Transformasi digital menuntut penguasaan berpikir komputasional (computational thinking/CT) sebagai fondasi utama pendidikan matematika. Namun, keterampilan penalaran logis siswa di Kabupaten Sumedang masih rendah karena pembelajaran belum mengoptimalkan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis profil awal kemampuan CT siswa pada aspek dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma, serta mengidentifikasi kebutuhan terhadap media interaktif berbasis Scratch. Menggunakan model pengembangan ADDIE yang dibatasi pada tahap analisis, penelitian ini melibatkan 32 siswa kelas VIII dan tiga guru matematika di sebuah SMP Negeri di Sumedang. Data dihimpun melalui tes CT, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Temuan menunjukkan kemampuan CT siswa masih rendah, terutama pada aspek abstraksi (18,98%) dan algoritma (16,01%). Hasil analisis kebutuhan menunjukkan tingkat urgensi yang sangat tinggi (83%) bagi pengembangan media berbasis Scratch terintegrasi kearifan lokal Sumedang sebagai sarana penguatan penalaran komputasional dan motivasi belajar siswa. Digital transformation necessitates the mastery of computational thinking (CT) as a fundamental pillar of mathematics education. However, students' logical reasoning skills in Sumedang Regency remain underdeveloped, largely because instructional methods have yet to optimize the use of local wisdom. This study aims to analyze the initial CT profiles of students, focusing on decomposition, pattern recognition, abstraction, and algorithms, and to identify the necessity for Scratch-based interactive learning media. Adopting the ADDIE development model, limited to the analysis phase, the study involved 32 eighth-grade students and three mathematics teachers at a public junior high school in Sumedang. Data were gathered through CT competency tests, questionnaires, interviews, and documentation. The findings reveal that students' CT skills are low, particularly in abstraction (18.98%) and algorithms (16.01%). Furthermore, the needs analysis indicates a high level of urgency (83%) for developing Scratch-based media integrated with Sumedang’s local wisdom as a cognitive tool to strengthen computational reasoning and enhance student motivation.