Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

REDESIGN STRUKTUR GEDUNG TATA USAHA TOWER PUSDIKLAT PENGAWASAN BPKP CIAWI BOGOR Nugraha, Wiratna Tri; Anindhita, Shopia Putri
JURNAL MOMEN TEKNIK SIPIL SURYAKANCANA Vol 7, No 2 (2024): JURNAL MOMEN VOL.07 NO.02. 2024
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmts.v7i2.4833

Abstract

Redesign Struktur Gedung Tata Usaha Tower Pusdiklat Pengawasan BPKP Ciawi, Bogor dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Gedung ini memiliki 10 lantai dilengkapi lift room dan machine room dengan tinggi bangunan 42,95 m, tinggi lantai dasar 3,6 m. Mutu beton yang digukana f’c 45 MPa serta mutu baja tulangan fy 420 MPa. Dari hasil analisa dan perhitungan struktur diperoleh dimensi balok induk BI 400/650 mm dengan tulangan tumpuan atas 6D22, bawah 5D22, tulangan torsi 4D13, sengkang 4D10-100 dan tulangan lapangan atas 3D22, bawah 3D22, tulangan torsi 2D13, sengkang 3D1-100 serta selimut beton 40 cm. Dimensi balok induk BI 250/450 mm dengan tulangan tumpuan atas 3D19, bawah 3D19, sengkang 2D10-150 dan tulangan lapangan atas 2D19, bawah 2D19, sengkang 2D-150 serta selimut beton 40 cm. Dimensi kolom K1 yaitu 700/700 mm dengn dengan konfigurasi 16D22, 800/800 mm dengn dengan konfigurasi 20D22, 850/850 mm dengn dengan konfigurasi 24D22. Dimensi pada Hubungan Balok Kolom mencukupi dan dipasangan sengkang 6D13-100. Dimensi pelat tangga dan bordes tumpuan D13-150 dan lapangan D13-150. . Dimensi pelat lantai tumpuan D10-200 dan lapangan D10-200. Dimensi pelat atap tumpuan ?8-150 dan lapangan ?8-200 Sedangkan dimensi balok tangga yaitu 250/400 dengan tulangan tumpuan dan lapangan sama yaitu tulangan atas 4D13, bawah 3D13 serta sengkang 2D10-150. Dimensi balok penggantung lift yaitu 250/400 dengan tulangan tumpuan dan lapangan sama yaitu tulangan atas 5D13, bawah 4D13 serta sengkang 2D10-150.  Kata Kunci:Perencanaan Struktur Atas, Sistem Rangka Pemikul Momen, Struktur Tahan Gempa
STUDI KEBUTUHAN TRAYEK ANGKUTAN UMUM PERDESAAN WILAYAH KECAMATAN CIPANAS KABUPATEN CIANJUR (RUTE TERMINAL PASAR CIPANAS – LOJI CISEUREUH) Nugraha, Wiratna Tri; Iskandar, Aura Kristie; Ilham, Ilham
JURNAL MOMEN TEKNIK SIPIL SURYAKANCANA Vol 8, No 01 (2025): JURNAL MOMEN VOL.08 NO.01. 2025
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmts.v8i01.5652

Abstract

Salah satu pilihan transportasi umum yang tersedia di Cipanas adalah angkutan umum antar pedesaan. Akan tetapi kurangnya penumpang di jamjam tertentu serta sedikitnya pengguna di desa yang memiliki jarak yang lumayan jauh mengakibatkan pengemudi angkutan umum kekurangan pendapatan yang sesuai dengan yang diperoleh. Untuk mengurangi oversupply yang akan berdampak negatif pada operator serta menurunkan kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan sangat penting mengetahui jumlah optimal armada pada trayek. Pengumpulan data didapatkan dari hasil survei yang dilakukan pada rute trayek Cipanas – Loji Ciseureuh untuk menghitung nilai load factor dan BOK. Data yang didapat yaitu pada jam operasional selama 12 jam sehari yaitu pukul 06:00-18:00 WIB, yang dilakukan selama enam hari yaitu hari Senin, Rabu, Jum’at, Minggu dan pada tanggal merah yaitu tanggal 25 dan 31 Desember 2023. Hasil survei juga analisa berdasarkan perhitungan operator atau perhitungan yang terjadi di lapangan menunjukan bahwa nilai BOK per tahun + Margin10% per tahun pada kapasitas kendaraan 12 orang adalah sebesar Rp. 21.031.929,6 dan pada kapasitas kendaraan 16 orang adalah sebesar Rp. 34.834.060,8 dengan pendapatan rata-rata per tahun sebesar Rp. 119.700.000, pada perhitungan BEP yang dilakukan baik pada kapasitas 12 orang dan 16 orang dapat memenuhi Biaya Operasional Kendaraan (BOK) per tahun, dengan pendapatan sebesar Rp. 98.668.070,4/tahun pada kapasitas kendaraan 12 orang dan Rp. 84.865.939,2/tahun pada kapasitas kendaraan 16 orang. Berdasarkan tarif, hasil analisa menunjukkan jumlah armada optimal beroperasi dapat menjadi lebih banyak melebihi armada yang beroperasi saat ini. Sedangkan untuk armada yang beroperasi masuk ke daerah Loji Ciseureuh dengan pendapatan sebesar Rp. 37.800.000/tahun, pada perhitungan yang dilakukan baik pada kapasitas 12 orang dan 16 orang juga dapat memenuhi Biaya Operasional Kendaraan (BOK) per tahun, dengan pendapatan sebesar Rp. 16.768.070,4/tahun pada kapasitas kendaraan 12 orang dan Rp. 2.965.939,2/tahun pada kapasitas kendaraan 16 orang.
TINJAUAN STRUKTUR GEDUNG BANKES IGD RUMAH SAKIT TK II 03.05.01 DUSTIRA Nugraha, Wiratna Tri; Simanjuntak, Agreny Arcellita; Rihandiar, Eri
JURNAL MOMEN TEKNIK SIPIL SURYAKANCANA Vol 8, No 01 (2025): JURNAL MOMEN VOL.08 NO.01. 2025
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmts.v8i01.5728

Abstract

Tinjauan Ulang Struktur Gedung Bankes IGD TK.II 03.05.01 Rumah Sakit Dustira Cimahi dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Gedung ini memiliki 2 lantai dengan tinggi bangunan total 11200 mm, dan tinggi lantai dasar 4200 mm. Kategori kelas situs SD (tanah sedang) yang berdasarkan fungsinya termasuk kategori risiko IV serta kategori desain seismik (KDS) D. Analisa menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus yang mengacu pada SNI 1726:2019 dan 2847:2019. Dari analisa tinjauan ulang, mutu beton yang digunakan fc’ 29,05 MPa serta mutu baja tulangan yang digunakan fy tulangan pokok 400 MPa dan fy sengkang 240 MPa. Menggunakan balok induk 400/600 mm dengan konfigurasi tulangan longitudinal 10D19 dan sengkang 2P12 – 125 mm pada lantai, balok induk 400/600 mm dengan konfigurasi tulangan longitudinal 7D19 dan sengkang 2P12 – 100 mm pada dak atap, balok induk 400/650 mm dengan konfigurasi tulangan longitudinal 12D19 dan sengkang 2P12 – 75 mm pada lantai toren, pada tiap lantai menggunakan balok anak 200/400 mm dengan konfigurasi tulangan longitudinal 4D19 dan sengkang 2P12 – 150 mm, pada gedung ini juga menggunakan dimensi kolom K1 yaitu 600/600 mm serta pelat dengan ketebalan 110 mm dan sengkang P – 200 mm.
PERCEPATAN WAKTU DAN EFISIENSI BIAYA MENGGUNAKAN METODE FASTTRACK DAN CRASH PROGRAM (STUDI KASUS : PROYEK JALAN TOL CIAWI-SUKABUMI SEKSI 3) Agustin, Nur Shalfa; Nugraha, Wiratna Tri
JURNAL MOMEN TEKNIK SIPIL SURYAKANCANA Vol 8, No 02 (2025): JURNAL MOMEN VOL.08 NO.02 2025
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmts.v8i02.5819

Abstract

Proyek Pembangunan Jalan Tol Ciawi-Sukabumi Seksi 3 diambil untuk menjadi objek pada studi ini karena berdasarkan masalah yang terjadi pada proyek yaitu keterlambatan. Berdasarkan data sekunder yang didapat dari proyek yaitu Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Kurva-S digunakan sebagai durasi dan biaya normal proyek. Pada studi ini metode yang digunakan untuk melakukan percepatan adalah crash program dan fast track dengan tujuan untuk dapat mereduksi durasi dan mengetahui total biaya yang dibutuhkan agar proyek dapat mencapai target waktu rencana agar tidak mengalami keterlambatan kembali. Walaupun kedua metode ini secara jelas dapat mereduksi durasi pekerjaan proyek, tetapi penting juga untuk memperhatikan syarat-syarat dan ketentuan dari kedua metode tersebut serta bagaimana pengaruh yang diberikan dari penerapan kedua metode tersebut terhadap biaya pelaksanaan proyek. Hasil analisa yang melintasi lintasan kritis dimana secara jelas pada metode fast track durasi pekerjaan yang tereduksi 112 hari yaitu menjadi 767 hari dimana biaya proyek tereduksi sebesar 2,78% atau Rp 56.662.719.333 dengan biaya total proyek setelah fast track Rp 1.976.909.468.892, sedangkan metode crash program durasi pekerjaan tereduksi 99 hari yaitu menjadi 780 hari dengan biaya setelah crash program mengalami kenaikan 0,65% atau sebesar Rp 13.412.203.201 dengan biaya total setelah crash program Rp 2.046.984.391.426. Durasi normal yang seharusnya 879 hari dengan biaya total normal Rp 2.033.572.188.225. Penerapan metode fast track lebih tepat diterapkan untuk mengatasi keterlambatan proyek ini dengan beberapa pertimbangan. Namun, penerapannya lebih berisiko sebab keterlambatan pada satu pekerjaan yang berada di lintasan kritis dapat mempengaruhi aktivitas kritis lainnya, yang akhirnya berpotensi mengganggu keseluruhan jadwal proyek.