. Kondisi tubuh dan  sistem pembuatan hormon yang  berhubungan  kuat terhadap kejadian menarche sangat dipengaruhi dengan hal-hal tersebut. Berat badan adalah paparan massa lemak tubuh yang mempunyai dampak terhadap keteraturan hormon  dan  menstruasi.  Diperoleh ikatan antara   siklus haid   dan lemak   tubuh. Hormon padatubuh dapat berakhir bekerja dan siklus menstruasi pun akan berakhir jika seorang wanita  mempunyai berat  badan  di  bawah batas normal. Pada wanitayang berat badan lebih atau obesitas mempunyai periode dua kali lipat lebih sering untuk mengalami siklus ireguler dari pada wanita dengan berat badan ideal.Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat ini bersifat observasional dilakukan di ruma peradaban SNC Fannaz, Kecamatan mencirim Kabupaten Deli Serdang. Akibat minimnya pengetahuan warga remaja tentang siklus menstruasi, maka Universitar Nurul Hasanah serta mahasiswi bekerjasama dengan pemerintah rumah Peradaban SNC Fannaz untuk merangkul kembali warga khususnya remaja dalam kegiatan penyuluhan tentang siklus Menstruasi. Kegiatan ini berisikan tentang himbauan agar remaja mampu mengetahui siklus menstruasi yang baik dan lancar setiap bulannya. Lalu dampak kesenjangan yang terjadi bila tidak menerapkan pola hidup sehat dan Berat Bdan ideal yang bisa menyebabkan Menstruasi tidak lancar dan mengalami gangguan