Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Jurnal Ners

Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kecemasan Lansia di Wisma Indrokilo Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Arif Widodo; Herlina Eka Hapsari
Jurnal Ners Vol. 9 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i1.32336

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu gangguan mental yang paling umum dialami oleh orang lanjut usia. Tingkat ganguan kecemasan yang dialami pada lansia yang tinggal di panti werdha lebih tinggi dibandingkan lansia yang tinggal dengan keluarganya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Relaksasi Otot Progresif (ROP) terhadap kecemasan. Metode penilitian ini menggunakan one groub pre test-post test without control, pada penelitian ini peneliti tidak menggunakan kelompok control dengan jumlah responden 8 lansia. Lansia diberikan intervensi berupa terapi Relaksasi Otot Progresif (ROP) selama ± 30 menit. Hasil dari penelitian ini didapatkan tingkat kecemasan ringan dari 2 responden (25.0%) menjadi 5 reponden (62.5%) dan kecemasan sedang dari 6  responden menurun menjadi 3 responden (37.5%). Serta didapatkan nilai P Value
Kajian Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn. S dengan Skizofrenia Tak Terinci di RSJD Dr. Arif Zainudin Sukoharjo Rafifah Luthfiah; Arif Widodo
Jurnal Ners Vol. 9 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i1.32547

Abstract

Skizofrenia dibagi menjadi sembilan. Salah satu tipe yang dibahas yaitu skizofrenia tak terinci. Skizofrenia tak terinci termasuk jenis skizofrenia yang memenuhi kriteria umum skizofrenia, namun tidak tidak memenuhi kriteria untuk didiagnosis skizofrenia paranoid, hebrefenik atau katatonik. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca-skizofrenia (Wibowo & Herdaetha, 2022). Gangguan jiwa disebabkan oleh adanya gangguan pada fungsi jiwa yang meliputi perasaan, pikiran, tingkah laku, emosi, motivasi, kemauan, keinginan dan persepsi yang dapat mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Salah satu tantangan kesehatan global adalah gangguan jiwa yang memiliki dampak signifikan dikarenakan prevalensinya yang tinggi dan penderitaan berat yang dirasakan oleh individu, keluarga, komunitas dan negara (Daulay & Simamora, 2020). Banyaknya pasien lama yang kembali dirawat di RSJD Surakarta menunjukkan bahwa perawatan pasien belum efektif. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan rencana studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Jenis rancangan serta pendekatan yang digunakan dengan penelitian yaitu studi kasusu menggunakan pendekatan proses keperawatan. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28-30 desember 2023. Instrumen penelitian yang digunakan pada wawancara dengan penelitian sendiri dengan alat bantu pedoman pengkajian dan strategi pelaksanaan. Sedangkan instrument yang lain dengan menggunakan tensimeter, thermometer, saturasi oksigen dan timbangan. Populasi daam penelitian ini dilakukan pada Tn. S di bangsal gatot kaca RSJD Dr. Arif Zainuddin Surakarta. Sample: sample diambil dengan cara teknik purpose sampling. Setelah dilakukan interaksi selama 4 minggu pertemuan dan melaksanakan SP 1 sampai SP IV, pasien mampu mengidentifikasi halusinasinya dan pasien mampu mengontrol hausinasinya dengan cara menghardik, bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika halusinasinya halusinasinya muncul pasien mampu melakukan kegiatan terjadwal harian sesuai dengan waktunya, halusinasi yang pasien alami berkurang setelah pasien berlatih mengontrol halusinasi.
Efektivitas Terapi Okupasi Menggambar dalam Menurunkan Gejala Halusinasi Pendengaran Arsyifa Inneza Hermoko; Arif Widodo
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47096

Abstract

Latar Belakang : Halusinasi pendengaran merupakan gejala utama pada pasien skizofrenia yang dapat mengganggu perilaku dan interaksi sosial. Penatalaksanaan non-farmakologis seperti terapi okupasi menggambar dinilai efektif dalam menurunkan gejala halusinasi dan memperbaiki fungsi sosial pasien. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi okupasi menggambar dalam menurunkan gejala halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia yang dirawat di RSJD Dr. Arif Zainudin Surakarta. Metode: Karya tulis ilmiah ini menggunakan rancangan studi kasus dengan penerapan evidence based practice pada dua pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Intervensi berupa terapi menggambar dilakukan selama tiga hari, tiga kali sehari, masing-masing berdurasi 5–10 menit. Hasil: Hasil observasi menunjukkan penurunan frekuensi dan intensitas gejala halusinasi pada kedua subjek. Perilaku pasien menjadi lebih stabil, tidak lagi mondar-mandir atau berbicara sendiri, serta mampu membedakan realitas dan halusinasi. Kesimpulan: Terapi okupasi menggambar efektif menurunkan gejala halusinasi pendengaran dan meningkatkan fungsi sosial serta kognitif pasien skizofrenia
Penerapan Terapi Aktivitas Kelompok Meronce pada Pasien Halusinasi Dengan Diagnosa Medis Skizofrenia Tak Terinci di Rumah Sakit Jiwa Dr. Arif Zainudin Surakarta Feny Nur Baity; Arif Widodo
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.48033

Abstract

Latar Belakang: Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang sering ditandai oleh gejala halusinasi, termasuk halusinasi pendengaran. Salah satu pendekatan non-farmakologis yang digunakan untuk mengurangi gejala tersebut adalah terapi aktivitas kelompok (TAK) meronce manik-manik.Tujuan: Mengetahui efektivitas terapi aktivitas kelompok meronce terhadap penurunan gejala agitasi pada pasien skizofrenia tak terinci dengan halusinasi.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen one group pretest-posttest dengan sampel sebanyak 7 pasien yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan kegiatan meronce manik-manik dalam kelompok. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen PANSS-EC sebelum dan sesudah intervensi. Uji normalitas dilakukan dengan Shapiro-Wilk, sedangkan analisis data menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test.Hasil: Rata-rata skor PANSS-EC pra intervensi sebesar 15,14 menurun menjadi 5,71 pasca intervensi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -2,371 dan p = 0,018 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan. Kesimpulan: Terapi aktivitas kelompok meronce terbukti efektif dalam menurunkan tingkat agitasi, permusuhan, ketegangan, dan gangguan kontrol impuls pada pasien skizofrenia dengan halusinasi.
Penerapan Art Therapy Menganyam pada Penderita Halusinasi Skizofrenia Alfi Mardiyah; Arif Widodo
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53989

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan art therapy dengan menggunakan teknik menganyam sebagai intervensi bagi penderita halusinasi pendengaran pada skizofrenia. Penelitian ini juga bertujuan untuk menilai dampak intervensi ini terhadap pengurangan gejala dan peningkatan kualitas hidup pasien secara keseluruhan. Metode analisis deskriptif diterapkan dengan pendekatan studi kasus, melibatkan dua pasien yang didiagnosis mengalami halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Dr. Arif Zainudin. Data dikumpulkan menggunakan Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS) dan melalui pengamatan langsung selama sesi terapi. Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan pada skor AHRS, di mana responden 1 mengalami penurunan dari 18 menjadi 12, dan responden 2 dari 14 menjadi 11. Penurunan ini menandakan efektivitas teknik menganyam dalam mengurangi gejala halusinasi. Selain itu, penelitian ini menyoroti bagaimana art therapy dapat memfasilitasi ekspresi diri dan memberikan saluran aman bagi pasien untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa art therapy merupakan alternatif berharga dan efektif dalam pendekatan terapeutik untuk gangguan mental berat. Kata Kunci: Art Therapy, Menganyam, Skizofrenia. Abstract This study aims to explore the application of art therapy utilizing weaving techniques as an intervention for patients experiencing auditory hallucinations in schizophrenia. The research also seeks to assess the impact of this intervention on the reduction of symptoms and the enhancement of the patients' overall quality of life. A descriptive analysis method was employed using a case study approach, involving two patients diagnosed with auditory hallucinations at Dr. Arif Zainudin Mental Hospital. Data were collected using the Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS) and through direct observation during therapy sessions. The results revealed a significant reduction in AHRS scores, with respondent 1 experiencing a decrease from 18 to 12, and respondent 2 from 14 to 11. This reduction indicates the effectiveness of the weaving technique in mitigating hallucination symptoms. Furthermore, the study highlights how art therapy can facilitate self-expression and provide a safe avenue for patients to communicate their thoughts and feelings. These findings suggest that art therapy represents a valuable and effective alternative in the therapeutic approach to severe mental disorders. Keywords: Art Therapy, Menganyam, Skizofrenia.