Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Model Agroforestry yang Diterapkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Berbasis Agribisnis di Desa Ulusaddang Kabupaten Pinrang Saleh, Muh Ikmal; Ariandi, Rahmat
Jurnal Galung Tropika Vol 12 No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/jgt.v12i2.1091

Abstract

This study aimed to identify the Agroforestry model applied by the Agribusiness-based KTH in Ulusaddang Village, Pinrang District, South Sulawesi. Determination of the sample using the census method involving KTH, which represents the entire population, namely KTH Sipatuo and KTH Chulande Sipatuo. The results showed that the agroforestry models applied to each KTH were agro silviculture, agrosilvofishery, agro silvopasture, and monoculture (non-agroforestry). Several types of commodities and livestock that make up the agroforestry system are 1) Woody plants; sugar palm (Arenga pinnata), candlenut (Aleurites moluccanus), white teak (Gmelina arborea), mahogany (Swietenia macrophylla L), cinnamon (Cinnamomum verum), 2) seasonal plants; corn (Zea mays), banana (Musa paradisiaca L), avocado (Persea Americana), durian (Durio), cocoa (Theobroma cacao), robusta coffee (Coffea canephora), 3) animal feed; lamtoro (Leucaena leucocephala), gamal (Gliricidia sepium), 4) Livestock; Cattle (Bos taurus sp), and tilapia (Oreochromis niloticus).
PROFITABILITAS DAN KELAYAKAN USAHA CABAI KERITING DI DESA BALASSUKA KECAMATAN TOMBOLO PAO KABUPATEN GOWA Kaharuddin, Alfira Nurafni; Amruddin, Amruddin; Nadir, Nadir; Saleh, Muh Ikmal; Jumiati, Jumiati
Jurnal Sains Agribisnis Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jsa.v5i1.1862

Abstract

Produksi cabai keriting di Desa Balassuka belum optimal akibat berbagai faktor seperti metode budidaya yang kurang tepat, pemilihan benih yang tidak sesuai, penggunaan pupuk yang belum maksimal, serta pengelolaan tanaman yang belum efisien. Selain itu, sebagian besar petani belum mampu menghitung biaya operasional usahatani secara rinci.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya produksi dan keuntungan usahatani cabai keriting serta menilai kelayakannya untuk dikembangkan. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan memilih 35 petani berdasarkan strata luas lahan (0,24–1 hektar). Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data mencakup perhitungan penerimaan, profitabilitas, dan rasio kelayakan (R/C).Hasil penelitian menunjukkan biaya produksi rata-rata sebesar Rp 8.774.954 dan pendapatan sebesar Rp 52.075.714 per musim, dengan keuntungan 4,98% dan R/C ratio 5,98. Ini menunjukkan bahwa usahatani cabai keriting sangat layak untuk dikembangkan.Disarankan adanya penguatan akses permodalan melalui kredit usaha tani dari pemerintah daerah maupun lembaga keuangan guna memperluas skala usaha. Selain itu, penyuluhan yang rutin dan berkualitas sangat dibutuhkan, karena sebagian petani masih belum memahami teknik pengendalian hama, prediksi cuaca, dan fluktuasi harga secara optimal.
Risk Analysis of Costs and Income of Clove Farming in Balassuka Village, Tombolopao Subdistrict, Gowa District Ramadhani, Putri Amalia; Amruddin; Saleh, Muh Ikmal
Tarjih : Agribusiness Development Journal Vol. 5 No. 01 (2025): VOLUME 05, NOMOR 01, JUNI 2025
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47030/tadj.v5i01.902

Abstract

This study aims to determine the amount of production costs and income as well as the risk of costs and income of clove farming. This research was conducted in Balassuka Village, Tombolopao District, Gowa Regency for 2 months, namely in September - October 2024. This research method uses purposive sampling, which is a deliberate sample selection technique by taking 30 clove farmers in Balassuka Village, Tombolopao District, Gowa Regency. Data analysis techniques used are production cost analysis, revenue analysis, income analysis and coefficient of variation (CV) analysis.The results showed that: (1) Production costs that have been incurred by clove farmers during one harvest season amounted to Rp.209,993,332 with an average production cost of Rp.6,999,778, while the income earned by clove farmers amounted to Rp.835,806,668 / year with an average income earned by clove farmers is Rp. 27,860,222. (2) The risks faced by farmers in clove farming are cost risk and income risk. The Coefficient of Variation (CV) of the cost risk is obtained at 0.08 (0.08 < 1) while the Coefficient of Variation (CV) of the income risk is 0.05 (0.05 < 1). Then the results of these calculations indicate that the cost and income risks in clove farming borne by farmers are relatively low.
The Role of Agricultural Extension Workers in Empowering Farmer Groups Rifaldi, Muh Yusril; Akbar; Sahlan; Jumiati; Saleh, Muh Ikmal
JURNAL AGRIBISAINS Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal AgribiSains
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jagi.v11i2.21836

Abstract

The role of agricultural extension workers is crucial in the process of empowering farmer groups. In reality, the level of farmer participation and group independence remains low. This condition is caused by the lack of farmers’ trust in extension workers due to their limited direct involvement in agricultural field activities. This study aims to examine the role of agricultural extension agents in empowering farmer groups in Kajang District, Bulukumba Regency. Respondents were selected using a random sampling technique, with a total sample of 24 farmer group members. The data were analyzed using a quantitative descriptive method to identify and measure the level of extension agents’ roles based on predetermined indicators. The results reveal four main indicators of the extension agents’ roles: as educators, analyzers, consultants, and organizers. The role as educator obtained an average score of 2.16, the role as analyzer 2.28, the role as consultant 2.34, and the role as organizer 2.23. All these scores fall into the “moderately significant role” category. These findings indicate that the role of agricultural extension agents in empowering farmer groups in Tambangan Village still needs to be improved across all aspects. Extension agents are expected to be more active, innovative, and evenly involved in facilitating farmer group activities, including knowledge transfer, problem analysis, solution provision, and group organization. Optimizing these roles is expected to enhance the effectiveness of empowerment programs so that their benefits can be fully experienced by all group members. Therefore, strengthening the capacity of extension agents is a key factor in promoting the independence and sustainability of farmer groups in the study area.
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHA TERNAK SAPI BALI DI DESA POLEONRO KECAMATAN GILIRENG KABUPATEN WAJO Sulfikar, Muh; Mappa, Nurdin; Saleh, Muh Ikmal; Widiarti, Widiarti
Jurnal Sains Agribisnis Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jsa.v5i2.1867

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan usaha peternakan sapi Bali di Desa Poleonro, Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo. Masalah utama yang dihadapi peternak di daerah ini antara lain tingginya biaya operasional, keterbatasan akses terhadap pakan berkualitas, serta rendahnya pengetahuan dan keterampilan manajerial dalam pengelolaan ternak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis regresi linier berganda. Data dikumpulkan melalui survei dan wawancara terstruktur terhadap sejumlah peternak sapi Bali yang dipilih sebagai sampel penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa tiga variabel, yaitu biaya tenaga kerja, modal, dan pengalaman beternak, memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan peternak. Sementara itu, jumlah ternak, biaya pakan, biaya benih, dan harga obat-obatan tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,739 mengindikasikan bahwa 73,9% variasi pendapatan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel dalam model. Dalam praktik sehari-hari, modal yang mencukupi, pengalaman yang lebih lama dalam beternak, serta penggunaan tenaga kerja yang efisien terbukti dapat meningkatkan pendapatan peternak secara nyata. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kapasitas peternak dalam hal manajemen usaha ternak serta optimalisasi tenaga kerja merupakan kunci untuk meningkatkan pendapatan. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah dan pihak terkait memberikan dukungan melalui program pelatihan pengelolaan ternak, subsidi atau bantuan pakan berkualitas, serta akses terhadap teknologi peternakan yang efisien. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang mendukung peningkatan kesejahteraan peternak sapi Bali di daerah tersebut.