Sauqi, Achmad
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Filosofi “Menumbuhkan Padi” sebagai Media Pembentukan Kepemimpinan Siswa dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara di SMP Negri 1 Jalaksana Kabupaten Kuningan Sauqi, Achmad; Yasin, Ahmad Alamuddin
TSAQAFATUNA : Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 7 No. 2 (2025): Inovasi Pendidikan Agama Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/tsaqafatuna.v7i2.685

Abstract

This study aims to describe the implementation of the “growing rice” philosophy in shaping student leadership character at SMP Negeri 1 Jalaksana. This concept refers to the thoughts of Ki Hajar Dewantara, who emphasized education as an effort to guide students’ natural potential to develop holistically, encompassing cognitive, affective, and psychomotor aspects. The research employed a qualitative method with an ethnographic approach conducted over one week, involving observations and in-depth interviews with the principal, teachers, and students. Primary data were obtained from observations and interviews, while secondary data were derived from relevant literature, including books and scholarly articles. The findings reveal that the implementation of the “growing rice” philosophy is carried out in three stages: pre-growing, during growth, and post-growing. At the pre-growing stage, teachers prepared learning strategies aligned with the Merdeka Curriculum, including project-based learning, differentiated instruction, socio-emotional competency development, reflective practices, and positive discipline. During the growth stage, activities were conducted through intracurricular, extracurricular, and co-curricular programs that provided students with opportunities to create, collaborate, and participate in decision-making. The post-growing stage encompassed “harvesting,” reflected in the enhancement of students’ leadership skills such as effective communication, teamwork, conflict management, and decision-making, along with semester-based evaluations to monitor the development of leadership character. In conclusion, the implementation of the “growing rice” philosophy fosters students’ leadership character, creating an inclusive, cooperative, and positive school culture. Thus, Ki Hajar Dewantara’s educational philosophy remains relevant in supporting the goals of the Merdeka Curriculum to shape a generation that is intelligent, of strong character, and prepared to face future challenges.
METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS SOSIO HUMANIORA Sauqi, Achmad
TANZHIMUNA : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 5 No. 1 (2025): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/jbrjvx74

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era modern menghadapi tantangan kompleks seiring dengan dinamika sosial, budaya, dan arus globalisasi yang menuntut penguatan dimensi kemanusiaan selain aspek teologis. Pendekatan pembelajaran PAI yang masih dominan bersifat normatif dan kognitif dinilai belum sepenuhnya mampu menumbuhkan empati, toleransi, serta tanggung jawab sosial peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual pembelajaran PAI berbasis sosio-humaniora serta mengidentifikasi metode dan strategi pembelajaran yang relevan dalam mengembangkan dimensi sosial dan kemanusiaan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, artikel jurnal, dan regulasi pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan sosio-humaniora memposisikan PAI sebagai proses pendidikan yang kontekstual, dialogis, dan humanistik melalui integrasi nilai-nilai sosial, kemanusiaan, dan keislaman. Pendekatan ini sejalan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 serta memperkuat peran guru sebagai fasilitator pembelajaran dan agen transformasi sosial. Dengan demikian, pembelajaran PAI berbasis sosio-humaniora berkontribusi penting dalam pengembangan pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan dimensi spiritual, tetapi juga responsif terhadap realitas sosial dan kemanusiaan.
INTEGRASI ILMU DAN AMAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KONTEMPORER: ANALISIS KONSEPTUAL PEMIKIRAN AL-GHAZALI DALAM AYYUHAL WALAD Sauqi, Achmad
TANZHIMUNA : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 5 No. 2 (2025): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/prkxxt54

Abstract

Krisis etika, degradasi karakter, dan kecenderungan kognitif sentris dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menunjukkan adanya kesenjangan antara penguasaan ilmu keagamaan dan pengamalan nilai moral peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis relevansi dan kontribusi pemikiran Al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad terhadap pengembangan paradigma PAI kontemporer, khususnya terkait integrasi ilmu dan amal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, melalui analisis tematik terhadap teks Ayyuhal Walad dan literatur pendukung yang relevan dengan pendidikan Islam modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep ilmu bermanfaat, tazkiyatun nafs, keikhlasan, serta hubungan humanistik antara guru dan murid yang dikemukakan Al-Ghazali menawarkan fondasi epistemologis dan pedagogis bagi pembaruan PAI. Pemikiran tersebut relevan untuk menjawab permasalahan pendidikan agama di era digital, seperti krisis otoritas keilmuan, etika belajar, dan menyembunyikan spiritual generasi muda. Artikel ini menyimpulkan bahwa Ayyuhal Walad tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga memiliki kontribusi signifikan sebagai sumber konseptual bagi pengembangan PAI yang transformatif, humanistik, dan berorientasi pada pembentukan karakter spiritual moral.