Matulessy, Elisabet
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Literatur Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberculosis (OAT) Pada Pasien TBC Matulessy, Elisabet; Pelatta, Chendy Sofianty; Pattiwael, Ravenska
MOLUCCAS HEALTH JOURNAL Vol 3, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/mhj.v3i2.850

Abstract

Tuberculosis is a chronic infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. This bacterium is rod-shaped and is acid-fast, so it is often known as Acid-Resistant Basil (BTA). The source of transmission is smear positive TBC patients through the sputum sprinkles they excrete. The purpose of this study was to determine the description of knowledge, motivation for healing and family support with adherence to taking Anti Tuberculosis Drugs (OAT) in TBC patients in 2021. The design of this study was descriptive using the Systematic Review method. The method used is to examine the results of other parties' research. Sampling in this study was carried out by a screening process with a sample of 16 research journals. The results of this study are in accordance with 16 research journals showing that there is a significant relationship between knowledge, healing motivation and family support with adherence to taking Anti Tuberculosis Drugs (OAT) in TBC patients. Conclusion: there is a significant relationship between knowledge, healing motivation and family support with adherence to taking Anti Tuberculosis Drugs (OAT). Suggestions for tuberculosis sufferers to comply with treatment for 6 months or according to the time recommended by health workers and for families to be supervisors of taking medication for patients, play an active role in providing support and motivation for patients in the treatment stage.Keywords: TBC, OAT adherence, Knowledge, Healing Motivation, Family Support
Analisis Perbandingan Sensitivitas dan Spesifitas ICT dan Mikroskopis dalam menentukan Positif Malaria di Piru Seram Bagian Barat Matulessy, Elisabet
MOLUCCAS HEALTH JOURNAL Vol 2, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/mhj.v2i2.451

Abstract

Malaria merupakan penyakit yang telah dikenal sejak lama, sejak manusia muncul di permukaan bumi, nyamuk anopheles telah berkembang biak. Penelitian paleolitik dan neolitik menunjukan bahwa manusia prasejarah – sedikitnya pada daerah hangat – mengalami demam dan mengigil malaria. Suatu hal yang sangat mungkin malaria berasal dari afrika, menurut antropologis yang meneliti susunan ras manusia ; migrasi mungkin membawa penyakit ini ke Mediterania, Mesopotomia, semenanjung  India dan Asia Tenggara (Shuler. 2016)          Penyakit malaria diduga berkaitan dengan keterbelakangan dan kemiskinan serta berdampak pada penurunan produktifitas kerja dan penurunan tingkat kecerdasan pada anak usia sekolah. Sampai saat ini malaria masih menjadi masalah utama dalam upaya kesehatan masyarakat dan menjadi focus perhatian utama dalam upaya penurunan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular, baik secara nasional maupun secara internasional. Hal ini terbukti dengan dimasikannya upaya pengendalian penyakit malaria sebagai isu penting dalam pencapai Tujuan Millenium Development Goals (MDGs) atau Pembangunan Millennium pada tahun 2015 (UNV-Indonesia, 2016).           Laporan Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) dan UNICEF menyebutkan bahwa angka kematian akibat malaria masih tinggi, mencapai satu juta jiwa pertahun. Penyakit tersebut telah ,membunuh satu anak setiap 30 detik di wilayah Sub Sahara Afrika. Padahal, upaya pencegahan dan perawatan sudah mengalami kemajuan sejak tahun 2010. Laporan WHO tersebut juga menyebutkan bahwa 300 sampai 500 juta penduduk di seluruh dunia tertular malaria setiap tahunnya. WHO menargetkan, dibutuhkan dana sebesar 3,2 miliar dolar AS untuk memerangi penyakit tersebut di 82 negara yang paling terkena dampaknya (Medikaholistik, 2015).