Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Uji Metode Olsen dan Bray dalam Menganalisis Kandungan Fosfat Tersedia pada Tanah Sawah di Desa Konarom Barat Kecamatan Dumoga Utara Umaternate, Ghazaly R.; Abidjulu, Jemmy; Wuntu, Audy D.
Jurnal MIPA Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.1.2014.3898

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menentukan konsentrasi fosfat tersedia pada tanah sawah dan membandingkan dua metode ekstraksi fosfat, yaitu metode olsen yang menggunakan reagen NaHCO3 dan metode bray yang menggunakan reagen Bray dan Kurtz. Hasil ekstrak direaksikan dengan pereaksi pewarna fosfat bersama deret standar dan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 693 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak fosfat tersedia dari metode Olsen menunjukkan hasil konsentrasi yang tinggi berturut–turut 422,861; 771,614; 1389,464; 1607,386; 821,591; dan 1139,925 ppm, sedangkan metode Bray menunjukkan hasil yang lebih rendah berturut-turut 16,102; 13,899; 11,307; 7,181; 7,183; dan 9,073 ppm. Reagen NaHCO3 pada sampel menyebabkan pH naik sehingga banyak fosfat yang terlepas, sedangkan reagen Bray dan Kurtz menyebabkan pH turun dan lebih sedikit fosfat yang terlepas. pH sampel yang bersifat asam menyebabkan metode Bray lebih cocok untuk digunakan daripada metode Olsen karena metode Bray spesifik untuk tanah asam, sedangkan metode Olsen dapat digunakan untuk tanah asam dan basa.A study aimed to determine the concentration of phosphate available to the rice field soil and to compare the two methods of phosphate extraction, which are Olsen that uses NaHCO3 reagent and Bray that uses Bray and Kurtz reagents, had been done. The extract was reacted with phosphate coloring reagent and standards and the absorbance was measured using spectrophotometer at a wavelength of 693 nm. The results showed that the extract of phosphate available using Olsen method showed higher value of concentrations which were 422.861; 771.614; 1389.464; 1607.386; 821.591; and 1139.925 ppm. On the other hand, Bray method showed a lower value which were 16.102; 13.899; 11.307; 7.181; 7.183; and 9.073 ppm. NaHCO3 increased the pH and more phosphate was released, while the Bray and Kurtz reagent decreased the pH and less phosphate was released. Due to the lower pH of the sample, Bray method is more suitable for acidic soils rather than Olsen method because of its specificity for acidic soil, while the Olsen method can be used for acidic and alkaline soil.
Pengaruh Antibakteri Ekstrak Kulit Batang Matoa (Pometia pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus secara In vitro Ngajow, Mercy; Abidjulu, Jemmy; Kamu, Vanda S.
Jurnal MIPA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.2.2.2013.3121

Abstract

Telah dilakukan penelitian secara kualitatif terhadap pengaruh antibakteri dari ekstrak kulit batang matoa (Pometia pinnata. Spp.) terhadap bakteri Gram positif Staphylococcus aureus . Sebelum dilakukan uji antibakteri, sampel yang telah diekstrak secara maserasi diuji fitokimia terlebih dahulu untuk menentukan kandungan metabolit sekunder yang telah diketahui berperan sebagai agen antibakteri. Setelah dilakukan uji fitokimia, ekstrak diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan menggunakan teknik difusi agar dengan cara sumuran. Ekstrak dilarutkan pada aquades steril dengan perbandingan 2 g ekstrak pada 2 mL air. Untuk kontrol positif, digunakan ciprofloxacin dan aquades steril sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang matoa memiliki aktivitas antibakteri setelah diinkubasi selama 24 jam pada 37 OC. Dari 3 kali pengulangan dengan masing – masing 3 sumuran, didapat zona hambat masing – masing 16.84 mm, 12.5 mm dan 14.5 mm dengan kontrol positif 29.67 mm serta kontrol negatif 0 mm. Hasil yang diperoleh didukung oleh keberadaan metabolit sekunder hasil uji fitokimia yaitu tanin, flavonoid, terpenoid dan saponin.A qualitative study has done  of the antibacterial effect of matoa (Pometia pinnata) stem bark extract against Gram-positive bacteria Staphylococcus aureus . Before the antibacterial test , samples were extracted by maceration and then  phytochemical  tested to measuring the content of secondary metabolites  that have been known to act as an antibacterial agent . After being tested of phytochemical , extracts were tested the antibacterial effect  against Staphylococcus aureus using agar diffusion technique. Extract was dissolved in sterile distilled water with a ratio of 2 g of extract in 2 mL of water . For the positive control , use of ciprofloxacin and sterile distilled water as a negative control . Results of this study indicate that matoa bark extract has antibacterial effect after incubation for 24 h at 37OC . Of 3 times with each repetition - each 3 wells, the inhibition zone obtained - each 16.84 mm , 12.5 mm and 14.5 mm with 29.67 mm of positive control and a negative control by 0 mm . The results are supported by the presence of secondary metabolites by phytochemical test such as tannins , flavonoids , terpenoids and saponins.
Pemanfaatan Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val) Dalam Upaya Mempertahankan Mutu Ikan Layang (Decapterus sp) Pasaraeng, Erling; Abidjulu, Jemmy; Runtuwene, Max R. J.
Jurnal MIPA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.2.2.2013.1992

Abstract

Kunyit mengandung kurkumin dan minyak atsiri yang telah diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kunyit (Curcuma domestica Val) terhadap mutu ikan layang (Decapterus sp), melalui uji Total Volatile Base (TVB). Hasil perhitungan total nilai TVB untuk sampel ikan layang tanpa penambahan kunyit pada jam ke-6 adalah 92,4 mg N/100 g, untuk sampel ikan layang dengan penambahan kunyit 100 g adalah 37,8 mg N/100 g dan untuk sampel ikan dengan penambahan kunyit 200 g adalah 28,56 mg N/100 g. Hal ini menunjukan bahwa pemberian kunyit pada ikan layang mampu menghambat pertumbuhan bakteri sehingga dapat mempertahankan mutu ikan layang. Penambahan kunyit 200 g mempunyai nilai TVB paling rendah, artinya mempunyai daya penghambat yang lebih baik dari pada penambahan 100 g kunyit pada ikan layang.Turmeric contains curcumin and essential oil having antibacterial activity. This study was aimed to investigate the effect of turmeric (Curcuma domestica Val) on the quality of scad (Decapterus sp) using Total Volatile Base (TVB) test. The results showed that the TVB at hour 6 for scad samples without the addition of turmeric was 92.4 mg N/100 g, that for fish samples with the addition of 100 g turmeric was 37.8 mg N/100 g, and that for fish samples with the addition of 200 g turmeric was 28.56 mg N/100 g. This shows that administration of turmeric on scad could inhibit the growth of bacteria and maintain the quality of Decapterus sp. The addition of turmeric 200 g resulted in highest antibacterial activity reflected in the lowest value of TVB.
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Benalu Langsat (Dendrophthoe petandra (L) Miq) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) LC50 Wongkar, Jhon Smith; Runtuwene, Max R. J.; Abidjulu, Jemmy
Jurnal MIPA Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.2.2015.9132

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang toksisitas daun benalu langsat (Dendrophthoe petandra) dengan metode Brine Shrimp Letality Test (BSLT). Metode ini menggunakan etanol sebagai pelarut untuk mengekstrak daun benalu langsat dan udang Artemia salina sebagai organisme uji serta dilakukan pada suhu 25-30 0C. Sampel benalu langsat yang di uji didapatkan dari Desa Kali Selatan Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa Sulawesi utara. Penentuan toksisitas dari ekstrak etanol daun benalu langsat menggunakan konsentrasi 500, 100, 20, 10, dan 1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi yang diberikan maka sifat toksisitas ekstrak daun benalu langsat juga akan semakin besar dengan nilai LC50 sebesar 0,561.A research on toxicity of benalu langsat (Dendrophthoe petandra) leaf by using Brine Shrimp Letality Test (BSLT) method has been done. This method using ethanol as solvent to extract benalu langsat leaf and shrimp Artemia salina as experimental organism at 25-30 oC. Benalu langsat leaf was obtained from village South Kali district Pineleng, Minahasa North Sulawesi. Toxicity examination used 500, 100, 20, 10, dan 1 ppm ethanol extract of benalu langsat leaf. The results showed that the higher the concentration of the extract, the higher the toxic effect shown with LC50 value of 0.561.
Analisis Merkuri (Hg) dan Arsen (As) di Sedimen Sungai Ranoyapo Kecamatan Amurang Sulawesi Utara Kitong, Melin T.; Abidjulu, Jemmy; Koleangan, Harry S.
Jurnal MIPA Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.1.1.2012.425

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur konsentrasi merkuri dan arsen di sedimen Sungai Ranoyapo. Pengukuran konsentrasi total merkuri menggunakan Cold Vapor-Atomic Absorption Spectrometry (CV-AAS) sedangkan pengukuran konsentrasi total arsen menggunakan Atomic Absorption Spectrometry (AAS). Hasil yang diperoleh menunjukkan konsentrasi total merkuri di sedimen sungai yang diambil dari Desa Lompad, Desa Picuan, Desa karimbow I, Desa Karimbow II dan muara Sungai Ranoyapo berturut-turut yaitu 0,05 ppm, 0,05 ppm, 1,3 ppm, 0,18 ppm dan 0,05 ppm. Konsentrasi total arsen di sedimen sungai yang diambil dari Desa Lompad, Desa Picuan, Desa Karimbow I, Desa Karimbow II dan muara Sungai Ranoyapo berturut-turut yaitu 3 ppm, 2 ppm, 100 ppm, 2 ppm dan 1 ppm. Konsentrasi total merkuri dan arsen tertinggi adalah di Desa Karimbow I yang merupakan daerah pertambangan emas rakyat.
Kajian Toksisitas dari Fraksi Heksana, Etil Asetat, dan Etanol Daun Soyogik (Sauraia bracteosa DC) Mojo, Triyono; Abidjulu, Jemmy; Runtuwene, Max R. J.
Jurnal MIPA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.5.1.2016.11411

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai Kajian Toksisitas dari Fraksi Heksana, Etil Asetat dan Etanol Daun Soyogik (Saurauia bracteosa DC). Daun Soyogik dikeringanginkan sampai kering dan dimaserasi berturut-turut menggunakan pelarut heksana, etil asetat dan etanol. Uji toksisitas dilakukan  menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), kemudian diidentifikasi presentasi kematian larva udang menggunakan analisis probit (LC50). Hasil pengujian toksisitas menunjukkan nilai LC50 yaitu : fraksi  heksana (181,97), fraksi etil asetat (12,97) dan fraksi etanol (2,82).A research has been about Toxicity  of the Fraction Soyogik Leaves (Saurauia bracteosa DC) from Hexane, Ethyl Acetate and Ethanol. Soyogik leaves drying till dunes and maceratied successively using hexane, ethyl acetate and ethanol solvent. Toxicity tests performed using Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) methode. Toxicity testing showed the LC50 value is hexane fraction (181,97), ethyl acetate fraction (12,97) and fraction of ethanol (2,82).
Photodegradation of Remazol Yellow Using A-Type Zeolite/TiO2 Tumbel, Elsa D.; Wuntu, Audy D.; Abidjulu, Jemmy
Indonesian Journal of Chemical Research Vol 3 No 1 (2015): Edisi Bulan Juli (Edition For July)
Publisher : Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ijcr.2015.3-els

Abstract

The research aimed to study photodegradation of remazol yellow (RY) using TiO2-impregnated A-type zeolite (zeolite-A/TiO2) has been conducted. The materials having zeolite/TiO2 ratio of 1:0.2, 1:0.4, 1:0.6, 1:0.8, 1:1.0, 1:1.2, dan 1:1.4 g/g were used to degrade remazol yellow (RY) under ultraviolet irradiation for 3 hours and percentages of RY degraded were determined using spectrophotometer at 414 nm. Those with zeolite/TiO2 ratio of 1:0.2, 1:0.8, and 1:1.2 were used to study photodegradation kinetics at time range up to 3 hours. The results showed that the highest amount of RY degraded (82.17%) was attained by the use of material with zeolite/TiO2 ratio of 1:0.2. This material generated the highest value of rate constant (k=0.074 min-1), followed by those of 1:1.2 (0.045 min-1) and 1:0.8 (0.025 min-1).