Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH SEKAM PADI PADA KECAMATAN MATTRIBULU KABUPATEN PINRANG Abdullahi, Alima B.; Mustaka, Zulfitriany D.; Juwita, A. Ita; Rusli, Arham; Dagong, Muhammad Ihsan A.
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2019): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 4 NO. 2 MEI 2019
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v4i2.7416

Abstract

Kecamatan Mattiro Bulu merupakan salah satu kecamatan dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Pinrang yang letaknya berada di bagian Barat wilayah Propinsi Sulawesi Selatan dengan jarak sekitar 182 Km arah Utara dari Kota Makassar, sedangkan Kecamatan Mattiro Bulu terletak sebelah Selatan ibukota Kabupaten Pinrang dengan jarak 8 Km dari kota Pinrang. Tujuan program ini adalah memfasilitasi kelompok mitra dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing usahanya melalui hilirisasi teknologi berbasis iptek yang telah dikembangkan di Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Produk Teknologi yang akan diimplementasikan ke masyarakat pada program ini adalah inovasi alat pembakaran sekam. Kegiatan dilaksanakan dengan membangung dua rumah pengolahan limbah sekam bakar di Desa Pananrang dan Kelurahan Padaidi. Hasil produksi kemudian dikemas secara komersil baik sebagai arang sekam maupun media tanam. Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan pada Program IbW Kecamatan Mattiro Bulu Tahun III, dapat disimpulkan antara lain: Masyarakat di tiga wilayah program sangat respon dengan adanya program Program IbW Kecamatan Mattiro Bulu Tahun III, serta telah mendiseminasi kegiatan ini ke masyarakat lain yang tidak sempat terlibat langsung pada beberapa kegiatan pelatihan yang dilaksanakan. Kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan potensi daerah dan kebutuhan masyarakat untuk mencapai kehidupan mandiri dan sejahtera. Kerjasama antara Pemda, tim pelaksana, dan masyarakat dalam semua kegiatan terjalin baik. Hal ini akan diperkuat dengan kesediaan Pemda dalam mengalokasikan dana pendamping untuk keberlanjutan program. Tahun pertama produksi sekam telah memenuhi pasar Makassar, Tahun II sudah mampu memandirikan petani akan kebutuhan arang sekam, dan Tahun III mampu membangun kemandirian dalam produksi hidroponik dengan bahan dasar arang sekam.Kata Kunci: teknologi, ipteks, produk, arang sekam, hidroponik, pasar.
IDENTIFIKASI PENYEBAB PENYAKIT BULAI PADA TANAMAN JAGUNG DI SULAWESI SELATAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN POLYMERASE CHAIN REACTION Thamrin, Adriati; Herman, Herman; Mustaka, Zulfitriany D.; Ibrahim, Helda
AGROTEK: Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 10, No 1 (2026): Maret
Publisher : Percetakan Umi Toaha Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/agrotek.v10i1.1168

Abstract

Downy mildew remains one of the major constraints in maize production in South Sulawesi and is commonly diagnosed based on visual symptoms in the field. This study aimed to identify the causal agent of downy mildew in maize using a molecular approach based on Polymerase Chain Reaction (PCR). Leaf samples showing downy mildew-like symptoms were collected from nine major maize-producing districts in South Sulawesi, namely Gowa, Jeneponto, Bone, Sidrap, Pinrang, Wajo, Enrekang, Sinjai, and Soppeng. Pathogen detection was performed using specific primers PpUF and PpUR targeting Peronosclerospora spp. The PCR results revealed that Peronosclerospora spp. was positively detected in most sampling locations, particularly in Gowa, Jeneponto, Bone, Sidrap, Pinrang, Wajo, Enrekang, and Soppeng. In contrast, samples from Sinjai showed negative PCR results despite exhibiting visual symptoms resembling downy mildew. These findings indicate that field symptoms do not always correspond to the actual presence of Peronosclerospora spp. at the molecular level. This study highlights the importance of molecular-based diagnosis in improving the accuracy of downy mildew identification and provides a scientific basis for more precise and evidence-based disease management strategies in maize cultivation.