Malaria merupakan penyakit yang telah dikenal sejak lama, sejak manusia muncul di permukaan bumi, nyamuk anopheles telah berkembang biak. Penelitian paleolitik dan neolitik menunjukan bahwa manusia prasejarah – sedikitnya pada daerah hangat – mengalami demam dan mengigil malaria. Suatu hal yang sangat mungkin malaria berasal dari afrika, menurut antropologis yang meneliti susunan ras manusia ; migrasi mungkin membawa penyakit ini ke Mediterania, Mesopotomia, semenanjung India dan Asia Tenggara (Shuler. 2016)         Penyakit malaria diduga berkaitan dengan keterbelakangan dan kemiskinan serta berdampak pada penurunan produktifitas kerja dan penurunan tingkat kecerdasan pada anak usia sekolah. Sampai saat ini malaria masih menjadi masalah utama dalam upaya kesehatan masyarakat dan menjadi focus perhatian utama dalam upaya penurunan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular, baik secara nasional maupun secara internasional. Hal ini terbukti dengan dimasikannya upaya pengendalian penyakit malaria sebagai isu penting dalam pencapai Tujuan Millenium Development Goals (MDGs) atau Pembangunan Millennium pada tahun 2015 (UNV-Indonesia, 2016).          Laporan Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) dan UNICEF menyebutkan bahwa angka kematian akibat malaria masih tinggi, mencapai satu juta jiwa pertahun. Penyakit tersebut telah ,membunuh satu anak setiap 30 detik di wilayah Sub Sahara Afrika. Padahal, upaya pencegahan dan perawatan sudah mengalami kemajuan sejak tahun 2010. Laporan WHO tersebut juga menyebutkan bahwa 300 sampai 500 juta penduduk di seluruh dunia tertular malaria setiap tahunnya. WHO menargetkan, dibutuhkan dana sebesar 3,2 miliar dolar AS untuk memerangi penyakit tersebut di 82 negara yang paling terkena dampaknya (Medikaholistik, 2015).