This Author published in this journals
All Journal Humaniora
Imran T. Abdullah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ASPEK INTERTEKSTUAL DALAM CERITA RAKYAT DATA: CERITA SI MISKIN DENGAN RAJA BAYAN" Imran T. Abdullah
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4481.821 KB) | DOI: 10.22146/jh.2081

Abstract

Cerita prose daJam tradisi sastra Aceh disebut haba (Arab: khabar). Haba dipandang sebagai jenis cerita yang tidak serius sebab biasanya disampaikan dalam suasana santai, sebagai cerita perintang waktu. Karena sifat penyampaiannya yang demikian, maka haba umumnya pendek-pendek dan hampir selalu merupakan cerita yang penuh dengan unsur-unsur kejenakaan. Haba selalu disampaikan secara lisan, dan diwarisi seeara turun temurun dari mulut ke mulut. Karya-karya haba dapat dikatakan tidak pernah diturunkan ke dalam bentuk tertulis. Naskah-naskah haba yang kini tersimpan di Universiteir Bibliotheek Leiden (UBL) bukanlah naskah budaya (naskah yang terpakai di dalam masyarakat), melainkan ditulis atas permintaan kolektor-kolektor Belanda pada masa itu. Naskah ditulis dalam huruf Jawoe (Melayu: Jaw ) dan Latin dengan memakai kertas folio bergaris yang bersih dari bekas-bekas keringat.
RESEPSI SASTRA: TEORI DAN PENERAPANNYA Imran T. Abdullah
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.25 KB) | DOI: 10.22146/jh.2094

Abstract

Sebenarnya istilah resepsi sastra atau disebut juga estetika resepsi sudah tidak asing lagi bagi telinga pengamat sastra Indonesia. Apalagi sejak tahun 80-an relah terbit dua buah buku penting yang membicarakan masalah ini terutama dari Prof. A. Teeuw (1984) dan Prof. Umar Junus (1985). Adanya tanggapan pembaca terhadap karya sastra sesungguhnya juga sudah berlangsung lama dalam kehidupan sastra baik lisan maupun tertulis. Pengamat sastra pun menyadari akan fungsi komunikasi sastra. Mukarovsky, misalnya,. sejak tahun 80-an telah membicarakan hal ini dalam sistem semiotiknya. Dikatakannya, karya sastra sebagai sistem tanda dibedakan dalam dua aspek, ialah penanda (signifiant) dan petanda (signifie ). Penanda merupakan artefak, struktur mati, petandalah yang menghubungkan artefak itu ke dalam kesadaran penyambut menjadi objek estetik (Fokkema, 1977:81). Dengan kata lain, karya sastra tidak dapat dipahami dan diteliti lepas dan konteks sosial.