Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Effects of Effleurage Massage in Reducing Pain in Intranatal Patients Arsyifa Inneza Hermoko; Sulastri Sulastri
Contagion: Scientific Periodical Journal of Public Health and Coastal Health Vol 5, No 4 (2023): CONTAGION
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/contagion.v5i4.18394

Abstract

At the time of labor the mother experiences pain, pain during childbirth is felt by the mother due to uterine contractions. Massage is an act of producing relaxation and improving circulation so as to reduce pain. The purpose of the research to determine the effect of massage effleurage technique on the pain of active phase maternity mothers. Research is quantitative research with the Quasy Experiment method. The design of this study is one group pretest posttest design. The sampling technique in this study was total sampling. The sample in this study was 30 pregnant women who experienced labor pain during the 1st active phase. The instrument used in data collection in this study used a Numeric Rating Scale (NRS) observation sheet. The patient will be given an effleurage massage for 15 minutes, Data analysis using paired sample test. The results of the analysis found that the average value of pain at the time of pretest measurement was 2.27 (0.64), while in the posttest measurement, the average value of pain was 1.30 (0.46). The mean difference between pretest and posttest measurements was recorded at 0.96 with a confidence interval (95% CI) of 0.784; 1.150. The statistical results show a value of p = 0.001. Providing intervention in the form of massage effleurage in intranatal patients when 1 is active can help provide comfort so as to reduce the pain felt. Keyword: Complementary Therapy, Intranatal Patient, Massage Effleurage, Pain
Efektivitas Terapi Okupasi Menggambar dalam Menurunkan Gejala Halusinasi Pendengaran Arsyifa Inneza Hermoko; Arif Widodo
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47096

Abstract

Latar Belakang : Halusinasi pendengaran merupakan gejala utama pada pasien skizofrenia yang dapat mengganggu perilaku dan interaksi sosial. Penatalaksanaan non-farmakologis seperti terapi okupasi menggambar dinilai efektif dalam menurunkan gejala halusinasi dan memperbaiki fungsi sosial pasien. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi okupasi menggambar dalam menurunkan gejala halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia yang dirawat di RSJD Dr. Arif Zainudin Surakarta. Metode: Karya tulis ilmiah ini menggunakan rancangan studi kasus dengan penerapan evidence based practice pada dua pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Intervensi berupa terapi menggambar dilakukan selama tiga hari, tiga kali sehari, masing-masing berdurasi 5–10 menit. Hasil: Hasil observasi menunjukkan penurunan frekuensi dan intensitas gejala halusinasi pada kedua subjek. Perilaku pasien menjadi lebih stabil, tidak lagi mondar-mandir atau berbicara sendiri, serta mampu membedakan realitas dan halusinasi. Kesimpulan: Terapi okupasi menggambar efektif menurunkan gejala halusinasi pendengaran dan meningkatkan fungsi sosial serta kognitif pasien skizofrenia
Pemberian Aromaterapi Lavender pada Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisa dengan Fatigue Novita Sabila; Arsyifa Inneza Hermoko; Fara Nabila; Nuriyatul Fitriyah; Arina Maliya; Dyan Kurniasari
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.170

Abstract

Fatigue merupakan salah satu gejala yang sering terjadi dan paling memberatkan pada pasien penyakit ginjal kronis (CKD) yang menjalani hemodialisa, dengan dampak terhadap kualitas hidup, kesehatan mental, dan kepatuhan terapi. Terapi farmakologis tidak selalu optimal menangani fatigue, intervensi non-farmakologis mulai banyak diminati karena risiko efek samping farmakoterapi jangka panjang. Aromaterapi lavender menjadi pilihan terapi komplementer karena kandungan senyawa aktif seperti linalool dan linalyl acetate yang memiliki efek relaksasi melalui sistem saraf pusat, menurunkan kecemasan, memperbaiki kualitas tidur, dan menurunkan tingkat kelelahan. Tujuan literature review ini adalah untuk menganalisis efektivitas aromaterapi lavender pada penurunan fatigue pasien CKD yang menjalani hemodialisa. Metode yang digunakan adalah literature review dengan melakukan pencarian database tahun 2020-2025 sehingga didapatkan 180 artikel dari tiga database yang kemudian dianalisis menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) dan didapatkan sepuluh literature yang membahas dampak aromaterapi lavender pada pasien hemodialisa dengan fatigue. Hasil review menunjukkan konsistensi manfaat pemberian aromaterapi lavender, baik dengan cara inhalasi maupun massage, secara signifikan mampu menurunkan skor fatigue, menurunkan tingkat kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Efek maksimal diperoleh melalui pemberian rutin minimal 2–3 kali seminggu selama dua minggu atau lebih, khususnya jika dikombinasikan dengan edukasi kesehatan dan dukungan keluarga. Satu kali intervensi tanpa edukasi terbukti kurang optimal. Faktor seperti usia lanjut, komorbiditas, dan kurangnya edukasi memperberat gejala fatigue. Kesimpulan literature review menegaskan bahwa aromaterapi lavender merupakan intervensi komplementer yang efektif, aman, dan layak diintegrasikan ke dalam praktik keperawatan berbasis bukti untuk menurunkan kelelahan pasien CKD yang menjalani hemodialisa.