Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronik Dengan Modalitas Nebulizer Dan Terapi Latihan Di Rsud Paru Madiun Ma'arif, Ahmad Syarifuddin; Hamidah, Nurma Auliya; Nugraha, Dimas Arya
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience-Tropic) Vol 10 No 2 (2025): Januari 2025
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/ejbst.v10i2.610

Abstract

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah penyakit paru yang dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan adanya keterbatasan aliran udara yang masuk kedalam tubuh dan umumnya bersifat progresif, akibat dari paparan polusi udara dan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Penyakit paru kronis dapat ditandai dengan gejala pernapasan yang terus-menerus dan adanya hambatan aliran udara yang disebabkan oleh kelainan saluran napas atau alveolar sebagai respon inflamasi dari paparan partikel atau gas berbahaya. Penyakit ini merupakan gangguan yang mempengaruhi pola aliran udara dari dalam dan keluar paru. Penyakit ini merupakan penyakit yang tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di indonesia. Seseorang yang mempunyai riwayat penyakit ini ketika udara terasa dingin dan terkena debu, polusi atau seorang perokok. Untuk mengidentifikasi penatalaksanaan Fisioterapi pada kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronik, mengetahui dan menerapkan intervensi fisioterapi yang dapat digunakan pada kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronik menggunakan modalitas Nebulizer, Breathing Control, Pursed Lip Breathing, dan Batuk Efektif. Setelah dilakukan terapi selama 4x terapi didapatkan hasil Nilai Respiratory Rate dari T0 : 22x/menit menjadi T4 : 19x/menit, nilai SPO2 dari T0 : 96% menjadi T4 : 98%, nilai skala borg dari T0 : 2 , sesak nafas ringan mengalami penurunan menjadi T4 : 0, tidak ada sesak napas sama sekali, hasil derajat sesak yang awalnya T0 : mendapatkan nilai 3, sesak timbul saat berjalan 100 m menjadi T4 : 1, sesak timbul saat berjalan cepat, pengeluaran sputum dari T0 : 0 ml menjadi T4 : 5 ml, nilai antropometri titik Axila dari T0-T4 mengalami peningkatan yaitu 1 cm, Ics 4-5 dan Prosesus xipoideus dari T0-T4 memiliki perubahan yang sama yaitu mengalami kenaikan 0,5 cm. Nebulizer Untuk Mengencerkan Sputum Dan Meredakan Gejala Sesak Nafas, Breathing Control Untuk Meningkatkan Ekspansi Sangkar Thoraks dan memperbaiki bentuk dada, Pursed Lip Breathing Untuk Memperbaiki Respiratory Rate, Meningkatkan Saturasi Oksigen Dan Mengurangi Spasme, Batuk Efektif Untuk Mengeluarkan Sputum
PROGRAM FISIOTERAPI PADA KASUS CEREBAL PALSY SPASTIC HEMIPLEGI Hadi Nurcahyo, Azriel; Setiawan, Deny; Kurniawan, Bayu; Rosyida Maulidina, Diah; Tri Nurhayati, Yeni; Nugraha, Dimas Arya
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 4 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v4i1.25356

Abstract

Latar Belakang: Cerebral Palsy merupakan suatu penyakit kronik yang mengenai pusat pengendalian pergerakan dengan manifestasi klinis yang tampak pada beberapa tahun pertama dan secara umum tidak akan bertambah memburuk pada usia selanjutnya. Prevalensi di Jawa Timur yang terdiri dari (6,5%) pada usia 5-17 tahun, (2,5%) pad a usia 18-59 tahun dan (1,6%) pada usia lansia >60 tahun (Riskesdas, 2018). Pada Cerebral palsy Spastic Hemiplegi umumnya mengalami berbagai gangguan motorik dan sensorik seperti kelemahan otot, kelenturan, gerakan abnormal, disfungsi sensorik, dan anak-anak menunjukkan kecacatan pada sebagian ekstremitas baik kanan maupun kiri. Tujuan: Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui efektifitas metode Bobath pada anak dengan Cerebral palsy Spastic Hemiplegi. Metode: Artikel ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dan mengumpulkan data melalui proses Fisioterapi. Intervensi yang diberikan berupa metode Bobath. Hasil: Setelah dilakukan terapi sebanyak 4 kali terapi didapatkan hasil dari T1 sampai T4 dengan pengukuran GMFM diperoleh nilai 61,5% pada kemampuan fungsional dan spastisitas belum ada peningkatan yang signifikan. Kesimpulan: Belum ada peningkatan yang signifikan pada spastisitas dan kemampuan fungsional.
PROGRAM FISIOTERAPI PADA KASUS CEREBAL PALSY SPASTIC HEMIPLEGI Hadi Nurcahyo, Azriel; Setiawan, Deny; Kurniawan, Bayu; Rosyida Maulidina, Diah; Tri Nurhayati, Yeni; Nugraha, Dimas Arya
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 4 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v4i1.25356

Abstract

Latar Belakang: Cerebral Palsy merupakan suatu penyakit kronik yang mengenai pusat pengendalian pergerakan dengan manifestasi klinis yang tampak pada beberapa tahun pertama dan secara umum tidak akan bertambah memburuk pada usia selanjutnya. Prevalensi di Jawa Timur yang terdiri dari (6,5%) pada usia 5-17 tahun, (2,5%) pad a usia 18-59 tahun dan (1,6%) pada usia lansia >60 tahun (Riskesdas, 2018). Pada Cerebral palsy Spastic Hemiplegi umumnya mengalami berbagai gangguan motorik dan sensorik seperti kelemahan otot, kelenturan, gerakan abnormal, disfungsi sensorik, dan anak-anak menunjukkan kecacatan pada sebagian ekstremitas baik kanan maupun kiri. Tujuan: Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui efektifitas metode Bobath pada anak dengan Cerebral palsy Spastic Hemiplegi. Metode: Artikel ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dan mengumpulkan data melalui proses Fisioterapi. Intervensi yang diberikan berupa metode Bobath. Hasil: Setelah dilakukan terapi sebanyak 4 kali terapi didapatkan hasil dari T1 sampai T4 dengan pengukuran GMFM diperoleh nilai 61,5% pada kemampuan fungsional dan spastisitas belum ada peningkatan yang signifikan. Kesimpulan: Belum ada peningkatan yang signifikan pada spastisitas dan kemampuan fungsional.
Efektivitas Nebulizer, Breathing Control, dan Batuk Efektif Untuk Sesak Napas dan Aktivitas Fungsional Hamidah, Nurma Auliya; Presditia, Ika Mega; Nugraha, Dimas Arya
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 16 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v16i2.2246

Abstract

Tuberkulosis merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mikrobakterium tuberkulosis yang menyerang saluran pernapasan bagian bawah area bronkus hingga alveoli dengan penyebaran dalam bentuk percikan dahak ke udara melalui batuk. Indonesia menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus 969 ribu dan kematian 93 ribu per tahun setara dengan 11 kematian per jam. Gejala yang di temukan yaitu batuk berdahak, sesak napas, penurunan ekspansi sangkar thorak dan penurunan aktivitas fungsional. Penelitian ini merupakan studi kasus pada pasien TB paru di RS Umum Daerah Madiun. Instrumen penelitian menggunakan skala borg untuk menentukan skala derajat sesak napas, Mmrc untuk menentukan fungsional pasien dan pemeriksaan ekspansi sangkar thorak menggunakan midline. Diberikan penanganan fisioterapi berupa Nebulizer dengan frekuensi 3x sehari serta breathing control dan batuk efektif diberikan 2x sehari dengan intensitas 8-10 menit dalam 4 hari, didapatkan terjadi penurunan sesak napas 2 poin, peningkatan ekspansi sangkar thorak sampai 2 tingkatan dan peningkatan fungsional menjadi sesak timbul ketika berjalan cepat. Dapat disimpulkan pemberian Nebulizer, Breathing control, dan batuk efektif untuk menurunkan derajat sesak dan meningkatkan aktivitas fungsioanl pada pasien TB paru.
Kombinasi SWD, ES, Dan Five Finger Spread Exercise Untuk Mengurangi Nyeri Serta Meningkatkan Kekuatan Otot Pasien Post CVA Infark Nugraha, Dimas Arya; Kumalasari, Dewi Nur; Hamidah, Nurma Auliya
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 16 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v16i2.2247

Abstract

ABSTRAK Cerebrovascular Accident (CVA) didefinisikan sebagai gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis baik fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam atau dapat menimbulkan kematian disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak. CVA merupakan penyebab kecacatan nomor satu di dunia dan penyebab kematian nomor tiga di dunia. Berdasarkan penyebabnya CVA dibagi menjadi dua yaitu, CVA infark atau nonhemorrhagic dan CVA hemorrhagic. Studi kasus yang dilakukan saat ini dilaksanakan di salah satu Rumah sakit swasta di Lamongan terhadap pasien Tn. J berusia 50 th dengan diagnosa hemiplegia dextra post CVA infark dengan intervensi menggunakan Short wave diathermy (SWD), electrical stimulation (ES) dan five finger spread exercise. Setelah dilakukan 4 kali terapi, didapatkan hasil penuruan nyeri yang dibuktikan dengan skala VAS dan peningkatan kekuatan otot pada regio shoulder dan elbow dengan MMT (Manual Muscle Testing). Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Short wave diathermy (SWD), electrical stimulation (ES) dan five finger spread exercise dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan kekuatan otot pada pasien hemiplegia dextra post CVA infark.
Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Bells’s Palsy Dengan Menggunakan Modalitas Electrical Stimulation, Massage Dan Terapi Latihan di RS Muhammadiyah Lamongan Fajrunnajah, Amalya; Nugraha, Dimas Arya; Kurnianing Putri, Aulia
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 16 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v16i2.2300

Abstract

Latar belakang:  Bell’s palsy adalah kelemahan wajah yang unilateral yang timbul dengan cepat dan memiliki gejala yang sangat luas karena tingkat keterlibatan syaraf wajah yang bervariasi. Di Indonesia kejadian bell's palsy sekitar 40-70% dari seluruh kelumpuhan saraf fasialis perifer akut, prevalensi rata-rata berkisar 10-30% per 100.000 penduduk per tahun). Kelumpuhan saraf wajah perifer unilateral sangat membahayakan kualitas hidup pasien, menimbulkan konsekuensi psikologi, seperti rendahnya harga diri, isolasi sosial, kecemasan, dan depresi. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penetalaksanaan fisioterapi dalam meningkatkan kekuatan otot, dan mengembalikan aktivitas fungsional pada kasus bell’s palsy dengan menggunakan modalitas electrical stimulation, massage dan terapi latihan. Metode: Studi kasus ini dilakukan di Rs Muhammadiyah Lamongan terhadap pasien A berusia 47 tahun dengan diagnosa bell’s palsy dextra dengan menggunakan electrical stimulation, massage, terapi latihan Hasil: Setelah dilakukan 5 kali terapi, didapatkan hasil ada peningkatan fungsional menggunakan skala ugo fichs, dan hasil kekuatan otot menggunakan MMT (manual muscle testing). Kesimpulan: Electrikal stimulation, massage, terapi latihan dapat mengembalikan aktifitas fungsional pasien bell’s palsy dextra
Physiotherapy Management of Left Anterior Cruciate Ligament (ACL) Injury Using Electrical Stimulation and Exercise Therapy at ABR Physiotherapy Clinic, Bojonegoro Warda, Halim; Dimas Arya Nugraha; Diah Rosyida Maulidina
JURNAL KEPERAWATAN DAN FISIOTERAPI (JKF) Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Keperawatan dan Fisioterapi (JKF)
Publisher : Fakultas Keperawatan dan Fisioterapi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/489va465

Abstract

Anterior Cruciate Ligament (ACL) injuries are commonly caused by non-contact mechanisms related to muscle imbalance in supporting the knee, decreased flexibility, reduced muscle strength and endurance, poor joint coordination, and external pressure. ACL injuries can be treated operatively through reconstructive procedures. However, post-operative conditions following ACL reconstruction often lead to complications such as pain, inflammation, muscle atrophy, limited range of motion (ROM), and decreased lower limb muscle strength, which can delay functional recovery. Physiotherapy plays a crucial role in the rehabilitation process to restore knee function. This study aims to describe the physiotherapy management in post-operative ACL patients in reducing pain, improving muscle strength, enhancing joint range of motion, and increasing functional activity. The method used was a case study involving one post-operative ACL patient at ABR Physiotherapy Clinic in Bojonegoro who underwent therapy from January 6 to January 23, 2025. Interventions included Electrical Stimulation (ES) and therapeutic exercise, with data collected using the Numerical Rating Scale (NRS), Range of Motion (ROM), segmental circumference, Manual Muscle Testing (MMT), and the Lower Extremity Functional Scale (LEFS). The results showed a decrease in tenderness pain from a score of 2 to 0, motion pain from 2 to 0, an increase in knee flexion from 120° to 130°, extension from 10° to 5°, an improvement in muscle strength from 4 to 5 in the left knee, and an increase in functional activity score from 40 to 41. The conclusion of this study is that Electrical Stimulation and therapeutic exercise are effective in reducing pain, improving range of motion, enhancing muscle strength, and increasing functional activity in post-operative ACL patients.