Ly, Elsye Jasicha
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBANDINGAN KADAR GLUTATION TEREDUKSI (GSH) PADA KEHAMILAN NORMAL DAN KEHAMILAN PREEKLAMPSIA DI RSUD. PROF. DR. W.Z. JOHANNES KUPANG Ly, Elsye Jasicha; Amat, Anita Lidesna Shinta; Wungouw, Herman Pieter Louis
Cendana Medical Journal Vol 7 No 1 (2019): Cendana Medical Journal
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.436 KB) | DOI: 10.35508/cmj.v7i1.1497

Abstract

Angka Kematian Ibu di Indonesia mencapai 305 per 100.000KH dengan 25% dintaranya disebabkan oleh preeklampsia. Salah satu teori penyebab preeklampsia adalah stres oksdatif yang menyebabkan kerusakan sel endotel pembuluh darah. Stres oksidatif ditandai dengan peningkatan radikal bebas dan penurunan antioksidan. Glutation tereduksi (GSH) merupakan salah satu antioksidan endogen tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kadar GSH pada kehamilan normal dan kehamilan preeklampsia di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang Tahun 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah Observasional Analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan teknik consecutive sampling dengan hasil 30 sampel darah vena pada kehamilan normal dan 30 sampel darah vena pada kehamilan preeklampsia. Kadar GSH pada sampel darah diuji menggunakan Spektrofotometri. Hasil rerata dan median kadar GSH pada kehamilan preeklampsia lebih rendah dibandingan rerata dan median kadar GSH pada kehamilan normal. Pada kehamilan preeklampsia rerata kadar GSH yaitu 1,875 nmol/ml dengan median 1,2 nmol/ml lebih rendah dibandingkan pada kehamilan normal rerata kadar GSH yaitu 3,612 nmol/ml dengan median 1,8 nmol/ml Berdasarkan uji Mann Whitney didapatkan nilai p= 0,010 (<0,05) yang berarti terdapat perbedaan kadar GSH yang signifikan pada kehamilan normal dibandingkan dengan kehamilan preeklampsia. Kesimpulan dari penelitian ini kadar GSH pada kehamilan normal lebih tinggi daripada kehamilan preeklampsia.
Implantasi Lensa Intraokular Retropupilar Tipe Iris Claw pada Pasien dengan Dislokasi Lensa Intraokular Tahap Lanjut – Laporan Kasus: Laporan Kasus Ly, Elsye Jasicha; Faizal, Alif Reza
Cermin Dunia Kedokteran Vol 53 No 08 (2026): Agustus 2026
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v53i08.2118

Abstract

Introduction: Late intraocular lens dislocation is an uncommon complication of cataract surgery but still a serious condition. Surgical approaches to improve better vision is by repositioning the existing intraocular lens (IOL) or replacing with a new IOL by fixing it either to anterior chamber (ACIOL), to the scleral wall, or to the iris (iris claw). Case: A 53-year-old woman with blurry vision in the past 2 years with history of phacoemulsification cataract surgery on both eyes in 2008. The examination showed the patient's left eye had 20/400 vision with a posterior dislocated IOL in the anterior vitreous cavity within the pupillary area. Considering the possibility of subclinical damage from previous cataract surgery, the low Endothelial Cell Density and approximately 15% ruptured ciliary zonule, retropupillary iris claw was chosen as the surgical approach. The visual acuity improved to 20/40 at follow up one week later, and improved to 20/30 after one month, iris claw intraocular lens (ICIOL) was intact with no complications. Discussion: Late IOL dislocation is a rare but increasingly recognized late complication of cataract surgery, primarily resulting from progressive zonular weakness, with aging likely contributing in this patient. Successful management was achieved by exchanging the dislocated IOL with a retropupillary iris claw IOL, providing good visual recovery without major early postoperative complications. Conclusion: Replacing new IOL using retropupillary iris claw procedure as a less invasive and safe procedure can improve visual acuity with minimal complication.