Raharjo, Furqon Dawam
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Variasi Spasial Parameter Seismotektonik Untuk Mengetahui Kondisi Stress Lokal Tektonik dan Tingkat Keaktifan Kegempaan Di Wilayah Sumatera Barat dan Sekitarnya Raharjo, Furqon Dawam
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.199

Abstract

Variasi spasial parameter seismotektonik. a dan b value dapat menggambarkan kondisi stress tektonik dan tingkat keaktifan seimik disuatu wilayah. a dan b value merupakan tingkat aktivitas seismik dan karakterisitik seismotektonik di suatu wilayah. a value yang rendah mencerminkan tingkat keaktifan kegempaan yang rendah dan sebaliknya pada a value yang tinggi, sedangkan b value yang rendah dapat menggambarkan kondisi stress lokal tektonik yang tinggi dan sebalikanya pada b value tinggi. Pada studi ini, menggunakan katalog dari BMKG dan NEIC/USGS periode observasi 1 januari 1973 – 31 desember 2010 dengan batas koordinat 2 LU – 4 LS dan 94 BT – 104 BT meliputi wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya. Untuk menentukan variasi spasial parameter seismotektonik menggunakan software ZMAP (Wiemer and Wyss, 2002). Dari analisis didapatkan variasi spasial b-value berkisar 0.6 – 2.0 dan nilai a- value berkisar 4 – 11. Kondisi stress lokal yang tinggi (low b-value) teramati disekitar Kep.Mentawai, pulau Nias bagian selatan dan disepanjang bukit barisan Sumatera Barat dan kondisi stress lokal yang rendah (high b- value) teramati dibagian barat-barat laut pulau Nias dan disepanjang bukit barisan Sumatera bagian utara. Sedangkan tingkat keaktifan kegempaan yang rendah terjadi di kep.Mentawai dan tingkat keaktifan kegempaan yang tinggi terjadi di barat-barat laut pulau Nias dan disepanjang bukit barisan Sumatera bagian utara
ESTIMASI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DAN PERCEPATAN TANAH DI PERMUKAAN MENGGUNAKAN MODEL FUNGSI ATENUASI BOORE (1997) Raharjo, Furqon Dawam
Jurnal Geofisika Vol 21 No 1 (2023): Jurnal Geofisika
Publisher : Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36435/jgf.v21i1.548

Abstract

Gempabumi yang terjadi pada tanggal 25 februari 2022 di Kabupaten Pasaman Barat dengan magnitudo momen (Mw) 6.2, menghasilkan guncangan tanah yang kuat sehingga banyak bangunan yang mengalami kerusakan berat. Tingkat besarnya guncangan tanah dapat ditentukan dengan nilai percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm). Informasi parameter tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) memegang peranan penting untuk menggambarkan tingkat kerusakan bangunan akibat event gempabumi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dengan nilai percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) akibat gempabumi Mw6.1 di Kabupaten Pasaman Barat. Pada penelitian ini menggunakan data parameter gempabumi utama, selanjutnya percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dihitung menggunakan model fungsi atenuasi Boore (1997) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) dianalisis berdasarkan faktor amplifikasi dari SNI 1726-2012 yang dipengaruhi parameter Vs30. Hasil penelitian ini diperoleh nilai percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) berkisar antara 0.066 g - 0.345 g dan 0.223 g hingga 0.627 g. Wilayah yang terdampak kerusakan berat di Kab. Pasaman Barat, seperti Talamau, Kajai, Rimbo Panti, Tigo Nagari dan Malampah mempunyai nilai percepatan tanah maksimum dibatuan dasar (PGA) dan percepatan tanah dipermukaan (PGAm) sekitar 0,115 g - 0.345 g dan 0.423 g - 0.627 g dan didominasi dengan jenis klasifikasi (site class) tanah sedang (stiff soil) berdasar dari data Vs30 model USGS. Kata kunci : Percepatan Tanah Maksimum Dibatuan Dasar (PGA), Percepatan Tanah Dipermukaan (PGAm), Model Fungsi Atenuasi Boore (1997), Gempabumi Kab.Pasaman Barat