Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TINGKAT KEMAMPUAN BAHASA INGGRIS DOSEN TETAP PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN SKOR TOEFL; STUDI KASUS DI UNIVERSITAS AL-GHIFARI BANDUNG Hartono Hartono; R. Myrna Nur Sakinah; Ria Nirwana
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 18, No 2 (2021): Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v18i2.14974

Abstract

Penelitian ini mempunyai tujuan utama untuk mengetahui tingkat kemampuan Bahasa inggris para dosen tetap di Jawa Barat khususnya di Universitas Alghifari. Universitas Al-Ghifari adalah salah satu perguruan tinggi yang berlokasi di Jln.Cisaranten Kulon no.140 Bandung, JawaBarat. Berdasarkan Data kepegawaian, Universitas Al-ghifari memiliki 63 Dosen tetap yang tentu saja  mempunyai kemampuan Bahasa inggris yang berbeda-beda. Dengan adanya penelitian ini diharapkan nantinya akan terpetakan secara detail tingkat kemampuan Bahasa inggris dari skor  TOEFL yang di hasilkan masing-masing dosen tetap maupun kemampuan secara keseluruhan dosen tetap dengan cara diambil rata-rata. Dalam mengklasifikasikan tingkat atau level kemampuan tersebut peneliti akan berlandaskan pada tingkatan kemampuan  dari CEFR ( Common European Framework of Reference for Languages) yang dikeluarkan oleh ETS (Educational Testing System). Metode yang digunakan adalah metode penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sedangkan metode pengambilan data berupa test TOEFL peneliti menggunakan aplikasi google form quiz. Pengolahan menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu dengan statistik deskriptif yaitu mengelola, meringkas dan menggambarkan hasil penelitian. Selain itu dengan statistic deskriptif ditujukan untuk mengetahui rata-rata hasil skor TOEFL sehingga akan diketahui gambaran jelas tentang tingkat kemampuan Bahasa inggris para dosen tetap Universitas Al-ghifari.  Hasil penelitian kami sajikan per fakultas, dan hasilnya adalah sebagai berikut: Fakultas Sastra rata-rata skor adalah 564 level B2 atau Upper Intermediate, Fakultas Ekonomi rata-rata skor adalah 468 level B1 atau intermediate, Fakultas ISIP rata-rata skor adalah 437 level A2  atau elementary, Fakultas MIPA rata-rata skor 491 level B1 atau intermediate dan Fakultas TEKPER rata-rata skor 464 level B1 atau Intermediate. TINGKAT KEMAMPUAN BAHASA INGGRIS DOSEN TETAP PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN SKOR TOEFL; STUDI KASUS DI UNIVERSITAS AL-GHIFARI BANDUNG
Melampaui transmisi pesan: rekonstruksi konsep komunikasi rasa melalui blending mikrokosmos–makrokosmos Qoriah, Desi; Ramdani, Wilman; Nirwana, Ria
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 12 No 1 (2026): April 2026 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitian
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jk.v12i1.43538

Abstract

Abstract  Dominant communication paradigms in communication studies continue to rely on message transmission models that emphasize the delivery of information from sender to receiver. Such paradigms reveal significant limitations in explaining non-verbal communication, affectivebased communication, and communicative relations between humans and the universe. This study aims to reconstruct the concept of communication by examining blending practices within the Lanthera Bandung community, positioning blending as a communicative process rather than merely a spiritual ritual or subjective experience. This research employs a qualitative approach using communication ethnolinguistic perspective, involving participant observation, in-depth interviews, and documentation of blending practices. Peircean semiotics is applied as the analytical framework to interpret feelings, bodily sensations, and natural phenomena as communicative signs operating within an arena of semiosis. The findings indicate that meaning in blending practices does not emerge through verbal message transmission but through interpretative processes of signs that are pre-linguistic, embodied, and relational between the human microcosm and the natural macrocosm. Blending functions as a communicative space where sensations, the body, and nature resonate to produce collective meaning. This study contributes to communication scholarship by proposing an affective semiotic perspective that extends beyond classical transmission models and offers an alternative conceptual framework for understanding non-verbal and human–nature communication in contemporary communication studies. Keywords: Affective communication; communication ethnolinguistics; peircean semiotics; blending practice; microcosm–macrocosm.   Abstrak  Paradigma komunikasi dominan dalam studi komunikasi masih bertumpu pada model transmisi pesan yang menekankan pengiriman informasi dari pengirim ke penerima. Paradigma ini terbukti memiliki keterbatasan dalam menjelaskan praktik komunikasi nonverbal, komunikasi berbasis rasa, serta relasi komunikatif antara manusia dan alam semesta. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep komunikasi melalui kajian praktik blending pada komunitas Lanthera Bandung dengan memosisikan blending sebagai proses komunikasi, bukan semata ritual spiritual atau pengalaman subjektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif etnolinguistik komunikasi, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap praktik blending yang dijalankan komunitas. Kerangka analisis menggunakan semiotika Peirce untuk membaca rasa, sensasi tubuh, dan fenomena alam sebagai tanda-tanda komunikasi yang beroperasi dalam arena semiosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna dalam praktik blending tidak lahir melalui transmisi pesan verbal, melainkan melalui proses interpretasi tanda yang bersifat pralinguistik, embodied, dan relasional antara mikrokosmos manusia dan makrokosmos alam. Blending berfungsi sebagai ruang komunikasi di mana rasa, tubuh, dan alam saling beresonansi membentuk pemaknaan kolektif. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan perspektif komunikasi berbasis semiosis rasa yang memperluas batasan teori komunikasi klasik, sekaligus menawarkan kerangka konseptual alternatif untuk memahami komunikasi non-verbal dan komunikasi manusia–alam dalam kajian komunikasi kontemporer. Temuan ini memperkuat urgensi pembaruan paradigma dalam studi komunikasi Kata-kata kunci: Komunikasi rasa; etnolinguistik komunikasi; semiotika peirce; blending; mikrokosmos–makrokosmos.