Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SIMULASI KESIAPSIAGAAN BENCANA GEMPA BUMI DALAM UPAYA MENGURANGI RESIKO BENCANA DI SD MUHAMMADIYAH 2 PALU Muhammad Yusuf Amir; Sulfiati Sulfiati; Wahiduddin Basry
Siimo Engineering Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31934/siimo.v1i1.151

Abstract

     Kejadian Gempa yang tidak dapat diprediksi waktu dan lokasinya sangat berpotensi melanda wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi, salah satunya adalah Pulau Sulawesi karena terletak di antara tiga lempeng dengan beberapa sesar salah satunya Sesar Palu Koro yang melintasi Kota Palu dan berdasarkan peta Zonasi Gempa tahun 2010 termasuk dalam wilayah yang dengan magnitude maksimum 7,9 SR (skala Richter). Oleh karena itu masyarakat khususnya anak -anak perlu disiagakan untuk menghadapi bencana tersebut, melalui pelatihan simulasi kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana Gempa Bumi. Untuk anak – anak materi dan pelatihan simulasi yang paling efektif dilakukan dengan memutar film atau video dalam bentuk animasi, dan gambar pengetahuan serta melibatkan pihak sekolah dalam pelaksanaan.     Simulasi kesiapsiagaan bencana gempa dilaksanakan pada tanggal 19 sampai 21 November 2016  bermitra dengan SD Muhammadiyah 2 Palu. Pelaksanaan simulasi melibatkan 32 Siswa / Siswi dan 9 dewan guru SD Muhammadiyah 2 Palu. Metode simulasi yang digunakan untuk hari : Pertama, Pemberian materi pengetahuan dasar dalam bentuk animasi,video dan gambar pengetahuan agar pihak sekolah mitra lebih memahami apa itu gempa, mekanisme gempa, mengapa terjadi dan bagaimana kejadiannya; Kedua, Pemberian materi pengetahuan dalam bentuk animasi, video dan gambar tentang tata cara dan prosedur kesiapsiagaan menghadapi bencana sebelum, saat terjadi dan setelah kejadian gempa bumi; dan Ketiga, Pelatihan Simulasi Kesiapsiagaan bagi sekolah yang menjadi mitra tentang tata cara dan prosedur kesiapsiagaan menghadapi bencana sebelum, saat terjadi dan setelah kejadian gempa bumi yang dilakukan sampai 5 (lima) kali sehingga pihak sekolah benar – benar memahami tata cara dan prosedur kesiapsiagaaan.Kata kunci : Sekolah Dasar (SD), Siaga Bencana, Gempa Bumi
ANALISIS PERILAKU STRUKTUR GEDUNG KANTOR DENGAN METODE RESPON SPEKTRUM STUDI KASUS: KANTOR BPKAD PROVINSI SULAWESI TENGAH M. Zain, Arzal; Wahiduddin Basry; Eko Widodo; Fadli
Surya Teknika Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Surya Teknika Volume 2 Nomor 2 2025
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31934/jst.v2i1.7877

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara kategori rawan gempa bumi, khususnya di daerah Kota Palu pada tahun 2018 silam mengalami bencana gempa bumi yang sangat dahsyat, diakibatkan adanya patahan sesar palu koro, sehingga mengakibatkan korban jiwa. hal itu karena berdekatan dengan tiga lempeng tektonik yang setiap saat dapat saling bertubrukan sehingga menghasilkan gempa tektonik. Dengan adanya kejadian gempa di Indonesia, maka dari itu diperlukan pengembangan analisis gempa terhadap struktur bangunan. Analisis respon spektrum merupakan salah satu metode yang digunakan dengan cara menganalisa hubungan antara periode struktur bangunan dengan nilai percepatan bangunan ketika terjadinya suatu gempa bumi. Penelitian ini menggunakan objek Gedung Kantor BPKAD Provinsi Sulawesi Tengah, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keamanan dari suatu gedung akibat beban gempa menurut SNI 1726-2019 yang menggunakan program SAP2000. Berdasarkan hasil analisis Gedung Kantor BPKAD Provinsi Sulawesi Tengah simpangan antar lantai dan gaya geser dasar berdasarkan analisis respon spektrum yaitu simpangan antar lantai yang terjadi pada struktur gedung lebih kecil dari pada simpangan antar lantai yang diizinkan. Adapun gaya geser yang terjadi pada struktur pada Gedung A arah X sebesar 795,684 kN dan pada arah Y sebesar 795,761 kN sedangkan Gedung B arah X sebesar 1280,082 kN dan pada arah Y sebesar 1280,235 kN, oleh karena itu struktur bangunan dinilai layak.
Pengaruh Jenis Sambungan Jari dan Sambungan Miring pada Balok Laminasi Galar Bambu Petung Terhadap Keruntuhan Geser Wahiduddin Basry; Atur P. N. Siregar; I Gusti Made Oka
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.298

Abstract

ABSTRAKKebutuhan kayu sebagai bahan konstruksi yang semakin meningkat tidak seimbang dengan ketersediaan bahan baku kayu yang memadai, sehingga pemanfaatan bambu sebagai alternatif harus lebih dioptimalkan. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan bambu yaitu dengan teknik laminasi, sehingga dengan dapat diperoleh balok sesuai dengan dimensi yang diinginkan. Akan tetapi penggunaan sambungan sulit dihindarkan pada struktur bentang panjang sehingga diperlukan jenis sambungan yang paling optimum antara sambungan jari (finger joint) dengan sambungan miring (scarf joint). Bambu yang digunakan adalah bambu petung yang dibentuk galar. Benda uji terdiri 3 variasi meliputi balok tanpa sambungan dari bahan galar (BLP-G), balok dengan sambungan jari (BLP-GJ), serta balok dengan sambungan miring (BLP-GM). Aplikasi sambungan pada balok laminasi memberikan pengaruh terhadap penurunan kekuatan balok. Penurunan kekuatan balok masing-masing sebesar 17,863% untuk sambungan jari (BLP-GJ), 66,119% untuk sambungan miring (BLP-GM). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa balok BLP-GJ memiliki kekuatan dalam memikul beban yang lebih tinggi dibandingkan balok BLP-GM. Hal ini disebabkan aplikasi sambungan jari memiliki sifat saling mengunci dibanding sambungan miring yang memiliki kekuatan pada bidang perekat dan kemiringan sambungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aplikasi sambungan jari lebih kuat dibanding sambungan miring untuk aplikasi sambungan pada balok laminasi.Kata kunci: balok laminasi bambu, finger joint, scarf joint ABSTRACKThe utilization of wood as a building material has indicated an increasing whether of structural and nonstructural elements. The necessity of wood could not be fulfilled due to the lack of wood with a large diameter. On the other hand, the utilization of bamboo has not been optimal so far because of its short durability of bamboo and the limited dimension of bamboo. The problem can be solved by laminating and joining. The research was conducted to optimize the joint type of finger joint and scarf joint. The bamboo used in this research was bamboo Petung (Dendrocalamus asper). Specimens of laminated beams were made in 3 variations. Beams were made without joint (BLP-G), beams with finger joint (BLP-GJ), and beams with scarf joint (BLP-GM). Each variation consists of 3 samples. Application joint at laminated beam influenced degradation of the strength of the laminated beam. The strength of beam degradation is 17,863 % (BLP-GJ), and 66,119 % (BLP-GM). The result of the experiment showed that BLP-GJ beams were stronger than BLP-GM beams because the application finger joint had better interlocking than the scarf joint. Based on the experimental result, it could be concluded that the application finger joint was stronger than the scarf joint.Keywords: bamboo laminated beam, finger joint, scarf joint