Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PERAN ORANG TUA DALAM MEMBENTUK AKHLAK KARIMAH ANAK PADA ERA DIGITAL DI DESA WAIHATU KECAMATAN KAIRATU BARAT Mega Arifatul Alfiah; Rustina N.; Moh. Rahanjamtel
Jurnal Studi Islam Vol 11, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/jsi.v11i2.3912

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran orang tua dalam membentuk akhlak karimah anak di Desa Waihatu Kecamatan Kairatu Barat Kabupaten Seram Bagian Barat pada era kemajuan teknologi digital; Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif  kualitatif. Subyek penelitian terdiri dari kedua orang tua dalam keluarga di Desa Waehatu dari kalangan pegawai, pedagang, dan peternak dari setiap kategori keluarga tersebut ditarik dua keluarga sebagai informan kunci dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.  Hasil penelitian bahwa orang tua di Desa Waehatu  berperan dengan baik dalam membentuk akhlak karimah anak, yakni ayah dan ibu atau suami dan istri sebagai pendidik dan pemimpin dalam keluarga telah mendididik dan mengarahkan anak mereka berakhlak karimah kepada Allah swt. dan kepada sesama manusia, yakni kedua orang tua. Akhlak Karimah anak di Desa Waehatu kepada Allah swt. yaitu melasankan shalat lima waktu baik di rumah atau di masjid secara berjamaah, ikut serta belajar mengaji dan belajar agama di Taman Pengajian Al-Quran, menghafal ayat al-Qur’an atau surah-surah pendek, taat dan patuh pada orang tua, serta bersikap sopan dan menyayangi orangtuanya dan saudara yang lebih muda. Walaupun dalam keseharian anak-anak di Desa Waehatu tidak dapat melepaskan diri dari bermain dan memakai gadged, yakni HP android yang memberikan dampak negatif pada akhlak dan sikap mereka pada orang tua yang terkadang mengabaikan panggilan atau perintah orang tua untuk segera melaksanakan shalat dan segang bersosialisasi. Peran orang tua sebagai pendidik dan pemimpin, yakni mengajarkan dan menjelaskan ajaran agama kepada anak, memerintahkan dan membiasakan shalat lima waktu, berpuasa dan berdoa, mengantarkan anak mengaji di TPQ, menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rasul, melakukan muroja’ah, dan menegur anak jika tidak shalat dan mengaji. Orang tua di Desa Waehatu mendidik anak dengan cara memberikan contoh tauladan tentang akhlak karimah dan membiasakan akhlak karimah kepada anak dalam kehidupan sehari-hari.The purpose of this study is to describe the morals of children in Waihatu Village, West Kairatu District, West Seram Regency in the current era of digital technology advancement. To analyze the role of parents in shaping the character of children in Waihatu Village, West Kairatu District, West Seram Regency in the current era of digital technology advancement. And to describe the inhibiting and supporting factors of the role of parents in educating children in Waihatu Village, West Kairatu District, West Seram Regency. This research uses qualitative research. The results follows: based on the results of interviews with respondents who are willing to be the object of research, it is known that the role of parents in shaping children's morals is 3 namely: aqidah, worship, and morals. Furthermore, parents educate children's morals by giving examples or examples of good morals to children, and parents also get used to good morals to children in daily life, then the role of parents is to strengthen and direct potential in children. By giving explanations about religion to children, taking children to the place of study, telling stories of the Prophets and Apostles, doing muroja'ah, and reprimanding children if they do not recite the Koran.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN INTELEKTUAL, KECERDASAN EMOSIONAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL PESERTA DIDIK Abdullah Abdullah; Muhajir Abd Rahman; Rustina N
Jurnal Studi Islam Vol 12, No 1 (2023): Juli 2023
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/jsi.v12i1.4480

Abstract

This study aims to describe and analyze the role of Islamic Religious Education teachers in improving the intellectual intelligence, emotional intelligence and spiritual intelligence of students at SD Negeri 1 and SD Negeri 2 Olas, Huamual District, West Seram Regency. This type of qualitative descriptive research, data collection techniques through observation, interviews and documentation, 6 research informants, 2 teachers and 4 students. Data analysis goes through the stages of data collection, data reduction, data display, data interpretation and drawing conclusions. The results of this study are the role of the Islamic Religious Education teacher in increasing the intellectual intelligence of students which includes planning learning tools, using appropriate methods, giving, evaluating. The role of the Islamic Religious Education teacher on emotional intelligence includes; Islamic Religious Education teachers are able to control students' emotions, train students to be confident through class discussion activities, train students to control their emotions by being social, care about students, help arouse students' enthusiasm for learning, train students to care about the environment. The role of Islamic Religious Education teachers in improving students' spiritual intelligence includes; cooperate with all teachers in the school, instill aqidah (belief) in students to carry out worship, get students used to being grateful for God's blessings, provide examples of discipline, get used to saying greetings, involve students in worship, and implement 5S (smile, greet, greet) , polite, and polite).Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan  spiritual  peserta  didik di SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Olas Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat. Tipe penelitian deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, Informan penelitian sebanyak 6 orang , 2 orang guru dan 4 orang peserta didik. Analisis data melaului tahap pengumpulan data, reduksi data, display data,  interpretasi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini  yaitu  peran guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kecerdasan intelektual peserta didik meliputi yakni membuat perencanaan perangkat pembelajaran,  menggunakan metode yang sesuai,  memberikan, melakukan evaluasi. Peran guru Pendidikan Agama Islam terhadap kecerdasan emosional meliputi;  Guru Pendidikan Agama Islam  mampu mengontrol emosi peserta didik, melatih peserta didik percaya diri melalui kegiatan diskusi kelas, melatih peserta didik mengontrol emosi dengan bersosial, peduli dengan peserta didik,  membantu membangkitkan semangat belajar peserta didik, melatih peserta didik peduli dengan lingkungan. Peran guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik meliputi;  bekerjasama dengan seluruh guru di sekolah, menanamkan aqidah (keyakinan) kepada peserta didik agar  melaksanakan ibadah,  membiasakan peserta didik mensyukuri nikmat Tuhan,  memberikan contoh tentang kedisiplinan, membiasakan mengucap salam,  melibatkan peserta didik dalam beribadah,  dan  menerapkan 5S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun).
Nilai Pendidikan Akidah Dalam Hadis Amal Jariyah (Studi Ma‘ān al-Ḥadīth dengan pendekatan Taḥlīlī) Rustina N; Muhammad Rahanjamtel; Muhajir Abd Rahman
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 03 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i03.5243

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguraikan makna hadis tiga amalan jariyah; untuk menganalisis secara mendalam nilai-nilai pendidikan akidah yang dikandungnya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka  dengan pendekatan kualitatif.  Data primer, berupa kitab-kitab pokok hadis, kitab biografi periwayat hadis, kitab syarah hadis. Data sekunder berupa buku, artikel serta literatur lain yang relevan, teknik analisis data digunakan content analisis, Hasil pembahasan:  1. Hadis ini berkualitas sahih, diriwayatkan oleh sahabat yaitu Abu Hurairah ra. periwayatan berkembang pada tingkat tabi‘ tabi’in menjadi delapan jalur periwayatan, diriwayatkan oleh enam imam hadis, yaitu Muslim, al-Tirmizi al-Nasa’i al-Darimi Ahmad ibn Hanbal, dan Abu Dawud. 2. Makna dan kandungan matan hadis bahwa terdapat tiga jenis amal jariyah, yaitu perbuatan, atau hasil karya yang memiliki nilai kekal abadi di sisi Allah swt. sehingga pelakunya memperoleh ganjaran pahala terus menerus baik semasa hidup maupun setelah meninggal dunia, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang terus menerus dirasakan manfaatnya dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya setelah mereka tiada; 3. Nilai pendidikan akidah yang terkandung dalam hadis, yaitu keimanan kepada Allah, keimanan kepada hari kiamat, keiminan kepada pahala dan siksa Allah, serta keadilanNya, keutamaan  amal  kebaikan, dan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Implementasi Materi Thaharah Dalam Membentuk Budaya Hidup Bersih Peserta Didik Di MTs Negeri 1 Maluku Tenggara Dan Mts Raudah Kota Tual Linda; N, Rustina; Abd Rahman, Muhajir
JURNAL PENDIDIKAN ISLAM AL-ILMI Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32529/al-ilmi.v7i2.3636

Abstract

Learning Islamic Religious Education Thaharah material at the MTs level is a concern in the formation of a daily clean living culture. The purpose of this study was to determine the implementation of Thaharah material in shaping the clean living culture of students at MTs Negeri 1, for qualitative descriptive research penis. Data collection techniques interviews, observation and documentation. The research findings are: (1) Learning thaharah material at MTsN 1 Malra and MTs Raudah Tual City has similarities and runs well and effectively. Teachers in both schools use the lecture and practice methods in explaining thaharah material. The lecture method is used to explain the basic concepts of thaharah, while practice is used to ensure students can directly practice the procedures for purification such as ablution and ghusl correctly. Both methods proved effective in delivering the thaharah material to the students; (2) The thaharah material had a positive effect on the cleanliness culture of the students in both schools, as reflected in the cleanliness of the school environment and the students' personal hygiene. During the observation, it was found that the students had clean clothes, neat haircuts, and clean nails, indicating that students' awareness to maintain cleanliness is not only triggered by the existing rules, but also by the religious values that have been internalized in them. Cleanliness has become part of students' character and personal identity, reflecting the strong influence of the thaharah material taught at school. Thus, it can be concluded that the thaharah material not only succeeds in teaching students the correct way to purify themselves, but also plays an important role in fostering awareness of the importance of cleanliness.
Hadis-Hadis Dalam Fatwa MUI Rajab, Rajab; Nurdin, Rustina; Rahman, Mustafa
Ihyaussunnah : Journal of Ulumul Hadith and Living Sunnah Vol 1 No 1 (2021): LIVING SUNNAH (June)
Publisher : Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.57 KB) | DOI: 10.24252/ihyaussunnah.v1i1.24491

Abstract

Artikel ini mengambil latar belakang fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari sisi penggunaan hadis sebagai landasan fatwam tujuannya untuk menguji keabsahan dalil hadis yang digunakan dalam fatwa-fatwa abtara kurun waktu 1975 sampai 2003. Hasilnya ditemukan bahwa terdapat beberapa kekurangan dalam pemanfaatan argumentasi dalil tersebut dari sisi ketidak akuratan dan penggunaan hadis daif dalam berhujjah. Itu sebabnya, fatwa MUI terkadang menjadi sebuah masalah yang diterima dan tidak kurang yang ditolak. Semoga keberadaan artikel ini dapat menguatkan MUI dalam menggunakan hadis sebagai hujjah dalam fatwa mereka.
Straightening the Understanding of the Text "Al-Nikāḥ Sunnatī, Fa Man Ragiba 'An Sunnatī Fa Laisa Minnī". Rajab, H; N, Rustina
Ihyaussunnah : Journal of Ulumul Hadith and Living Sunnah Vol 2 No 2 (2022): ULUMUL HADITH (December)
Publisher : Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.029 KB) | DOI: 10.24252/ihyaussunnah.v2i2.35302

Abstract

The misunderstanding of the text "al-nikāḥ sunnatī, fa man ragiba 'an sunnatī fa laisa minnī" is the starting point of this research. This text is claimed by many to be a hadith text, whereas there is not a single hadith text that contains this text in the same wording. In terms of understanding, the word "sunnah" in the text is usually understood in the sense of fiqh, if done gets a reward, if abandoned is not sinful, the text "fa man ragiba" is understood as who does not marry, and the text "fa laisa minnī" is understood as who does not marry has left Islam. This research is descriptive qualitative which relies on its data sources from written data (library research). The collected data is analyzed using the theory of naqd al-ḥadīth to determine whether the text is a hadith or not and determine its quality, while to understand the text, the theory of fiqh al-ḥadīth is used. The question to be answered is how the misunderstanding of the text "al-nikāḥ sunnatī, fa man ragiba 'an sunnatī fa laisa minnī". This study found that the text under study is not a hadith text, but a riwāyat bi al-ma'nā of another hadith text. The understanding that the law of marriage is sunnatī in the fiqh sense is erroneous, because the word sunnatī in the Hadīth text means the actions performed by the Prophet; the text "fa man ragiba" should be interpreted as rejecting marriage, because what is prohibited is the notion of al-tabattul and gamophobia; while "fa laisa minnī" means that the person who does not marry does not perform the actions performed by the Prophet, not that the person leaves Islam.
Ethical Governance in Public Service: A Comparative Study of Hadaya al-‘Ummal in Islamic Law and Gratification in Indonesian Law H, Rajab; Paee, Rokiah; Thalhah; Nurdin, Rustina
International Journal of Law and Society Vol 3 No 3 (2024): International Journal of Law and Society (IJLS)
Publisher : NAJAHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59683/ijls.v3i3.120

Abstract

Corruption continues to undermine governance, economic growth, and public trust in Indonesia. This study compares the Islamic concept of Hadaya al-’Ummal which strictly prohibits public officials from accepting any gifts that might compromise their integrity with the Indonesian legal framework on gratification, which permits gift acceptance provided that such benefits are reported within a specified period. Employing a qualitative comparative analysis grounded in Principal-Agent theory, the research examines five dimensions: the definition of gift-giving, the scope of recipients, legal sanctions, reporting mechanisms, and the handling of gifts. Data were collected from classical Islamic texts, legislative documents, and recent empirical studies to offer a comprehensive perspective on how ethical principles and legal measures interact in the context of corruption control. The findings reveal that Hadaya al-’Ummal offers a clear ethical guideline rooted in Islamic teachings, yet its informal enforcement limits its practicality in modern public institutions. In contrast, while the Indonesian legal framework provides explicit sanctions and formal reporting channels, its broad definitions and cultural nuances result in ambiguities and inconsistent application. High-profile cases have highlighted these challenges and underscored the need for clearer definitions and more effective oversight. The study argues that an integrated approach that refines legal definitions improves reporting systems and promotes comprehensive bureaucratic reforms while maintaining ethical accountability is essential to reduce corruption. These insights have important implications for developing anti-corruption strategies that enhance transparency, accountability, and ultimately, public trust.
Nilai Pendidikan Akidah Dalam Hadis Amal Jariyah (Studi Ma‘ān al-Ḥadīth dengan pendekatan Taḥlīlī) N, Rustina; Rahanjamtel, Muhammad; Abd Rahman, Muhajir
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 12 No. 03 (2023): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v12i03.5243

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguraikan makna hadis tiga amalan jariyah; untuk menganalisis secara mendalam nilai-nilai pendidikan akidah yang dikandungnya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka  dengan pendekatan kualitatif.  Data primer, berupa kitab-kitab pokok hadis, kitab biografi periwayat hadis, kitab syarah hadis. Data sekunder berupa buku, artikel serta literatur lain yang relevan, teknik analisis data digunakan content analisis, Hasil pembahasan:  1. Hadis ini berkualitas sahih, diriwayatkan oleh sahabat yaitu Abu Hurairah ra. periwayatan berkembang pada tingkat tabi‘ tabi’in menjadi delapan jalur periwayatan, diriwayatkan oleh enam imam hadis, yaitu Muslim, al-Tirmizi al-Nasa’i al-Darimi Ahmad ibn Hanbal, dan Abu Dawud. 2. Makna dan kandungan matan hadis bahwa terdapat tiga jenis amal jariyah, yaitu perbuatan, atau hasil karya yang memiliki nilai kekal abadi di sisi Allah swt. sehingga pelakunya memperoleh ganjaran pahala terus menerus baik semasa hidup maupun setelah meninggal dunia, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang terus menerus dirasakan manfaatnya dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya setelah mereka tiada; 3. Nilai pendidikan akidah yang terkandung dalam hadis, yaitu keimanan kepada Allah, keimanan kepada hari kiamat, keiminan kepada pahala dan siksa Allah, serta keadilanNya, keutamaan  amal  kebaikan, dan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan.